I watch this film to see the inside of Hanum’s mind and I am SHOOOOKKK.

Hai teman-teman.

By now, nama Hanum Rais mungkin bukan nama yang asing di telinga kalian. Kalau kalian nggak baca buku-bukunya atau nonton film dia sebelumnya (99 Cahaya di Langit Eropa, baik part one or part two), skandal Ratna Sarumpaet “aku-ternyata-nggak-digebukin-tapi-aku-operasi-plastik-dan-aku-membohongi-banyak-orang-termasuk-salah-satu-calon-presiden-Indonesia-dan-sekarang-aku-kena-batunya” membuat orang familiar dengan ibu yang juga berprofesi sebagai dokter gigi ini.

Agak tricky untuk ngebahas film "Hanum & Rangga: Faith in the City" tanpa ngebahas political leanings-nya si Mbak Hanum. Seperti yang kita ketahui, seperti umat Islam yang baik dan pro gerakan 212, Mbak Hanum lebih condong ke arah Prabowo. Ini mungkin kebetulan atau emang ironi terdahsyat, film "Hanum & Rangga: Faith in the City" rilis bersamaan dengan "A Man Called Ahok."

Tentu saja ini membuat suasana menjadi rumit. Karena banyak orang yang menganggap kedua film yang jelas-jelas dibikin untuk kepentingan materi jadi dirasa punya arti lebih. Dua kubu yang bertolak belakang ini akhirnya saling serang di sosial media atau pun di grup whatsapp keluarga. Termasuk juga Mbak Hanum yang menuduh bahwa film kompetitornya rame karena unsur-unsur lain yang nggak fair.

To be honest, I don’t give a shit about this movie like at all. Dari trailernya aja udah keliatan filmnya seperti apa. Tapi gegara keramaian itu dan terutama statement Mbak Hanum yang ini:

I feel like I should watch this movie.

Nggak kayak orang-orang yang suka nuduh tanpa membuktikan, gue jenis orang yang harus membuktikan dulu baru bisa menilai. Apalagi ketika lo liat betapa glowing-nya review film ini:

(ini poster gue temukan di Facebooknya Mbak Hanum)

Jelas-jelas gue terpukau.

Maka dari itu, hari Minggu dengan tanggal cantik 11/11/2018, gue menonton "Hanum & Rangga: Faith in the City" di TIM. And boy… I was wrong. "Hanum & Rangga: Faith in the City" nggak hanya lebih kocak dari apa yang gue liat di trailer tapi juga betapa kompleksnya karakter Hanum both in real life and in the film.

Of course, kalo kalian mengidolakan beliau, ada baiknya jangan baca tulisan ini. Buat yang pengen nonton filmnya dan nggak mau ter-spoil, gue juga sarankan mendingan bacanya nanti aja setelah nonton filmnya. Tulisan ini akan penuh spoiler dari awal film sampai film selesai. Jadi, kalau kalian masih ada yang komen, “Kok spoiler?”, jangan nuduh kalo gue nggak ngasih warning.

Oh ya, terakhir, karena dari awal alasan gue nonton film ini gara-gara komentarnya Mbak Hanum soal film sebelah yang bikin gue naikin alis, susah buat gue memisahkan antara menilai film ini dari pandangan gue terhadap political views dia. Tapi gue akan mencoba melakukannya seminimal mungkin.

Okay? Deal? Mari kita mulai.

Layar gelap.

Setelah dua trailer film MD Pictures, kita dikasih tahu bahwa kita sedang ada di New York.

It’s all so glorious.

Hanum dan Rangga tinggal di apartemen yang lumayan oke. Dan membuat gue takjub bahwa mereka sukses karena setau gue NYC adalah salah satu kota dengan living cost termahal.

Ditambah lagi dengan kemesraan mereka yang aduhai sekali.

Yang membuat gue kembali inget sama review ini:

Walopun tetap saja, penggambaran pacaran mereka sangat PG-13 ya. Nggak ada ciuman, grepe-grepe atau hohohihe yang gimana-gimana. Kontak fisiknya seplatonik gue sama temen-temen gue yang manggil “beb” all the time.

