bunga tidurApa guna untuk bahagia, jika harap pada angan tak sesuai realita?

Ada seorang perempuan yang tertidur dalam kegelisahan, kegelisahan tentang dirinya yang memiliki perasaan kepada seseorang yang sebenarnya tak terlalu jauh namun justru terlalu dekat. Sudah hampir dua tahun ia merasa gelisah, gelisah karena telah terlalu lama memendam duka.

Dalam mimpinya, ia bahagia. Hidup bersama sang pujaan, berdampingan merajut asa dan bahagia. Dalam mimpinya ia terlihat tenang, seakan-akan ia dan sang pujaan hati adalah dua insan yang paling bahagia di Bumi ini.

Namun, mimpi hanya akan tetap menjadi sebuah mimpi. Bunga tidur yang terkadang justru membuat kegelisahan antara duka dan nestapa semakin mendalam.

Paginya ia terbangun, tersadar dari sebuah fantasi yang tak terwujud dalam realita, ia semakin gelisah. 

Lagi-lagi, ia harus menghadapi sebuah kenyataan bahwa ia hanyalah seorang pengagum di balik bayang-bayang persahabatan. Ia menodai semuanya, menghancurkan segalanya yang seharusnya berjalan dengan baik, ia tak sanggup menahan sebuah dorongan dari emosi dan ego miliknya sendiri.

Ia jatuh, jatuh ke dalam lubang nan jauh tak berujung dengan dinding yang dipenuhi antara rasa cinta dan penyesalan yang begitu mendalam. Ia adalah seorang peringkuk di balik tawanya, berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sendiri.

 
Ia pun pernah berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia meminta kepada Semesta untuk tidak pernah dipertemukan, walau hanya sebatas untuk melihat. Ini menyiksa dirinya sendiri katanya, sebuah noda yang tertera antara mereka berdua yang disebabkan oleh dirinya sepihak. Ia tahu bahwa kegelisahan ini tak akan ada ujungnya, perasaan yang entah kapan akan berhenti datang menghampirinya. 

Dengan harapnya yang tak kunjung menjadi suatu perwujudan yang hakiki, ia mencoba berdamai dengan perasaannya setiap malam. Ia terus mencoba, meski ribuan siklus purnama harus ia lalui.

Komentar