header1candra 01

This is for you, crazy Game of Thrones fans.

 

JANGAN DIBACA KALAU LO BELUM NONTON FINAL SEASON OF GAME OF THRONES

Game of Thrones adalah salah satu sedikit serial yang temen-temen gue udah nonton dan gue belum.

Sebelum Ramadhan tahun lalu, gue sama sekali belum nonton Game of Thrones dan sepertinya masih belum tertarik nonton Game of Thrones. Kenapa? Ya karena gue masih ada banyak serial lain yang belum gue tonton. Kedua, gue benci banget dengar kalimat, “What? Lo belum pernah nonton Game of Thrones? Bagus banget, Can!”

Semua orang shock bahwa gue, yang literally bisa makan, minum dan punya kosan yang viral™ karena gue nontonin film dan serial, ternyata belum nonton serial televisi terbesar di dunia saat ini.

got poster

Sebenernya ini bukan kejutan ya buat orang-orang di sekitar gue. Gue adalah orang yang semakin orang maksa gue untuk nonton/baca/dengerin sesuatu, semakin gue males. Apalagi kalau film/serial/buku yang direkomendasikan dapet critical acclaimed. Atau label “paling” dan “ter-“.

Itulah sebabnya sampe sekarang gue belum pernah nonton satu pun film Star Wars. Atau The Godfather.

(Bahkan ketika kuliah dan dosen gue maksa gue nonton Star Wars dan The Godfather untuk kelas Scriptwriting, gue nggak nonton dan bullshit aja di kelas pas ditanya)

via GIPHY

Tapi kemudian Ramadhan tiba. Waktu terasa lebih panjang dan gue kehabisan serial untuk ditonton. Dan karena gue tahu tahun depan alias tahun ini adalah musim terakhir Game of Thrones, gue akhirnya memutuskan untuk nonton Game of Thrones untuk pertama kalinya.

(Lo bisa nonton pengalaman gue nonton Game of Thrones untuk pertama kalinya di sinisini dan sini)

Dan to be honest, Game of Thrones emang bagus. At least sampe season keenam.

Game of Thrones menggabungkan semua hal yang gue suka dari sebuah tontonan yang adiktif:

 well written, well produced, well directed series

✔  storytelling ala telenovela (literally, semua orang saling bisik-bisik, saling konspirasi, saling curi denger)

✔  semua orang cakep-cakep

✔  setiap karakter mati (baik protagonis dan antagonis) rasanya epik banget

✔  setiap karakter balas dendam rasanya begitu memuaskan

✔  naga-naga

✔  zombie tanpa kepribadian

✔  adegan tak senonoh yang tak ada hentinya

via GIPHY

Salah satu poin positif nonton Game of Thrones secara maraton, nggak kayak penggemar setianya yang nonton per minggu setiap tahunnya dari tahun 2011, adalah gue bisa merasakan dengan jelas season mana yang terbaik dan season mana yang agak bikin gue “what”.

Makanya ketika masuk season ketujuh, gue kayak, “Kok jadi beda gini ya?”

Bukan karena season tujuh lebih dikit episodenya tapi lebih karena episode tujuh beneran beda banget mood-nya dari season pertama sampe season keenam. Salah satu hal yang gue admire dari Game of Thrones adalah dia sabar. Serial ini adalah salah satu serial yang paling sabar dalam bercerita. Dia nggak pernah buru-buru. Setiap perang, setiap intrik, setiap pengkhianatan, setiap konspirasi ada prosesnya. Nggak ujug-ujug ada. Nggak ujug-ujug kejadian.

Dan itu berubah. Mood itu mendadak ganti. Yang tadinya pindah dari satu tempat ke tempat lain butuh satu season tiba-tiba di season tujuh jadi cuman beberapa scene aja. Dan gue shock.

via GIPHY

Kemudian dirilislah musim terakhir Game of Thrones, yang episode terakhirnya dirilis kemarin.

Dari sejak episode lima, setelah Daenerys dibikin jadi villain, ada petisi yang minta HBO untuk remake ulang season terakhir Game of Thrones. Menurut si pembuat petisi katanya season terbaru Game of Thrones naudzubillah jeleknya.

