header 01

Arguably the best Indonesian film ever.

 

Sebenernya gue mau nulis ini untuk peringatan Hari Perfilman Nasional. Tapi karena gue selalu “besok aja deh”, gue akhirnya nggak sempet-sempet nulis. Padahal asal tau aja, gue udah buka Microsoft Word dan nulis judul udah dari tanggal 16 Maret setelah gue sama temen gue nonton Ada Apa Dengan Cinta lagi di acara Festival Sinema Australia Indonesia di CGV Grand Indonesia.

Kemudian kemarin tanggal 30-nya ketika gue mau nulis ini, gue mikir, mendingan gue livetweet AADC aja.

By this point lo harus tahu bahwa gue udah nonton AADC puluhan bahkan ratusan kali. Tapi ini pertama kalinya gue nonton dan gue tweet. Hasilnya lumayan mengejutkan karena sampe sekarang Twitter gue masih dipenuhi dengan mentions dan retweet para netizen yang either terpesona dengan Rangga, amaze dengan cakepnya Dian Sastro atau bahkan mungkin nyeletuk betapa miripnya Sissy sama Vanessa. Yang membuat gue mendesis, “Sekali lagi gue baca “eh kok ada Milea” I swear to God…”

00“Hai Sobat Miskin”

1Sobat miskin langsung shock disapa sama orang kaya.

Jadi kita mulai surat cinta ini dengan curhat: I don't have particularly good childhood.

Masa kecil gue agak disfungsional karena instead of mainan kelereng sama temen-temen sebangsa gue, gue menghabiskan waktu dengan ngetik bikin-bikin cerita. Dan gara-gara suka baca, gue akhirnya demen sama film. Semua karena Hilman. Lupus mengenalkan gue dengan berbagai pop culture reference yang membuat gue penasaran karena semuanya asing di mata gue. Apa itu Duran Duran? Apa itu Nightmare on Elm Street? Apa itu Beverly Hills 90210?

Dan ingat, ini jaman di mana internet belum ada di genggaman. Warnet masih lebih sering digunakan untuk chatting-an dan bertanya ‘asl plz’ ke stranger daripada buat nyari informasi. Jadi Wikipedia gue waktu itu kalo nggak perpustakaan ya rental VCD (pemilik rental VCD kesayangan gue deket rumah katanya sudah meninggal huhuhu).

Gue cukup up to date. Dan kebanyakan film yang gue tonton waktu itu adalah film-film Hollywood blockbuster terkenal dan film-film binatang. Makin gede makin bagus. Makin brutal makin seru.

Kemudian suatu hari, tanpa aba-aba, dirilisnya AADC.

Waktu itu film Indonesia masih sangat jarang. Bisa dibilang nggak ada malah. Jadi hadirnya AADC bikin semua orang heboh. Bahkan salah satu sepupu gue yang bisa dibilang tinggal di tempat terpencil, pergi nonton AADC dan bilang bahwa filmnya bagus.

“Wapik, Nda.” Gitu katanya sambil mamerin VCD soundtrack AADC bajakan.

Tentu saja gue penasaran. Tapi waktu itu uang jajan gue nggak cukup buat nonton bioskop. Jadi solusinya adalah nonton filmnya di rental VCD. Dan waktu itu VCD originalnya belum rilis. Yang ada versi bajakannya.

Lo pikir dengan versi bajakan gue akan nonton AADC dengan mudah? Nggak cuy.

2Alya: Gue subscribe Ria Ricis.

3Cinta, Maura, Karmen, Milly: ……

Ngedapetin VCD bajakan AADC sangatlah susah. Ada waiting list-nya. Gue nggak becanda. Dan si masnya punya enam biji lho. Maksud gue filmnya, bukan literal bijinya. Dan keenam AADC bajakan itu selalu disewa. Sampe akhirnya gue niat banget nungguin di situ dari rentalnya ketika baru buka jam 8 pagi karena kata masnya bakalan ada yang balik hari itu. And you know what, jam 1 siang ada yang balikin VCDnya.

Gue sama temen-temen gue pun berkumpul dan siap menonton AADC. Versi bajakan. Dengan gambar yang super jelek dan bocor suara orang ketawa-ketawa dan bayangan orang jalan kesana kemari. Bootleg jaman sekarang mah masih bagus gambarnya stabil. Bajakan AADC kalo lo tau goyang-goyang kameranya. Layarnya nggak center. Dan yang paling parah adalah ending-nya.

AADC bajakan nggak ada ending. Setelah adegan Cinta marah-marah ke Rangga “Nggak usah ketemu saya lagi” dan Cinta diajak Borne jalan, filmnya ilang. Layarnya gelap. Mas pembuat bajakannya dengan jenius memberikan ending berupa beberapa paragraf yang menggambarkan ending AADC.

