candra aditya 01 01

Reuni guru sama murid.

 

Rayya Makarim mungkin nama yang asing di telinga lo kalo lo nontonnya film-film horor atau cinta-cintaan. Tapi dia nggak asing di telinga gue karena obviously dia adalah guru gue waktu gue masih jadi Binusian. She’s one of the best teacher I’ve ever had. Scratch that. She’s THE BEST teacher I’ve ever had. Dan gue bilang gini buat manjang-manjangin intro artikel ini. Nggak. Tapi karena apa yang dia bilang selama di kelas, lengket di kepala gue sampe sekarang dan gue kayaknya nggak akan pernah lupa.

rayya makarim

Dalam interview ini kami ngobrol banyak hal dari awal karir dia sampe film terbaru dia, 27 Steps of May yang akan rilis beberapa hari lagi. Ada banyak hal menarik yang gue temukan ketika gue wawancara dia. Mulai dari kejadian seru di syuting Pasir Berbisik, respon dia sekarang terhadap ending Banyu Biru sampai betapa horornya dia nulis adegan perkosaan untuk 27 Steps of May.

Oke, nggak usah lama-lama, read the full interview here:

Oke gue mau memberikan sesuatu. Nggak memberikan sih gue pengen pamer. Tadaa… (gue ngasih liat buku skenario Rumah Ketujuh yang dicetak sama Metafor Publishing)

Hahaha jadul banget.

Dan gue beli ternyata tahun 2006. And four years later, gue officially…

Became my student. Hahaha…

Oke. Antara Rumah Ketujuh atau Pasir Berbisik mana yang duluan?

I think… ya… I think nulisnya yang pertama Rumah Ketujuh. It’s my first job sebenernya.

Kalau di buku ini tulisannya katanya nulisnya butuh lima tahun sih.

Jadi waktu itu Mira Lesmana had this like 4-5 writers yang dia kasih tema-tema and then make your own script.  Kayak ada untuk Hari Kartini, Hari Perfilman. Jadi waktu itu ada empat orang. Ada gue, ada Lasja (Susatyo), Asep Kusnidar, Agung Sentausa. Trus siapa lagi ya? Ya pokoknya kita develop aja, sesuai dengan tema-tema itu. Trus abis itu udah, nggak dikerjain. Abis itu gue ngerjain Pasir Berbasik and then tiba-tiba on lagi… Karena they want to make Ada Apa Dengan Cinta. Trus mereka like, “Yaudah lo kerjain Rumah Ketujuh dulu.”

Berarti secara chronological order, yang dikerjain duluan yang Pasir Berbisik berarti?

Yang jadi duluan Pasir Berbisik.

still pasir berbisik 1

Agak aneh nggak sih for a first time scriptwriter dan film pertamanya adalah Pasir Berbisik?

Hmmm… Good question. Nggak sih. I was so happy to get a job. Kan skripnya sebenernya udah jadi. Nan (Achnas, sutradara dan co-writer Pasir Berbisik) sebenernya kan udah bikin. Jadi, gue menambah… It was a co-writing thing.

It was weird. I haven’t thought about it.

Gue nanya karena pertama kali gue nonton Pasir Berbisik, gue nggak get. Ini film apaan gue nggak ngerti.

It was the first time gue kerja sama Nan. There’s a lot of symbols and lot of things tapi… I try to get into her mind. But it was a difficult film untuk nulisnya juga karena it’s quite abstract. It was interesting.

Dan gue baru get kalo filmnya ada politik-politiknya juga di dalemnya setelah nonton ulang pas di kampus kalo nggak salah.

Yeah, she wants to do some kind of paralel apa yang terjadi di film ini sama yang terjadi di tahun 65. The unstableness, keadaan yang nggak jelas, dead bodies yang kita nggak tahu. Tapi intinya sih… gue fokusnya pada cerita hubungan ibu-anak dan bapak dateng ini yang mengubah banyak hal. So that’s the narrative part of the story. Yang lain-lain sih terserah Nan. Hahaha…

still pasir berbisik 2

Di Pasir Berbisik ikut syuting atau full jadi scriptwriter aja?

