namanya bintangNamanya Bintang, pelipur lara sang Kilara~

Berhubung sudah malam, aku ingin menceritakan tentang Bintang. Iya, namanya adalah Bintang. Entah kenapa sang Ayahanda memberi nama selayaknya benda terang di Angkasa. Jangan kaget jika kau mengetahui bahwa Angkasa adalah nama dari Adiknya seorang. Ibundanya bernama Wulan. Mungkin, keluarga Bintang adalah keluarga Astronom. Tapi aku rasa tidak karena Ayah Bintang bernama Sabar.

Namanya Bintang, selalu tidur pukul sepuluh malam tiap harinya. Kata Bintang, ia harus bekerja menjadi Bintang sungguhan bersama Angkasa dan Ibunya.

Ayahnya gemar untuk tidur larut malam, beliau selalu tidur larut malam karena harus sabar menunggu Bintang, Angkasa, dan Ibunya pulang. Iya, sesuai nama beliau guraunya.

Pernah suatu sore aku mendapati Bintang sedang memakai masker wajah. Ketika kutanya untuk apa, dia hanya menjawab, "Supaya cerah nanti malam."

Pernah juga aku diajaknya lari siang bolong, entah apa tujuannya yang pasti ia hanya berkata, "untuk cari keringat," dan benar adanya bahwa kita berdua sudah berkeringat.

Namanya Bintang, seorang pria yang selalu memintaku untuk jadi nelayan. Jangan tanya kenapa, dia pasti akan menjawab, "Agar kau tak bingung arah pulang!" Ada-ada saja, padahal di tahun ini kompas sudah bukan barang langka.

Sore ini aku kerumahnya, "Sang Induk" sedang memasak ular di dapur. Iya, Bintang menganggap bahwa Ibundanya di siang hari adalah seorang induk dari para predator kelaparan. Padahal, Ibunya hanya menggoreng Ikan Lele. Entah ini kurang ajar atau memang Bintang berjiwa humoris yang tinggi.

Sekarang sudah malam, Bintang sudah tidur sepertinya pun hampir seluruh keluarganya sudah terlelap kecuali sang Ayah.

Namun, ada yang berbeda tampaknya, Bintang tidak tidur. Pukul sebelas malam, ia mengirimiku sebuah ucapan ulang tahun yang isinya pun cukup menggelitik.

Katanya, "Kelana, selamat berulang tahun yang membosankan. Semoga panjang umur agar kita selalu dapat bertemu. Aku ingin menyayangimu, namun apa daya, Semesta telah memhadirkan Kilara."

Aku hanya termenung hingga esok hari, berandai-andai jika aku adalah seorang Kilara. Persis seperti yang dikehendaki oleh Semesta agar aku dapat bersama Bintang.

Komentar