garis akhirPada akhirnya semua akan menyerah dan berakhir.

Dalam cerita yang saya torehkan dalam bait-bait sajak pada tiap malam kelam nan pekat. Tersirat sebuah makna yang begitu dalam, tentang durja yang kian merasuk menuju sanubari yang kian membuncak pada tiap-tiap harinya. Hingga hitam kuasa menyelimuti asa, raga sukma hilang ke nirwana.

Adalah saya yang pada tiap-tiap malamnya selalu berbagi keluh kesah pada dinding kamar yang datar dan pada langit-langit kamar yang selalu diam mematung mendengar sendu ataupun bahagia pada saat yang hampir bersamaan.

Adalah saya yang pada tiap-tiap sepertiga malamnya menyampaikan salam, maaf, dan juga rindu melalui doa-doa yang senantia mengalun tanpa henti teruntuk insan-insan yang begitu berarti di belaham bumi yang lain.

Adalah saya yang pada tiap-tiap malamnya menangisi kelam lampau yang kian larut hingga menjadi kalut. Sukma tertahan, memaku ia beringsut.

Adalah saya yang pada tiap-tiap malamnya merajut harap teruntuk segala durja dan duka yang membalut diri hingga lupa menapaki kenyataan.

Hingga pada akhirnya, malam ini, tertulislah suatu keinginan dalam benak yang sebelumnya tak pernah tersirat.

Hingga pada akhirnya, malam ini, turunlah air yang mengalir dari mata. Turunlah tangis tanpa tawa. Tanpa asa.

Saya hancur, sampai menjadi debu di dalam raga.

Saya hancur, sampai menjadi ragu akan adanya asa yang tak pernah datang bersua.

Matilah saya, ditelan kelam. Tak lagi hidup seperti sanubari yang penuh canda dan tawa selayaknya seorang pujangga yang hidup terkasihi oleh suka citanya.

Serupa seonggok daging tanpa nyawa, entah angan saya terbang menuju nirwana atau justru terbang entah ke mana.

Diam terlelap dalam hampa, kini suka berubah menjadi duka.

Salam untuk seluruh semesta yang karenanya, terkutuklah jiwa yang sekarang entah seperti apa rupanya.

Komentar