Ikut karena pengen dapet pengalaman di lapangan seperti apa. Jadi… I think Shanty (Harmayn, produser Pasir Berbisik) bilang, “Percuma kalo lo main-main aja kalo lo nggak kerja. You need to learn something.” And then I said, “Okay.”

Jadi mungkin karena gue scriptwriter, gue bisa jadi script contuinity. Tapi kan gue I have no idea.

Script contuinity kan lumayan technical…

Very! Sementara I’m not technical at all. Jadi abis tiga hari, gue diajak sama Tino Saroengallo. Waktu itu kita syuting di Jogja. Gue diajak ke Malioboro, pokoknya ditraktir. Gue seneng banget. Makan burger. Sampe Tino tuh kayak, “Lo tuh Amerika banget sih.” Karena gue makan burger, gue minum Coca Cola trus gue beli chewing gum. “Ya abis gimana dong,” kata gue.

Basically dia fired me. Jadi gue ditraktir buat dipecat.

“Kayaknya lo buat script contuinity, lo nggak bakat sama sekali.”

“Oh my God, are you firing me?”

“Yes, I have to fire you,” katanya. Tapi abis itu gue dijadikan astrada tiga yang waktu itu nggak ada posisi seperti itu.

Jadi waktu itu… Oh My God… I’m talking about people who are dead already. Sedih banget. Tino Saroengallo passed away. Abis itu astrada satu itu Sofyan D Surza. Dia astrada satu. Kemudian Agyl Syahriar itu astrada dua. Kemudian gue. Sofyan called us gembul satu, gembul dua, gembul tiga.

Actually, I don’t know tugas lo sebagai astrada tiga tuh ngapain. Tapi ternyata it came in handy karena gue menjadi kayak penerjemah antara Nan sama astrada lainnya. Karena Nan tuh yang pake Bahasa Inggris terus gitu. She explain something trus Sofyan kayak, “Ya, Mbak. Oke, Mbak. Siap, Mbak. Ngerti, Mbak.” Trus Nan-nya pergi dan dia akan noleh ke gue dan bilang, “Gimana, Ray?” Trus I would translate for him. Jadi ada juga the benefits gue jadi astrada tiga.

Trus ada lagi one anecdote dengan Tino Saroengallo waktu adegan kampungnya kebakaran. Sofyan sama Agyl dipakein baju penduduk jadi mereka blend in sebagai astrada. Mungkin karena muka gue nggak cocok, jadi nggak bisa. So I was wearing normal clothes. Tapi kan gue harus bantu-bantu segala macem. Tapi abis itu harus ngumpet.

Jadi gue ngumpet di salah satu gubuk. Dan gue nggak tahu kalau gubuk itu ditandain yang untuk dibakar. Jadi gue itu, when I figured this out, I was like, “Oh my God. Ini one take okay. I can’t fuck it up.” Kalo gue nongol dengan pakaian biasa trus kalau ini ancur gimana?

Jadi kebakar nih gubuk, gue crawling out from the gubuk very slowly trying to be as low as possible. Hopefully the camera doesn’t see me. Trus gue kegep sama Tino. “Ray, lo ngapain tiarap merangkak keluar dari gubuk?” Hahaha… So those are two anecdotes sama dua orang yang sekarang sudah tidak ada.

poster pasir berbisik

Gue baru baca skripnya Rumah Ketujuh lagi semalem dan gue baru sadar bahwa kalo misalnya ini film dibuat sekarang, ini film pasti bakalan hits banget.