Kenapa ini penting? Karena bukankah ciuman, grepre-grepe dan hohohihe adalah yang dicari oleh para anggota Indonesia Tanpa Pacaran? Makanya kan mereka nikah. Karena mereka pengen halal. Seperti review yang gue quote di atas. Tapi ya nggak papa.

Mungkin niatnya baik. Bahwa memang… pacaran mereka terlalu hot sampe offscreen supaya penonton jomblo nggak iri ngeliat keindahan itu.

Film ini juga dibuka dengan tragedi 9/11 yang disyut dari kamera amatiran. Kesan real-nya dapet. Walopun ini membuat gue mengerang karena setelah 17 tahun tragedi tersebut berlalu dan Amerika mulai move on (karena mereka punya fokus lain yaitu Presiden Trump yang wanjingapaansihlobangxat), kita baru mulai ikutan join the conversation.

Kemudian ada Azima (Titi Kamal) dan anaknya Sarah yang berterima kasih sekali dengan jasa Hanum. Di sini cuman disebutkan bahwa gara-gara artikelnya Hanum yang hebat banget, Azima dan anaknya jadi diterima oleh masyarakat New York, yang setau gue berdasarkan Broad City dan Billy on the Street, dihuni oleh orang-orang paling bodo amatan sedunia. Kecuali kalo si Azima dan Sarah tinggal di daerah yang lebih konservatif kali ya… kayak Texas gitu.

Tapi ya udah. Nggak usah bahas political leanings setiap negara bagian Amerika karena film ini fokusnya bukan di sana. Dan dari dua menit yang gue tonton filmnya nggak ngejer believability-nya.

Anyway, si Hanum dan Rangga mau siap-siap ke Vienna. Karena si Rangga mau ngelarin PhD-nya di sana.

Rangga kuliah di mana?

Rangga bahas apa buat disertasinya?

Kenapa harus banget pindah ke Vienna? Apakah deadline-nya udah lewat? Apakah risetnya udah selesai?

Detail-detail kecil yang bikin ceritanya lebih believable ini ternyata nggak dibahas. Karena itu memang bukan fokus dari Hanum & Rangga: Faith in the City. Fokus film ini adalah Hanum. Hanum yang ngefans banget sama seorang jurnalis bernama Andy Cooper.

Andy Cooper diperankan oleh Arifin Putra. Dari cara dia ngomong lo tau bahwa dia adalah karakter antagonis.

Di sini ceritanya dia adalah seorang jurnalis yang sekarang jadi pemimpin sebuah stasiun TV bernama GNTV. Kenapa seorang pemimpin stasiun nampang di layar kaca juga pertanyaan gue.

Tentu saja betapa Hanum mengidolakan Andy Cooper membuat Rangga “agak” sedikit cemburu.

Rangga patut cemburu sama Andy Cooper karena later on, Andy Cooper bisa Bahasa Indonesia.

I know. Shocking right?

Kemudian Rangga ditelpon sama mantan bos? Mantan sugar daddy? Mantan pacar?

Nggak tau tapi yang jelas nih papah gula bernama Phillipus Brown. Dan dari suit dan big office yang ada di layar keliatannya dia wong sugih. Dan dia mengucapkan selamat jalan sama si Rangga dan Hanum. Kemudian dia ngomong pake Bahasa Indonesia.

Yang sekali lagi membuat gue bingung karena IVAN LANIN NGGAK PERNAH NGOMONG KALO BANYAK BULE AMERIKA BISA NGOMONG BAHASA INDONESIA DENGAN LANCAR TANPA AKSEN!

Kemudian, tepat sebelum mereka berangkat ke bandara. Ketika masih di depan rumah, datanglah si Sam (Alex Abbad).

Doski anak buahnya Andy Cooper. Dia dari GNTV. Dan dia nawarin Hanum magang.

Inget ya. MAGANG lho. MAGANG.

Dan gue mulai kagum betapa update-nya Sam dengan LinkedIn Hanum karena dia bisa tahu di mana rumah Hanum dan kapan dia mau meninggalkan negara tersebut. I mean, kenapa nggak lewat telpon aja?

