Melaksanakan salah satu resolusi tahun baru gue: menjadi lebih cultured.

Mari kita mulai reportase ini dengan satu kejujuran: sebenernya gue nggak ada rencana untuk dateng ke Film Musik Makan tahun ini. 

Meskipun film teman-teman gue dan dosen gue diputar, gue keburu ada janji sama temen gue. Kemudian beberapa hari sebelum tanggal 9, temen gue DM gue dan bilang dia ada janji dan ngebatalin janjinya sama gue (buat lo yang melakukan ini ke gue, catat ya). Dan gue pun akhirnya free. Karena gue dari awal emang merasa nggak akan datang ke Film Musik Makan maka acara tersebut nggak pernah kelintas sama sekali di kepala gue. Sampai akhirnya Jumat malam tiba dan gue lonely as fuck.

Gue bingung besok ngapain.

Lalu kemudian gue ingat besok ada Film Musik Makan. Dan gue pun kembali bersemangat.

Film Musik Makan adalah gelaran acara yang dilakukan oleh Kolektif setiap tahunnya. Ini event tahunan yang mereka adakan sejak 2014. Seperti nama acaranya (yang entah apakah ini emang males bikin nama atau justru terlalu jenius, you decide), Film Musik Makan adalah tempat dimana lo bisa nonton film, dengerin musik dan makan.

“Apa bedanya dengan nonton Dilan 1991 di bioskop, Can? Kan disana gue juga nonton, dengerin lagunya Marion Jola yang diputer admin dan makan cemilan yang gue umpetin di tas.” 

Bedanya adalah film, musik dan makanan yang Kolektif hadirkan setiap tahun selalu beda-beda. Tahun ini ada paduan suara Dialita lengkap dengan screening film dokumenter "Rising from Silence." Menu makanan yang hadir tahun ini adalah Roast Beef Iponxonik, Nasi Pedes Cipete dan Kata Kopi. Dan tentu saja film yang hadir di Film Musik Makan adalah jenis film yang nggak bakalan lo akses di bioskop-bioskop biasa. Dan tahun ini pilihan film-filmnya cukup menarik.

3Tadinya gue mau ikutan diskusi film pendek yang diisi sama Ifa Isfansyah, Meiske Taurisia dan Aditya Ahmad, tapi karena gue baru bangun jam 11 siang, gue skip. Gue mandi kemudian ganti baju (bagian ini menghabiskan waktu 10 menit sendiri asal tau aja) kemudian naik GoJek menuju Goethehaus di Menteng (abis 36K kalo lo nggak percaya).

Disana seperti biasa suasananya udah rame dengan berbagai macam jenis manusia. Most of them adalah orang-orang yang sering berkeliaran di acara festival film. Tapi sepertinya banyak juga newbie yang berdatangan dan gue suka ngeliat mereka karena ini adalah kesempatan buat mereka buat nonton film-film selain Dilan 1991. Para rekan filmmaker juga berkeliaran di setiap sudut sambil ketawa-ketawa, rokok di tangan dan berbagi gosip (tentu saja).

Gong berbunyi yang artinya pemutaran pertama dimulai. Gue bersama temen gue langsung masuk dan mencari tempat duduk. Dan penontonnya lumayan rame karena gue kebagian agak depanan. Sesi pertama ini adalah pemutaran lima film pendek yang dilanjutkan dengan diskusi.

Film pertama adalah "Kembalilah Dengan Tenang" karya my bro M. Reza Fahriansyah. Filmnya fresh banget setelah balik dari Clermont-Ferrand beberapa waktu lalu (yang tentu saja ketika si sutradaranya update trip dia ke Clermont-Ferrand di InstaStorynya gue komenin mulu). Filmnya nyeritain tentang perjalanan seorang bapak nyari petak kuburan buat anak semata wayangnya yang meninggal. Gue nggak bias (meskipun gue berharap dapat traktiran amer dari sutradaranya) tapi "Kembalilah Dengan Tenang" adalah favorit gue dari kelima film pendek ini. Filmnya getir tapi kocak parah. Jenis kocak yang lo nggak tahu apakah lo harus tertawa apa nggak. Dan gue suka banget itu.

