header1 01Ketika semuanya berakhir dengan dusta~

Aku percaya, pada cinta yang sungguh indah. Aku percaya, bahwa kamu adalah puan yang mampu menafsirkan indahnya cinta

Aku jatuh cinta. Padamu. Pada tatapan teduh milikmu yang mampu menenangkan seluruh jagat raya. Tatap milikmu membawa teduh pun juga tenang.

Puan, kamu adalah jiwa yang aku pilih untuk memberikan gambaran akan indahnya cinta. Kamu adalah tempat yang pada akhirnya menjadi tempat untuk hatiku berlabuh.

Sempat khayal menjadi nyata dalam waktu yang relatif singkat. Kita berdua saling mencinta satu sama lain—setidaknya untuk jangka waktu satu tahun terakhir ini. Karena pada sore itu, ketika mentari bersiap untuk kembali menuju peraduannya. Pada ufuk barat langit Yogyakarta, kamu meneleponku, dari belahan bumi bagian Jakarta.

“Hallo?” ucapmu membuka percakapan.

“Hai, sayang! Gimana Jakarta?” tanyaku penuh antusias.

“Nggak gimana-gimana,” jawabnya singkat.

“Kok gitu jawabnya?” tanyaku heran kepadanya.

“Aku mau ngomong sesuatu, boleh?”

Batinku merasa ada yang janggal, “ada apa gerangan?”

“Iya boleh, dong! Masa pacar sendiri nggak dibolehin buat nanya hahahaha,” jawabku menahan rasa gundah.

“Aku bakal lanjut di Jakarta, minggu depan,” jawabnya singkat. Namun aku tahu, ada sebuah kebohongan di sana.

“Loh kok tiba-tiba?” tanyaku semakin gelisah.

“Semuanya di luar perkiraan. Udah dulu, ya!” jawabnya seraya memutus sambungan telepon dari sana.

Sore itu, tak lagi ada ucapan manis untuk mengakhiri percakapan seperti biasanya.

Sore itu, adalah sore terakhir aku mendengar kabarnya.

Setidaknya, selama satu minggu penuh ia tak memberiku kabar sama sekali. Hingga tepat satu minggu kemudian, setelah percakapan singkat itu, ia menemuiku. Pada pagi hari di kala sang fajar baru saja menyingsing, ia bertandang ke rumah membawa satu koper penuh berisi pakaian—sudah saatnya ia pergi, rupanya.

Tak banyak yang diucapkannya. Ia hanya meminta maaf lalu memberikan janji yang begitu manis kepadaku. Katanya, “Yogyakarta bukanlah alasanku untuk pulang. Yogyakarta hanyalah tempat untuk bersinggah. Namun kamu, kamu adalah alasanku untuk pulang. Kamu, adalah rumah untuk segala peraduan. Aku janji, aku akan pulang. Secepatnya,” namun aku tahu, itu adalah sebagian dari rangkaian dusta yang baru-baru ini dilakoninya.

Hingga, meleburlah segala janjinya, hilanglah segala ucapnya kala itu. Kita berdua larut pada dimensi masing-masing. Tak ada cinta setelahnya.

#RembulanPagi
Instagram: @dafaradityaa

Komentar