Tapi mungkin alasannya supaya kita bisa ngeliat bahwa ini film pro-LGBT.

MENGEJUTKAN KAN?

Sam bahkan flirting dengan Rio Dewanto.

Which make sense karena he’s fucking Rio Dewanto.

Dan Sam kepanjangan dari Samantha.

There’s nothing wrong dengan Sam mengidentifikasikan dirinya sebagai Samantha cuman looks dia terlalu tame untuk ukuran Samantha.

And you know what, nggak ada satu momen pun di film ini di mana Sam goyang pake lagu Rihanna, mentioning Fenty Beauty atau tereak, “Yasss queeennn…” sambil snapping his finger di depan rumah Hanum. Bummer.

Tapi yaudah gapapa.

Kemudian si Sam ngasih info soal Andy Cooper pengen Hanum magang di GNTV. Hanum shock.

Gue lebih shock karena interview process-nya dilakukan via Skype.

Ya. Pake Skype.

Of course karena Hanum adalah Hanum adalah istri paling idaman, dia minta ijin dulu sama suaminya apakah dia bisa magang di GNTV. Rangga bilang nggak. Di saat itulah Sam nuduh bahwa Rangga adalah suami yang egois dan lain-lain. Rangga marah. Hanum sedih. Sam cabut kecewa.

Sementara itu Andy Cooper pundung.

Hanum: “Maaf, Gan, ane ga bisa nih.”

Andy Cooper: “Oyawda. Ga niat kamu emang di media.”

Me: Cieee ngambek.

Dan saat itulah, Rangga kemudian ngeliat Hanum so sad dan bilang, “Yaudah kita extend aja di sini tiga minggu.”

Hanum langsung gembira.

Yang membuatku sangat bingung karena:

  • Kalo Hanum adalah seorang profesional yang bisa bikin karakter Titi Kamal nangis darah karena skill jurnalismenya, kenapa dia mau-mau aja magang?

  • Magang macam apa cuman tiga minggu? Magang di Provoke! aja lebih dari tiga minggu.

 

Tapi ya sudahlah ya. Karena next scene-nya adalah Rangga dan Hanum diantar Sam ke apartemen mereka.

Ya. Nggak hanya Rangga dan Hanum dengan mudahnya batalin tiket mereka dari NYC ke Vienna, permagangan ini ternyata difasilitasi apartemen full furnished di MANHATTAN! Dan tetangganya adalah banyak orang Indonesianya.

Kurang bersyukur apa hidup lo? Orang sholeh memang ya rejekinya luar biasa.

Besoknya, si Hanum kerja dengan senyum membara. Kayak opening The Devil Wears Prada.

Betapa kerennya lho jadi jurnalis di NYC.

“Wow. Keren banget ini kantor.”

Dan dia langsung ketemu dengan Andy Cooper. Yang tentu saja langsung keliatan kayak penjahat.

“Gak boleh sebut nama Tuhan di sini,” katanya.

Kalo gue jadi Hanum ya, kalimat ini udah lebih dari cukup buat gue, “Bye Bitch.”

Seberapa keren idola lo, kalo dia ngehina something that you really believed in (dalam kasus Hanum adalah agama dan Tuhan), mendingan lo cabut aja nggak sih? Buat apa berurusan sama orang itu.

Kalo gue ketemu, katakanlah Aaron Sorkin dan dia ngata-ngatain gue soal feminism, gue akan tempeleng mukanya. Which nggak akan terjadi karena idola gue lebih keren dari idola Hanum di film ini.

Kemudian Andy Cooper bilang ke Hanum bahwa dia cuman punya satu Tuhan yaitu rating. Which membuat gue teringat sama Wishnutama entah kenapa.

Dan dia minta Hanum harus bisa bikin program TV yang ratingnya bisa tembus di angka 10.

Yang membuat gue kembali bingung karena:

 

  • Apakah cukup waktu tiga minggu buat bikin acara TV yang langsung bisa mendadak populer?