Yang bilang bahwa harta nggak bakalan lo bawa sampe mati lo harus nonton film ini. Duit emang nggak lo bawa sampe ke kuburan tapi alangkah baiknya kalo lo punya duit ketika lo mati supaya lo nggak nyusahin orang di sekitar lo yang harus urusin pemakaman lo. Dan ending-nya menurut gue the best. Orang mikir mungkin ending-nya mungkin ngerusak tone filmnya, buat gue it’s the perfect ending. Karena apa? Karena life is a fucking joke.

Film pendek kedua adalah Dan "Kembali Bermimpi" karya Jason Iskandar. Film ini adalah bagian dari proyek Hukla, sebuah omnibus yang mencoba memvisualisasikan puisi-puisi Leon Agusta. Hukla sendiri sempat tayang di Jogja-Netpac Asian Asian Film Festival tahun lalu. Dalam film ini, kita ngeliat sepasang couple (diperankan oleh Gusty Pratama dan Agnes Naomi) yang harus tinggal di Indonesia versi Islam di masa depan. Filmnya kelam dan penuh kejutan.

7Film pendek ketiga adalah "Ballad of Blood and Two White Buckets" karya Yosep Anggi Noen. Film ini sempet jalan-jalan ke Toronto International Film Festival tahun lalu. Ceritanya tentang sepasang suami istri yang jualan saren (atau dideh kalo di tempat asal gue). Mereka beli darah sapi kemudian diolah dan dijual. Filmnya sendu dan entah kenapa gue ngerasanya kayak depresif. Seolah-olah lo stuck dengan kesengsaraan hidup ini. Nuansanya melankoli tapi tetep nyaman dinikmati.

8Film pendek keempat adalah "Woo Woo" karya Ismail Basbeth. Di credits gue baru tahu bahwa proyek ini merupakan kolaborasi antara Ismail Basbeth, Bosan Berisik Lab dan Matta Cinema dengan band Sore. Ceritanya sungguhlah simple. Kita ngeliat rutinitas seorang cowok (sepertinya anak kosan ya kalo ngeliat aesthetic kamarnya dan cara dia makan Indomie) yang sangat boring dan diakhiri dengan sebuah kejutan yang akan membuat tante gue yang latah nyebut “konto*l konto*l konto*l”.

Film terakhir adalah "Kado" karya Aditya Ahmad yang kemarin menang di Venice dan sempet chilling di Sundance. Kado adalah film terbaru Aditya Ahmad setelah Sepatu Baru yang dibuat tahun 2013. It did not disappoint

10Setelah Q and A yang cukup singkat (karena jadwalnya padat, Bos), gue keluar dan ngeliatin orang ngerokok dan mulai mikir kenapa gue berhenti ngerokok. Suasana hari itu cukup panas sampe-sampe gue memilih untuk masuk dan ngadem di AC (dan menghindari liat orang-orang ngerokok karena dikit lagi gue bakalan minta sebatang).

Gong berbunyi lagi. Kali ini film kedua. Dan kali ini adalah Jakarta premiere of Daysleepers (atau "Kisah Dua Jendela," terserah mau nyebut yang mana tapi tentu saja kalo lo memilih judul "Kisah Dua Jendela" kemungkinan besar lo dengerin Fourtwnty). Di awalnya si Khiva Iskak, pemeran Leon dari Daysleepers bilang bahwa, “Nikmati aja kesunyiannya,” dan dia nggak salah. 

"Daysleepers" adalah film panjang Paul Agusta (dia yang gue sebut dosen di awal paragraf artikel ini) yang kata dia pas di Q and A, “Film yang nggak curhat.” Ini cerita katanya terinspirasi dari cerita friend of a friend. Ceritanya tentang dua orang makhluk nocturnal yang saling wondering siapa mereka. Sementara Leon lagi pusing menulis buku terbarunya, Andrea (Dinda Kanyadewi) bertanya-tanya kenapa dia memilih pekerjaan ini. Kenapa dia memilih bekerja ketika matahari sudah tiada. Daysleepers adalah jenis film yang lo harus tonton dengan tingkat kesabaran tinggi. Kalo lo jenis penonton yang menganggap bahwa apapun yang dilakukan Michael Bay is amazing, lo mungkin gak usah nonton film ini karena mungkin lo akan ketiduran atau walk out. Tapi kalo lo sabar, semuanya dibayar dengan ending yang manis. 