Yes. I think so. I think some of my films that I made kalo dirilis sekarang pasti bisa lebih well-received. Kayak Banyu Biru juga bisa. But it was just too soon.

still rumah ketujuh 1

Kalo Rumah Ketujuh karena millenial jaman sekarang lagi ke-zodiak-an banget sih. Dan filmnya kan romance kan. Dan two of the main characters kan beneran exact opposite kan? Yang satu ke-zodiakan. Yang satu ke-mimpian.

That’s probably true.

Yang main Jefri Nichol gitu misalnya.

Hahaha… ya. Gue kemarin nanya, “Jefri Nichol tuh siapa sih?” Hahaha… I should know.

still rumah ketujuh 2

Tahu tapi akhirnya?

I think so.

Setelah Pasir Berbisik, kemudian Rumah Ketujuh, kemudian Banyu Biru. Kayaknya di list filmography, Miss Rayya, yang paling normal cuman Rumah Ketujuh deh.

Hahaha… iya. Banyu Biru is a lil bit surreal. Dreamy. Iya sih.

Gue inget banget kelas 3 SMP kayaknya. Dan itu jaman-jaman itu film Indonesia mulai sering ada. Dan gue inget ketika di ending, semua orang di bioskop kayak, “What?”

We were warned by Orlow (Seunke), “You can’t do that! You can’t like ngajak penonton into this whole  journey tapi ternyata oh, it never happened. You can’t do that.” Tapi ya udahlah. It’s one of our first scripts jadi ya udahlah…

still banyu biru 1

Kenapa ending itu yang dipilih? Apakah ini keputusan sendiri? Atau emang sama Teddy (Soeriaatmadja, sutradara Banyu Biru) kayak begitu atau gimana?

I think emang dari awalnya it was a dream, it was always a dream. Jadi emang konsep dari awalnya begitu. Tapi, his original idea was more simple and we probably should’ve gone with that idea which is the main character knows he’s going to die and he’s got list of things to do. Tapi akhirnya berkembang lagi jadi sesuatu yang more abstract, more random.

Kayak gimana ya… gue belum nonton lagi sih cuman gue inget ketika gue nonton gue inget bahwa karakternya Tora Sudiro punya daddy issues and then you finally solve the problem tapi ternyata itu cuman mimpi…

Hahaha iya and now you have to go back and do it all. That was probably a mistake. And it’s not quite Sixth Sense. Kalo Sixth Sense kan bagus banget. People have complaints about Banyu Biru jadi yaudahlah hahaha…

Tapi filmnya lumayan sukses lho waktu itu…

Waktu itu gue nggak punya ide soal ticket sales itu berapa… Nggak ada ide sama sekali.

I think kalo Banyu Biru dirilis sekarang pasti di bawah 100 ribu kayaknya…

Di bawah justru. Interesting.

It’s so weird though, the film…

It is weird. It is weird.

still banyu biru 2

Trus kayak make Dian Sastro tapi cuman untuk 10 menit itu kayak, “Mmmm…”

Hahahaha… Tapi I think when I wrote that script itu Dian Sastro’s character was more connected. I think it was, the original idea was dia bekas pacarnya si main character. Tapi akhirnya nggak kayak gitu. Jadi kayak tetangga aja.

Trus Banyu Biru, follow-upnya adalah film yang sangat light, sangat gampang ditonton which is Jermal.

Hahaha yes. Yes.

Kalo kolaborasi gue dengan Ravi (Bharwani, sutradara Jermal dan 27 Steps of May) itu... Lo nonton Impian Kemarau nggak?

Nonton.

Nah… Jadi what I like kerja dengan Ravi is perpaduan antara mata dan aesthetic dia yang luar biasa menurut gue tapi gue paksakan dengan naratif yang jelas dari gue. Logical, apa segala macem. Impian Kemarau kan banyak simbol-simbol. Jermal dan juga 27 Steps of May is very straight-forward story.

still jermal 1

Gimana akhirnya pertama ketemu dengan Ravi dan mutusin, “We should make a film together.”

