perihal tanyaSelalu ada tanya di balik semuanya.

Pada malam itu kau bertanya padaku secara tiba-tiba, tentang bagaimana caranya aku dapat menyukai gadis sepertimu. Dengan tatapan tajam yang cukup membuat degup jantung semakin cepat, kau penasaran rupanya.

Tentu saja kau sudah tahu jawabnya.

Aku suka tatapan itu, tatapan tajam penuh arti yang menyimpan segala yang terjadi selama delapan belas tahun kau mulai bernafas di Bumi.

Aku suka caramu mengecup penuh makna bibirku, ketika kita berbicara tanpa suara tapi seakan-akan kita tahu makna dari segala sesuatu yang terjadi di dunia ini.

Senyum milikmu? Tak usah kau tanya untuk kesekian kalinya. Aku suka caramu tersenyum. Senyum yang berbicara dengan caranya sendiri. Ketika masalah terburuk datang, kau masih dapat tersenyum untuk menghibur jiwa ini dan bahkan seluruh Jagat Raya.

Jangan lupa tangan kecilmu yang begitu lembut, ketika kau mengusap air mata milikku yang jatuh dan ketika kau mengusap punggung polosku dengan sentuhan sehalus sutra. Aku suka caramu melakukannya, kau melenyapkan hitam dan kelabu dengan caramu yang sulit kulupakan.

Kau ingat? ketika waktu itu kau bertanya tentang pendapatku mengenai rambutmu yang akan kau potong? Aku suka rambutmu, terurai panjang dengan harum vitamin rambut yang Ibumu buat sendiri khusus untukmu. Terlebih, ketika kau memutuskan untuk menguncir rambutmu karena cuaca yang sedang tak bersahabat. Aku juga suka caramu menguncir rambutmu, terlihat anggun di mata Semesta dan seluruh isinya.

Tapi, apakah kau tahu? 

Apa yang paling aku benci dari dirimu?

Pernahkah kau ingin tahu jawabnya?

Aku benci dirimu, ketika aku tak dapat melihat lagi tatapan tajam penuh makna milikmu. Segalanya berubah dalam waktu yang singkat, matamu telah menutup jiwa yang ada di sana, tak mengizinkan aku untuk menengok ke dalamnya untuk melihat apa yang terjadi walau hanya sekali.

Aku benci saat itu, di mana bibir kita tak lagi bertemu untuk berbincang tanpa suara. Bibirmu tertutup rapat, bahkan ketika kita tak lagi bersanding satu sama lain.

Senyum itu? Tak lagi terlihat semenjak pertemuan terakhir kita. Senyum yang mampu menenangkan seluruh jagat raya, kini harus benar-benar pergi menghilang seperti halnya kenangan-kenangan yang memang seharusnya sudah pergi.

Kini tak ada lagi yang mampu memberikan ketenangan dalam sentuhan selembut sutra, tak ada jemari kecil milikmu yang membantuku memikul segalanya. Sentuhan itu telah lama hilang, dan bahkan aku sendiri sudah lupa seperti apa rasanya. 

Rambutmu? Harum rambutmu juga sudah tiada, terhitung dari kau memutuskan untuk tak lagi memakai vitamin untuk rambut yang dibuat oleh ibumu. Kini aku tahu kenapa kau tak lagi menggunakannya. Kau berusaha untuk menghilangkan jejak.

Apa ini salahku?

Apa ini salahmu?

Jika ini salahku, mohon jelaskan bagaimana bisa aku mencintai segala hal tentang dirimu yang begitu istimewa. Bahkan, para Dewa pun tahu kau adalah orang yang sangat istimewa. Salahku? Ketika aku terlalu banyak mencintai dirimu? 

Andai, aku tahu rasa pahitnya sedari dulu. Aku tak akan mencintaimu sedalam ini. 

Komentar