Proses produksinya cukup mengejutkan. Dalam penjelasannya di sesi Q and A Paul bilang bahwa mereka syuting cuman 6 hari. “It felt like a day,” kata Paul. “We had so much fun.” Di momen yang sama Paul juga menjelaskan kenapa dia milih Joko Anwar dan Djenar Maesa Ayu sebagai supporting cast karena their friendship will translate on the screen. “Mereka improvisasi banget jadi tiap take pasti beda,” tambah Khiva Iskak. And to be honest, I’m not complaining.

Film berikutnya adalah "Asian Three Fold Mirror: Journey" yang merupakan proyek kolaborasi antara Japan Foundation dan Tokyo International Film Festival. Film ini adalah omnibus dengan tiga film pendek dengan tiga sutradara. Ada Degena Yun dari China, Daishi Matsunaga dari Jepang dan Edwin dari Indonesia.

Seperti judulnya, tiga film pendek yang ada di Journey semuanya punya tema perjalanan. "The Sea dari Degena Yun" adalah tentang mother-daughter relationship yang rasanya kayak roller coaster. Mereka berdua terpaksa ada di perjalanan ini untuk menguburkan ayah/suami mereka yang sudah meninggal. Nonton "The Sea" kayak ada di sebuah area permainan yang violent tapi lo tau itu safe.

"Hekishu" karya Daishi Matsunaga adalah tentang seorang expat Jepang yang ada di Myanmar. Hidupnya mononton dan sangat lonely. Kemudian dia ketemu dengan mbak-mbak penjahit di Myanmar dan entah kenapa ada koneksi disana. Dan dua-duanya nggak ngerti bahasa masing-masing. Dan gue cinta banget film ini. Intim dan delicate kayak hati gue (stop rolling your eyes, you cowards).

Film terakhir adalah "Variable No. 3" karya Edwin. Filmnya bercerita tentang sepasang suami istri yang plesir ke Jepang dan disana mereka ketemu dengan penjaga tempat sewa yang memberikan saran yang menarik supaya hubungan suami istri ini tetap langgeng. Film ini dibintangi oleh Oka Antara, Agni Pratistha dan Nicholas Saputra. Kalo lo nonton film-filmnya Edwin selain Posesif dan Aruna dan Lidahnya, lo akan senang. Gue nggak punya frase lain untuk menggambarkan film ini selain "Variable No. 3" sangat Edwin.

"Asian Three Fold Mirror: Journey" kemarin juga sempet tayang di Jogja-Netpac Asian Film Festival tahun lalu. Dan karena gue udah nonton, maka setelah screening "Daysleepers" gue memutuskan untuk pulang. Ketika gue pamitan sama temen-temen gue, mereka semua nanya, “ngapain pulang?”

Mereka nggak tahu bahwa sekarang gue pindah ke Pondok Pinang dan itu jauh banget dari Menteng dan gue kurang tidur. Dan sebagai Taurus, gue kalo kurang tidur gue cranky.

Ketika gue berdiri di luar Goethehaus dan menunggu Grab gue dateng, Edwin masuk dan menyapa gue. Kemudian dia bilang, “Gara-gara tulisan lo kemarin gue sampe nanya Nana artinya bucin apa.”

Dan itu adalah kalimat penutup yang indah untuk gelaran Film Musik Makan tahun ini. Can’t wait for Film Musik Makan tahun depan dan doakan tahun depan gue bisa stay sampe akhir acara supaya gue ada waktu buat dengerin musik sambil nyobain makanan-makanannya. Biar gue bisa literally ngerasain film musik dan makan.

Mini Film Musik Makan akan hadir di Padang pada 17 Maret 2019. Acara ini rencananya juga akan keliling di beberapa kota di Indonesia. Info lengkapnya bisa cek di Instagram Kolektif @kolektiffilm.

Komentar