Dari… I don’t know… what he saw in me… tapi di awal tahun 2000, itu dia udah nelpon gue. Gue dikenalin sama Shanty. Everytime he has a project, dia selalu brainstorming sama gue walaupun bukan gue yang nulis. Ide-ide dia banyak sekali dan dia selalu lempar ke gue. So, I’ve worked with him for like 20 years sebenernya. Tapi baru di Jermal kita akhirnya we had money to make it.

Dan itu yaudah. Dengan matanya dia, I try to give him story that yang naratif, yang lebih accessible.

HAHAHAHA… JERMAL IS ACCESIBLE. THAT’S SO FUNNY.

Hahaha… It’s absolutely not commercial. Tapi it’s very accesible. Semua orang bisa paham ceritanya. Seperti 27 Steps of May juga.

Susah nggak sih syuting Jermal? I wonder dari logistiknya aja…

Logistically itu nightmare karena itu small platform in the middle of nowhere. Kesananya aja tuh bisa kayak… tiba-tiba dua hari nggak bisa syuting karena ombaknya tinggi. Bener-bener nggak bisa dilewatin sama kapal. Atau kita bisa di tengah-tengah syuting, orang kapalnya bisa bilang, “Oke, kita bisa pulang sekarang jam 9 malem atau nanti jam 2 pagi. Pilih.” Nah kayak gitu-gitu. Nah faktor alam itu besar sekali.

Kita bisa terdampar di tengah-tengah laut karena nggak bisa masuk. Karena ombaknya. And you’re stuck. Ada 30 orang, on this fishing platform. Lo nengok kiri, lo lo lagi. Lo nengok kanan, lo lo lagi. Kalo lo mau gila, lo nggak bisa loncat. Jadi emang merepotkan.

Untungnya kita nggak tinggal disitu ya. Maksudnya abis syuting kita pulang ke hotel yang very decent.

still jermal 2

Itu di mana lokasinya?

Oh my God di mana ya? Lupa gue. Pokoknya 2-3 hours dari Medan. Dan udah gitu kita harus cari jermalnya tuh sebisa mungkin yang nggak keliatan darat kan. Karena we want the idea of isolation and alienation itu. Tapi nggak bisa. Darat tetep keliatan. Jadi kita akalin pake net-nya. Jadi kameranya posisinya juga harus hati-hati. “Darat darat keliatan!”

Oke setelah Jermal, 10 tahun kemudian baru nulis film lagi. Should we talk about Buffalo Boys?

We can.

Jadi gue udah tau proyek ini sudah lama sekali. Dan gue ketemu sama Mike (Wiluan, sutradara Buffalo Boys) secara kebetulan via Shanty. Waktu itu Shanty was producing it. Tadinya. Mereka lagi casting di Hotel Dharmawangsa dan rumah gue deket kan and I come over. Ketemulah sama Mike. And I was very excited about this idea. Karena I think it was very original.

Abis itu dua tahun nggak kedengeran apa-apa. And then I bumped into him again di tempat yang sama, and I was like, “Hi, what happened to that film?”

still buffalo boys 1

“Ya gue lagi nulis sendiri…” dan Shanty udah nggak ikut proyek itu lagi cause it took too long. Waktunya udah nggak klop lagi. Trus kemudian dia bilang, “Do you wanna read it?” I was like, “Yeah. Sure.”

Awalnya I was hired as script doctor tapi akhirnya I had to write something. It’s his first film. But, apa ya… I think it’s important to support people who have creative minds. People who says, “I wanna do something different.” Yang nggak cinta-cintaan melulu, horor-horor melulu dan religion melulu. And I was like, “It’s a crazy idea. Cowboys in Jawa. Marilah. Ayo.” And the production was very professional. So that was an interesting experience juga.

Ikut syuting?

Cuman ada beberapa hari kalau ada dialog-dialog yang terlalu banyak, I have to be there untuk mengontrol. Dan beberapa aktornya kan they didn’t even speak Indonesian. Jadi bener-bener harus di-trained dan gue minta Mas Yayu Unru untuk meng-handle itu.

