hujanMenyerah bukanlah suatu jawaban

"Saya tak akan menyerah," ucap diri saya pada dua tahun tiga puluh empat hari yang lalu kepada diri saya sendiri, di tengah hujan yang sedang menderu.

Saya adalah seorang pemimpi, pemimpi yang selalu menaruh harap pada setiap tetes hujan yang turun membasahi dahan-dahan kering setiap musim hujan datang.

Saya adalah seorang pendusta, pendusta yang mendustakan kebahagiaan yang sebenarnya tak pernah saya dapatkan dari rasa cinta yang saya miliki.

Pagi ini hujan turun, membawa sejuk dalam keringnya harapan, menggugah suasana sendu pada hari yang cukup pilu.

"Kamu harus berhenti sekarang, ini begitu menyakitkan," ucap seorang kawan beberapa hari yang lalu yang membuat saya terpicu.

Saya tahu ini menyakitkan memang, melacurkan diri dengan perasaan mencinta kepada seorang dewi yang maha sempurna. Mempertaruhkan segalanya demi sang pujangga.

“Saya pernah berjuang selama dua tahun tiga puluh empat hari lamanya, lantas mengapa saya tidak bisa jika menunggu sedikit lebih lama lagi?” Tanya saya dalam hati hari itu.

Katakan saya seorang yang hilang akalnya, seorang yang menutup daun pintu rumahnya tanpa mempersilahkan tamu lain untuk bertamu yang bahkan untuk mengucap salam pun enggan. Hanya orang yang telah mencinta sebegitu dalamnya hingga ia berani mempertaruhkan segalanya. Bodoh memang.

“Tapi adakah orang yang jatuh cinta namun tidak bodoh?” Tanya saya mencoba untuk menghibur diri.

Tak terusa hujan pun turun semakin deras, airnya meresap ke dalam tanah sampai menyentuh ujung akar pohon-pohon yang mulai mongering di sana. Mengisi kekosongan yang telah lama terisi. Lalu dingin pun semakin menjadi, membuat secangkir Kopi yang sudah saya seduh sedari tadi akhirnya ikut menjadi dingin mengikuti alunan nyanyian sendu dari hujan yang membawa bulir-bulir rindu nan pilu.

"Bodoh! Mencintai seseorang bukan seperti ini caranya, kau membuat hatimu terpecah tak terkendali. Relakan, relakan ia yang tak mungkin pernah bisa bersamamu," ucap seorang teman saya yang lain kala itu.

Biarlah kawan, jika sakit ini adalah satu-satunya cara saya untuk bisa merasakan cinta darinya, maka ini adalah sakit terindah yang pernah saya alami. Maka ingatlah kata saya waktu itu, bahwa jika saya mencinta, maka mencintalah seluruh raga saya tanpa ada kurangnya sedikitpun.

Biarlah saya seperti ini, menelan durja setiap harinya, memaki diri setiap saat. Saya hanya butuh rumah untuk berpulang dan bukankah rumah adalah tempat terbaik untuk berpulang? Lalu, bagaimana saya dapat berpulang jika rumah yang saya tuju bukanlah rumah yang terbaik untuk diri saya sendiri?

Lantas, jika nestapa yang harus saya hadapi demi seorang Dewi seperti dia, maka biarlah datang seribu nestapa pada setiap musim yang silih berganti setiap waktunya kepada saya yang sudah hilang akal dan apabila butuh puluhan tahun hanya untuk menanti, maka saya akan merela jika malah seratus tahun yang harus saya lalui.

 

Komentar