I’m not kidding.

Tulisannya gue inget banget dimulai dengan “Akhirnya Cinta mengaku kalau dia cinta dengan Rangga.” Kemudian diakhiri dengan “Cinta akhirnya mengejar Rangga ke bandara dan menyatakan cintanya”. Tamat.

Kan bangsat ya?

Gue sampe sekarang gue nggak tau alasan kenapa bajakannya nggak finito sampe Mamet ditinggal sama Milly di bandara. Apakah handycamnya batereinya abis atau mini DV-nya cuman ada satu apa gimana gue nggak tau. Tapi yang jelas pengalaman nonton AADC nggak memberikan sensasi yang luar biasa buat gue.

Rasanya anti klimaks. Udah nunggu lama ternyata filmnya nggak seluar biasa yang gue bayangin.

4Jujur aja lo pernah paling nggak sekali meragain adegan ini di kamar lo.

Gue baru nonton AADC lagi ketika SMP. Di sana kemudian gue tersadar bahwa filmnya bagus.  Tapi waktu itu gue lebih suka Eiffel… I’m In Love. Entah kenapa. Mungkin karena ada adegan Titi Kamal jalan rambutnya terbang-terbang. Sama adegan ciuman muter-muter di dekat menara Eiffel.

5Ketika masih sekolah dan senang-senang.

6Ketika udah lulus dan mulai kenal tagihan dan adult life fuck you up so bad.

Gue benar-benar tahu jeniusnya AADC ketika gue udah di Jakarta. Gue belum masuk kuliah tapi gue udah mulai sering baca-baca soal scriptwriting dan filmmaking di internet. Semakin gue nonton AADC, semakin gue sadar ada sesuatu yang ngangenin dari film ini.

Ada momen pas kuliah ketika kami dapat assignment untuk bahas production design film Indonesia dan gue nggak sengaja dapat AADC (or is it a sign from the muthafucking universe?). Semakin gue baca skripnya dan semakin sering gue liat filmnya, semakin sadar bahwa ini film menurut gue pitch perfect.

Dan gue kira gue doang yang merasakan ini. Ternyata enggak. Tata, temen gue (yang sayangnya juga pecinta Dilan, nggak papa juga sih tapi gue selalu merasa ada Tim AADC dan Tim Dilan), juga menyadari ini. Tiap kali ada pemutaran AADC, kami selalu nonton bareng. Biasanya di peringatan Hari Film Nasional alias bulan Maret. Bahkan ketika waktu itu screening AADC di Hollywood pas jam kerja, temen gue ini sampe bolos kerja lho. Dedikasi demi Rangga.

7Cowok ini mengenalkan feeling “geremet-geremet di bawah sana” kepada para remaja.

Gue semakin sadar bahwa AADC ini magic ketika temen gue yang hampir gak pernah nonton film Indonesia bernama Henna Mulani, tergila-gila sama AADC. Doski turunan India dan speak English hampir all the time. Dan berkat AADC kami berdua jadi suka ngutip dialog-dialog AADC. Ketika kami berdua akhirnya kerja di sebuah produksi dan bertemu dengan Nicholas Saputra, lo harus tau betapa kecewanya kami berdua kalo Nicholas Saputra ternyata bukan Rangga.

And you know what, itu kali pertama kami berdua tahu apa yang disebut “akting”. Dan kami berdua film student.

8Ini gue baca semua janji-janji Prabowo kalo dia jadi presiden.

Tahun 2012 pas AADC tayang lagi di Blok M Square dalam peringatan 10 tahunnya, gue nonton 4 kali. Tiap hari gue nonton dengan orang yang berbeda. Dan di 10 tahun AADC ini pertama kalinya gue nonton AADC di bioskop. Rasanya kayak… magic.

Gue menatap layar dengan mulut terbuka dan kadang mouthing dialog-dialog tanpa suara. Dan ketika ada yang lucu gue ikutan ketawa. Ketika Alya sedih, hati gue juga sedih. Ketika Cinta sama Rangga masak-masakan, gue ikutan kinjong. Ketika Rangga ngatain Cinta “Salah satu dari kita harus punya hati atau punya otak, sayang kamu nggak punya dua-duanya”, hati gue ikutan ambles.

By this point gue udah nonton AADC puluhan kali.

9Ini seperti gue mencoba kenalan dengan selebgram di publik.

Waktu itu AADC masih ada versi ilegalnya di Youtube. Gue download dan gue simpen di komputer. Gue tonton setiap kali gue bosen. Setiap kali gue cuci baju dan setrika. Gue tonton pas lagi gue sedih. Gue tonton pas gue lagi bahagia. Gue tonton pas nggak bisa tidur. Dan nggak jarang juga gue tonton pas gue lagi giting.