Oh Mas Yayu acting coachnya?

Acting coach sama bahasa terutama.

Tapi, apa ya… silver linings dari film itu adalah temen gue bilang, “Ya at least walopun Yoshi Sudarso busuk tapi paling nggak dia buka baju terus. Jadi bodo amat.”

Hahahaha ya itu. The ladies are happy.

still buffalo boys 2

Sekarang ke 27 Steps of May. Hal pertama yang gue notice ketika abis nonton film ini adalah kayak di kelas bahwa you told us kalau routine is boring dan pas nonton gue kayak, “Apaan ini routine semua.”

Now you forgot the lesson. The lesson is… Okay… Jadi salah satu perdebatan gue sama Ravi adalah Ravi nggak mau ada prolog.

Oh yang di taman ria…

Yes. Kalau adegan prolog itu nggak ada, then routine is boring. If you take out that prologue and then you have this routine, then it was like, “What the hell.” Then routine is boring.

But if you put a tragedy before… Inget nggak gue selalu use this example yang… orang dateng ke sebuah rumah, ketuk pintu, masuk, basa-basi, everything he does itu routine. Tapi sebelum dia masuk ruangan itu ada telpon dan ada yang bilang, “Your daughter just die,” then everything in that routine becomes interesting. Or has meaning. The way dia masukin sendok pas dia ngaduk teh misalnya.

So it’s the same thing karena we already have this background of something terrible happened to her. And that routine is needed because after that it repeat itself and it changes every time.

still 27 steps of may 1

Tapi kan emang nggak sama persis kan karena berubah kan… ada progress di setiap hari yang dilalui sama May…

That’s what I said as well. Repetition nggak bisa sama. Harus selalu ada perubahan. Kalo nggak you’re just being redundant.

Ini berapa lama nulisnya 27 Steps of May?

I think dari ide sampe skrip sekitaran 2 tahun? And then the finance took ages. Nyari uangnya segala macem. Akhirnya everything dari creating it sampe jadi ya kira-kira 5 years.

Nggak heran ya Ravi filmnya kayak banyak banget.

Hahaha iya.

Gimana sih proses kerja bareng sama Ravi?

Kalo sama Ravi tuh bener-bener hands on. It needs to be very specific. Tapi untungnya karena gue udah kenal lama, gue bisa masuk ke dalam kepalanya Ravi. So I know what he wants.

“Masuk kepalanya dia” is so creepy.

Hahaha… But you have to. It’s the best collaboration.

Kalo kita tau taste-nya. Kita nyambung. Then you just play together. Karena apa yang mau kita sampaikan tuh very simple things. But how do we make it interesting, thats the fun part of writing with him. Karena gue akan lempar something and then he’ll think about it, kemudian dia dateng dengan, “Can we push this way, can push that way?” So it’s really nice. Beneran duduk berdua and everything we go through together.

still 27 steps of may 2

Ini film kan sangat spesifik ya. Apakah Miss Rayya punya say dalam pemilihan casting gitu misalnya?

Yes.

I was one to tell him, “Get Raihaanun to screen test.” Dan udah pas kita liat screen testnya gue bilang, “Told you so.” Nggak usah pake diskusi. “This is it.

Cuman Raihaanun doang yang di-screen test?

No no. There’s a few yang lain. Cuman she just poped up aja. I mean, she is May. Udah. No discussion. Gue yang, “Udah ya? Bungkus ya? I told you. Listen to me.”

Untungnya gue sama Ravi, we’re on the same page. Enaknya kalo sama Ravi tuh we’re equal partners. Jadi gue bisa ngotot sama dia, gue bisa marah-marah sama dia. Nggak ada hierarchy gue penulis dan dia sutradara. Dan juga perdebatan kita itu it’s never about ego. “My idea is better.” Tapi apa yang terbaik untuk ceritanya.

still 27 steps of may 3

Gue nonton film ini to be honest emotionally exhausted sih.