  • Apakah emang si Hanum sejago itu dia bisa adaptasi dari media cetak ke media elektronik secepat kilat?

  • Apakah normal bagi anak magang dapet beban segede itu?

 

Tapi yasudah. Namanya juga film reliji ya kan. Setiap obstacle kita anggap aja cobaan dari Tuhan.

Sementara itu, Rangga gabutism.

Sementara istrinya kerja, bukannya dia buka laptop dan ngelarin disertasinya atau baca buku, dia malah jalan-jalan dan ketemu (nggak sengaja) sama Azima.

=

I dunno about you, tapi ketemuan sama janda cantik ketika istri lo lagi sibuk kerja adalah resep untuk bencana.

Lengkap dengan adegan benerin keran.

Lengkap dengan dialog, “Kenapa sih laki-laki susah mengakui keunggulan wanita?”

Yang membuat gue pengen bilang, “Nggak kok. Kalo ibu-ibu aja bisa nipu satu negara dengan pura-pura digebukin padahal enggak, gue nggak pernah mengakui keunggulan wanita.”

Kemudian si Hanum dapet tugas buat wawancara seorang narasumber live.

Gue nggak tahu apakah si Mbak Hanum begitu cerdas atau jenius karena dia ternyata baru nanya atau baru tau tentang siapa yang dia interview dan topiknya apa ketika baru sampe ke lokasi interview.

Wartawan lain mungkin akan prepare di perjalanan atau baca brief ketika di kantor. Hanum nggak. Dan gue ngerasa relate soal ini karena gue kalo ujian juga pake teknik yang sama. Baru panik ketika mau ujian.

Dan di sana ternyata si Hanum… eng ing eng… dijebak!

Di sana Hanum dipaksa nanya-nanya ke si mbak arab (Alexandra Gottardo) yang suaminya sebenernya udah tewas tapi dirahasiain ke anaknya yang masih bocah dan dengan kocaknya si Sam dipaksa Andy Cooper untuk bilang ke si anak kecil kalo bapaknya udah meninggal. Nangislah si anak kecil ke ibunya. Ibunya juga nangis.

Dan karena ini acara live TV, semua orang nangis.

Rangga pun yang nonton di rumah terperangah.

Azima juga.

Dan beberapa extras yang sepertinya ngerti apa yang terjadi di layar…

…karena…

…semua interview

…dilakukan…

…dalam…

…Bahasa Indonesia…

I mean, lo punya stasiun TV yang headquarter-nya aja di Manhattan dan semua orang ngemeng Inggris dan lo bikin acara live TV pake Bahasa Indonesia. Kurang jenius apa?

Dan Mbak Hanum nggak pernah sekali pun heran dengan logic di sini.

Tentu saja si Hanum dan Rangga berantem. Kira-kira kayak begini:

Rangga: “Malu-maluin lo gilak.”

Hanum: “Paan deh. Nggak tau masalahnya juga.”

Rangga: “Tau gue. Kan gue nonton live.”

Hanum: “Kamu emang gak ngertiin aku.”

Kemudian Hanum storming out dan dia dihadang sama netizen yang kebetulan nonton acara Termehek Mehek versi NYC itu dan di-bully di tempat. Di sanalah si Rangga nyelametin Hanum dan Hanum pun bersyukur dia mempunyai Rangga di hatinya.

Dan gue bahkan belum mention soal betapa serunya kerja di GNTV karena begitu Hanum sampe kantor dan Andy Cooper bilang bahwa ratingnya nyampe angka 10, bonus langsung ditransfer ke rekening.

BETAPA INDAHNYA, KAK!

(Meanwhile, gue pernah kerja buat TV dan asal tau aja nih, ditransfernya baru tiga bulan kemudian)

Dan Hanum makin berusaha untuk bikin acara sendiri yang nggak menyakiti perasaan banyak Muslim yang lain. Yang membuatnya jarang ketemuan sama si Rangga.

Tiap kali dia pulang, Rangganya udah bobo.

Dan Rangganya makin sering hangout sama si janda dan anaknya.