10Ini gue tiap kali ada yang bilang “sheeeyyyeeenggg”

Jadi apa yang membuat AADC semagis itu?

Ternyata ada banyak aspek yang membuat film ini segila itu.

Yang pertama jelas ceritanya.

Mau lo sebut klise atau klasik, terserah. Tapi love story antara dua orang yang polar opposite ini sungguhlah luar biasa. Dan gue nggak bisa judge apapun yang dilakukan oleh karakter-karakternya. Padahal mereka remaja lho. Yang biasanya melakukan keputusan-keputusan bodoh. Seperti Cinta yang nggak langsung ke rumah Alya waktu Alya telpon dengan suara udah nyeremin kayak Lupita Nyong’o di Us.

Salah satu hal yang gue admire sangat dari AADC dan jarang gue temuin di film remaja-remaja lokal adalah pembuat filmnya menggambar dunia SMA dengan real dan rasa pengertian yang amat sangat. Nggak ada judgement. Jadinya apa yang ada di layar berasa natural. Nggak ada aura “Yaelah, namanya juga cinta monyet”. Nggak ada. Dan ini krusial. Karena gue sebagai penonton jadinya merasa bahwa apapun yang dirasain Cinta dan Rangga adalah hidup dan mati. Masalah remeh mereka jadi penting banget.

11

12Gue percaya kalo Nicholas Saputra nyalonin diri jadi caleg pasti bakalan banyak yang nyoblos meskipun dia bilang dia bakalan bakar bayi di acara pelantikannya sekalipun.

Yang kedua adalah karakter-karakternya.

Semua yang ada di AADC iconic. Nggak ada yang iconic.

Dari Geng Mading, Borne, Pak Wardiman sampe Yosrizal bahkan sampe pendukung 212 alias orang-orang yang bawa bom molotov ke rumahnya Rangga aja iconic af. Dan lo nggak men-judge karakter-karakter ini. Mau sebego apapun Milly, secentil apapun Maura, sekeras apapun Karmen, serapuh apapun Alya, se-introvert apapun Rangga dan segatel apapun Cinta (by this point we all agree that Cinta is fucking thristy, right?), kita semua nggak bisa men-judge mereka.

Karena apa? Karena ada bagian dari kita atau teman-teman kita di mereka. Even Cinta yang menurut gue makin sering ditonton makin annoying. Dia tetep relatable. Lo paham kenapa dia bisa naksir orang kayak Rangga. Lo juga paham kenapa Rangga nggak punya temen. Lo paham kenapa dia selalu menjaga jarak sama orang lain dan tenggelam dalam buku-bukunya.

13Kita semua punya temen SMA yang gaul banget dan kita hanya bisa menatap mereka dari kejauhan.

Lalu musiknya.

OMG musiknya.

Lo bisa bilang apa aja tentang Melly Goeslow jaman sekarang (dari karya yang dia buat sampe selera fashion-nya yang bikin Bjork pengen tahlilan) tapi lo nggak bisa nggak bilang bahwa soundtrack-nya AADC sejedar itu. Musiknya dan filmnya beneran kawin to the point lo nggak bisa misahin satu sama lain. Coba lo nonton AADC dengan mute pas adegan Cinta baca puisinya Rangga untuk pertama kalinya. Kepala lo akan muncul Bimbang.

Begitu juga pas lo dengerin soundtrack-nya doang secara terpisah. Ketika lo dengerin Dimana Malumu pasti lo kebayang Geng Cinta lagi joget di kamar Cinta.

Musiknya AADC is everything. Nggak heran kalo abis AADC Melly Goeslow dan Anto Hoed laris ngisi soundtrack film-film Indonesia. Apa yang mereka ciptakan di AADC beneran jenius.

14

15Sebelum dan sesudah tahu kalo saldo GoPay gue nol.

Dan tentu saja penyutradaraannya.

Ini adalah film terbaiknya Rudy Soedjarwo PERIOD.

Semua cast-nya bermain dengan sangat baaaaaiiiikkkk. Emosinya dapet semua. Chemistry-nya sekuat itu. Semua momen terbayar dengan lunas.

Dan ini sungguh sungguh wonderful mengingat apa yang dilakukan Rudy Soedjarwo bukanlah sesuatu yang groundbreaking. Secara visual AADC nggak macem-macem. Pergerakan kameranya nggak ada yang wowza kayak film-film Indonesia jaman sekarang. Yang tiap lima menit sekali ada adegan pake drone shot. Di AADC pergerakan kameranya cuman track in, track out atau follow track. Tapi semuanya tepat guna. Jadinya maknyus. Karena Rudy Soedjarwo lebih ngejar moment daripada gambar yang Instagramable.

