gnaur merah tak gentarKetika tekad sudah membulat, tiada asa yang mampu patah.

Seandainya Abraham tak pernah lahir, maka mungkin saja cinta kita berdua tak akan pernah menjadi serumit ini. Kecuali, jika kamu lebih memilih mempercayai apa yang dipercayai oleh Gautama dibandingkan mempercayai apa yang dikatakan oleh Matahari yang sungguh pelik. Mungkin ketika kamu lebih mempercayai apa kata Gautama akan membuat hubungan kita menjadi lebih baik atau justru sebaliknya. Setidaknya, kamu lebih mempunyai argumen yang filosofis ketimbang amarah milik Matahari yang mempunyai ratusan lidah pada mulutnya.

Muhammad juga tak pernah membenci Yudas, sayang. Ia penuh kasih. Ingin rasa mencintaimu dengan cara Muhammad mencintai Khadijah dan para pendampingnya atau mungkin mencintaimu selayaknya Rama kepada Dewi Sinta. Iya, cita-citaku hanyalah untuk mencintaimu.

Alangkah indah dunia fana ini apabila tak ada beda di dalam perbedaan. Setidaknya, itu yang aku percayai sewaktu cinta ini hanyalah sebesar biji Jagung. Ketika kita hanya masih memikirkan untuk makan di mana dan bukan memikirkan untuk menikah di mana.

Dahulu termenung adalah kawan ketika aku harus memikirkan akan meminangmu di bawah naungan kubah atau justru berdiri dengan harunya pada altar Gereja dalam suatu upacara pernikahan.

Dan sekarang aku mencintaimu tak mengenal Tuhanmu. Hanya jiwamu.

Aku memang mencintaimu tak seluas Samudra, melainkan sejauh pandanganmu terhadap Surgawi yang mungkin nyata. Aku mencintaimu selayaknya cerita kita yang sudah terjalin sedari lama, nyata adanya.

Aku mencintaimu semenjak kau berkata, "Biarlah aku mencintaimu tanpa harus mengubah apapun dan biarlah karena itu, kita akan ditempatkan pada Neraka yang sama—karena kita akan selalu bersama."

Komentar