Yang tentu saja bikin tetangga Hanum, yang ada di film ini tujuannya buat jadi kompor, ngegas ke telinga Hanum bahwa suaminya kalo ditinggal kelamaan akan selingkuh lho.

Kemudian montage proses kreatif Hanum yang sangat…

…gampang.

Karena setelah beberapa scene, dia tau apa yang mau dia bikin.

Dan tentu saja acara yang dibikin Hanum, semacam video viral yang to be honest sangat biasa aja, bikin Andy Cooper senang karena bisa ditonton 40 juta orang di Youtube.

Kesuksesan video itu bikin Andy Cooper minta Hanum buat jadi produser sekaligus presenter untuk acara peringatan 9/11 yang akan dilakukan beberapa hari lagi.

Mbak Hanum shock karena ini mendadak.

Penonton juga mulai bingung karena acara live kok mintanya kayak BM mau makan bubur ayam di Mangga Dua.

Dan Rangga liat Hanum berduaan sama Andy Cooper langsung cemburu berat.

Wajahnya mengatakan, “Jangan khianati kepercayaanku.”

Hanum yang selalu on point bilang ke Andy Cooper, “Gue tanya laki gue ya, cuy, soalnya gue kan di NYC cuman tiga minggu doang harusnya.”

Kemudian Andy Cooper ngata-ngatain Islam supaya penonton Islami dan Hanum marah.

Hanum membela suaminya kemudian dia ketemuan sama suaminya di jalan.

“Aku suami kamu. Aku nggak izinin kamu untuk ngerjain ini.”

Hanum marah karena dia ngerasa suaminya nggak tau passion dia apa.

Yang agak menyedihkan karena Rangga tuh cinta banget sama Hanum. Dia bahkan rela untuk ninggalin Hanum di NYC sendirian untuk mengejar passion-nya.

Nah, ternyata si Hanum diminta untuk bawa Azima dan si bapak bule yang ada hubungannya dengan Rangga di opening film yang bisa Bahasa Indonesia itu untuk jadi nara sumber di acara peringatan 9/11. Hanum nggak mau. Karena dia tau, kedua orang itu udah nggak mau waro sama si Andy Cooper.

Kemudian Hanum ditawari kontrak seumur hidup GNTV.

Kontrak. Seumur. Hidup.

Dan tentu saja Hanum sedih karena akan ditinggal oleh Rangga. Dan belum lagi dia berantem sama Rangga karena dia ngeliat Rangga sama Azima berduaan.

Rangga yang udah tau dia kalah, memutuskan untuk ke Vienna sendirian. Sebelumnya dia pamitan sama Andy Cooper.

“Jaga bini gue baik-baik. Karena doski lebih jago dari Jeremy Teti.”

“Mkay.”

Tapi kemudian si Azima meluruskan masalah.

“Sis, jangan marah dulu.”

Berkat Azima, Hanum akhirnya tetep bikin acara live. Dan dia berhasil membongkar kebusukan Andy Cooper ke seluruh dunia.

Acaranya tetap berbahasa Indonesia kok. Walopun, sekali lagi, ini televisi bule.

Kali ini lengkap dengan adegan si Andy Cooper dipecat.

Sementara itu, Rangga ada di pesawat. Dalam perjalanan ke Vienna. Pesawat belum jalan. Masih baru boarding.

Karena Rangga sempet sholat.

Kemudian setelah Hanum sukses melakukan tugasnya dia disuruh Azima buat ngejar Rangga. Tapi somehow dia malah nggak ke bandara.

Mungkin takut dikira AADC 3. Si Hanum malah gegemasan di ujung bukit.

Kemudian si Rangga nyusul. Dia bilang, dia nggak bisa terbang kalo sayap ketinggalan satu.

Di sini gue nelen muntahan gue sendiri.

Keduanya pelukan. Dan bahagia selama-lamanya.

 

Dan gue nggak bohong, gue harus beli panadol merah ke alfamart abis nonton film ini.

 

HANUM & RANGGA: FAITH IN THE CITY TAYANG DI SELURUH BIOSKOP INDONESIA MULAI 8 NOVEMBER 2018 

Komentar