Dan ini sebenernya adalah tugas yang berat karena sebenernya apa yang ada di AADC udah sering kita liat di film-film lain. Jatuh cinta sama cowok culun? Berantem nggak berantem nggak? Nangis-nangis ngejar di bandara? Semuanya udah pernah ada di film lain tapi tetap aja di film ini rasanya kayak baru.

16Liat gambar ini aja gue udah deg-degan.

Berbeda dengan film-film remaja jaman sekarang yang emang sengaja bikin dialog yang memorable, AADC menurut gue justru mengisi dialognya apa adanya. Dialog-dialog AADC dibikin memang sesuai dengan karakter-karakternya. Ditambah dengan penyutradaraan yang oke, dialog-dialog itu akhirnya menjadi memorable.

Nggak satu dua lho menurut gue yang memorable. Banyak banget. Yang tentu saja gue nggak bisa kutip disini satu-satu karena nantinya gue bakalan jadi nulis skrip dari awal sampe akhir film.

Bandingin sama (ehem) dua film Dilan yang menurut gue rely sama rayuan-rayuan recehnya Dilan. Tuh film menurut gue dibangun literally sama quotes-quotes Dilan yang sengaja dibikin semenarik mungkin. Apakah quotable? Maybe. Apakah terasa natural? Nggak.

Gue sih personally nggak kena ya. Karena apa? Karena itu kedengeran banget dibikin. Nggak alamiah. Sementara AADC gue cuman perlu nonton sekali dan “hey, kamu tuh kalo kebingungan lebih nyenengin ya? Kamu bingung aja terus” udah nempel di kepala gue kayak racun.

17Titi Kamal is a fashion icon. We should worship her now.

Dan semua aspek itu akhirnya menyatu dan menjadikan AADC sebagai film bagus yang nggak hanya berakhir di film aja tapi juga mempengaruhi hidup penonton.

Ada berapa banyak orang yang mendadak jadi pujangga abis nonton AADC?

Ada berapa orang yang tiba-tiba pengen bikin mading di sekolah? (ehem!)

Ada berapa orang yang tiba-tiba pengen joget-joget ala Geng Mading di kamar?

Ada berapa orang yang tiba-tiba belajar gitar dan mencoba bikin puisi?

Ada berapa orang yang beli Aku di Gramedia dan mencoba mengerti Chairil Anwar?

Dari yang gue baca di Twitter gue, at least ada satu orang yang ngakuin semua hal yang gue sebutin di atas.

18Mau makan sama nasi dan terasi doang kalo makannya sama pacar rasanya UWUWUWUWUWU…

Lo pikir karena gue udah nonton AADC ratusan kali rasa wow itu akan ilang? Nggak. Yang ada justru menguat. Gue menyadari hal-hal yang nggak gue notice sebelumnya. Kayak, Rangga pergi ke New York nggak mendadak. Itu sudah direncanakan. Pas dia minta beli buku di New York, Limbong kan bilang, “Kau mau pergi kesana?”

Atau ketika ada geng 212 ngelempar bom molotov ke rumah Rangga, bapaknya bilang, “Kita harus cepat-cepat pergi dari sini,” yang membuat gue wondering jangan-jangan Rangga sama bapaknya ke Amerika bukan hanya karena dapet tawaran kerjaan dari NYU tapi juga karena udah nggak aman banget mereka tinggal disitu.

Atau ketika Rangga dan Cinta kencan di Blues Café. Sepupu Rangga bilang kalo kata Rangga, Cinta bisa nyanyi. Cinta akhirnya nyanyi walopun awalnya pura-pura nggak mau nyanyi. Tapi tahu dari mana si Rangga kalo Cinta bisa nyanyi? Jangan-jangan meskipun dia sok cuek di sekolahan dia sering lewat mading dan ngeliat Cinta jamming sama temen-temennya di ruang mading. Dan apa aja yang Rangga curhatin ke sepupunya kalo dia menjaga jarak sama orang lain?

19Gue memutuskan bahwa Rangga adalah Scorpio. Don't @ me.

Tiap kali nonton AADC gue ngerasa kayak nonton untuk pertama kalinya. Dan itulah kekuatan AADC yang menurut gue nggak banyak dipunyai oleh film-film lain.

Jadi… gue berterima kasih kepada semua yang terlibat dalam pembuatan film ini. Dari pemain, produser, sutradara, penulis skenario, camera dept, art dept, sound dept bahkan sampai runner, pembuat posternya, mas-mas yang nyetak seluloidnya. Thank you so much for this amazing film.

Gue nggak sabar untuk mengenalkan film ini ke anak cucu gue ketika gue tua dan pikun nanti.

20

Ada Apa Dengan Cinta dapat disaksikan di Netflix

Komentar