Iya. Emang it’s very claustrophobic. It describes the mental state of the character. Jadi itu sengaja. So… sorry. Hahaha… we apologize.

Apa sih susahnya nulis film yang main characternya nggak ngomong sama sekali?

Kalo kerja sama Ravi, lo tuh harus siap begitu. Kayak di Jermal aja. Peran si Bandi yang dimainin sama Mas Yayu Unru itu tadinya ada dialognya. Tapi Ravi bilang, “Nggak, Ray, itu terlalu banyak dialognya. Kurangin lagi. Kurangin lagi. Kurangin lagi.” Dan dia bilang itu terus sampe gue bilang, “Yaudah, bikin aja dia bisu.” Jadilah dia begitu.

So the difficulty adalah to write visually. Film is a visual media, that’s my training gitu. Tapi the difficulty is ketika story cannot be lost karena keheningan ini jadi gimana caranya memasukkan exposition tanpa penonton berasa ini exposition. Dan itu akhirnya kita pake all the other characters, terutama melalui karakternya Verdi (Solaiman).

still 27 steps of may 4

He’s very good. Nggak ada dia film itu gelap banget sih.

So we needed small things yang mengangkat, yang light. Kalo nggak akan berat banget emang. Claustrophobic, tertekan. Emang harus butuh this character for dynamic. Dan terutama karakternya Verdi itu untuk provokasi. Dia nggak akan segan-segan untuk bilang ke karakter Lukman Sardi, “Nggak bisa nih. Lo salah.” He’s the moral anchor of the father. Tapi disitu kita punya opportunity untuk apa yang penonton belum tahu, itu bisa keluar dari karakter si kurir.

Kenapa mutusinnya boneka?

Visual.

still 27 steps of may 4b

Karena sebenernya karakternya Raihaanun sama Lukman Sardi kan bisa bikin apa aja kan…

We wanted something that was visual, pasti. And not boring to look at. And wanted benda yang seragam. So when we see something, dan keliatan seragam, it shows another kind of mental picture. Dan we wanted something yang si bapak ini harus membantu kan. Di dalam rumah ini si bapak sangat lembut, halus, mengerjakan hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh laki-laki. Yaitu masak, nyuguhin makanan, ngepang boneka. Everything is very intricate. Tapi di luar, dia full of rage.

still 27 steps of may 5

Gue ngeliat si May ini Virgo banget. Dari makanan yang dia makan, dan dia nata boneka apa segala macem.

OCD. Ya karena dia… She needs to control her environment kan.

Adegan perkosaannya kayak gue nggak bisa nggak look away.

Itu horor banget.

still 27 steps of may 5b

Tiap kali muncul gue kayak, “Oh no.”

Gue juga horor nulisnya. Sangat horor. Itu hal terakhir yang gue tulis. Gue selalu, “Ntar deh. Ntar deh. Kita tunda.” Scene itu sama scene reenactment gue paling males nulis. Nunggu sampe beres. Sampe akhirnya semuanya beres baru nulis adegan itu.

And I have to write the full rape.

Walopun nanti diedit-edit tapi nggak bisa kan kita sebagai penulis I have to write the whole thing dan itu parah sih. Nggak enak banget.

Karena what happened to her, she need to control everything around her. Makanya ketika ada perubahan dalam hidupnya dia, dia go crazy gitu kan. Dia terganggu. Karena udah 8 tahun dia seperti itu.

still 27 steps of may 6

Next project apa? Sama Ravi lagi 10 tahun lagi? Hahaha…

Hahaha… Sama Ravi ada. He has an idea now yang mau dia kerjain. There’s one with Ravi.

Terus, I’m writing a thriller for Mira and Teddy.

Whooo… Thriller…

Hahaha… we’ll see

poster 27 steps of may

27 Steps of May tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 27 April 2019

Buffalo Boys dapat disaksikan di Netflix

Komentar