Yang membuat gue bertanya: Siapa elu bisa minta HBO seenaknya bikin ulang Game of Thrones?

via GIPHY

Dan inilah alasan kedua kenapa nonton Game of Thrones in one sitting lebih “sehat” psychologically speaking daripada jadi fans setia dari tahun 2011: gue nggak ada attachment.

Don’t get me wrong, gue cinta dengan Arya dan Sansa dan orang-orang yang ada di dalamnya. Tapi gue nggak ada attachment dengan karakter-karakter yang ada di dalamnya karena gue nggak “tumbuh” bersama mereka.

Sementara orang-orang ini, gue yakin adalah fans-fans yang dengan setia menonton Game of Thrones dari tahun 2011 dan akhirnya kecewa karena kesimpulan dari serial yang mereka sangat idolakan ternyata kayak sinetronnya Raam Punjabi.

Gue sendiri bisa paham kenapa bisa mereka kesel. Tapi di sisi lain gue juga ngerasa kalo apa yang mereka lakukan sangat berlebihan.

Season terakhir Game of Thrones sama sekali nggak kayak Game of Thrones in the worst way possible. Gue ngerasa bahwa D. B. Weiss dan David Benioff begitu pengen banget nyunat ekspektasi penonton sehingga mereka bikin storyline yang sengaja buat mengecoh penonton.

Salah satu diantaranya adalah soal white walker. Game of Thrones literally dibuka dengan teror white walker. Dan betapa bahayanya mereka terhadap berlangsungnya hidup para manusia di Westeros. Gue mengira Game of Thrones adalah soal para pemimpin yang gelap mata soal masalah serius di depan mata (white walker atau global warming kalau kata George R. R. Martin) dan malah sibuk berantemin siapa yang lebih layak jadi pemimpin. Tapi ternyata ekspektasi gue dipatahkan karena white walker begitu gampang dibunuh di episode tiga season ini. Gue mengira dia akan menjadi penutup Game of Thrones setelah semua orang berdamai. Ternyata enggak.

via GIPHY

Tapi on the other hand, dengan keputusan ini gue mendapatkan adegan Arya yang super duper fantastis pas dia bunuh Night King. Doski adalah karakter favorit gue. Ngeliat dia jadi badass di season ini adalah satu impian terliar gue yang nggak pernah gue bayangkan. Jadi gue sangat hepi ngeliat dia berjaya.

Tapi tentu aja keputusan Weiss dan Benioff untuk “mengelabui” penonton berakibat fatal ke banyak logika cerita. Banyak batu bata yang udah dipasang dari season pertama ternyata nggak ada jawaban sama sekali. Atau jawabannya ternyata sangat mengecewakan.

Kayak Daenerys dibunuh sama Jon Snow? The fuck?

Atau ternyata yang megang Iron Throne sekarang Bran? The hell?

via GIPHY

Konklusi yang ada di Game of Thrones sebenernya menurut gue nggak 100% mengecewakan. Fakta bahwa Daenerys akhirnya jadi kayak bapaknya menurut gue adalah salah satu keputusan yang paling tepat. Banyak sekali pemimpin yang janji bakalan baik sama rakyat tapi end up melakukan hal yang sama kayak pemimpin-pemimpin sebelumnya. Sangat realitis, sangat dark, sangat Game of Thrones.

Tapi sayangnya ini semua dilakukan tanpa character development.

Semua argumen yang ada soal Daenerys make sense jadi jahat di season terakhir Game of Thrones adalah “karena udah di-foreshadowing” di season-season sebelumnya. Ya. Memang benar.

Setiap kalimat yang keluar dari mulut Daenerys emang creepy af.

I’m gonna take what’s mine with fire and blood.

via GIPHY

Selama ini kita sebagai penonton selalu nyaman mendengar ini karena Daenerys mewakili orang-orang baik. Dia membebaskan para tahanan dan budak. Dia menghukum para majikan jahat. Tapi coba lihat sekali lagi apa yang sebenernya dia lakukan? Nyalib orang. Ngebakar orang dan lain-lain. Dan kita suka-suka aja liatnya karena doski melakukan hal tersebut ke orang jahat.

Ya. Semua itu terjadi.

Tapi dibutuhkan lebih dari dua episode untuk bikin transformasi tersebut berasa realistis.

Gue kagum dengan apa yang dilakukan oleh Emilia Clarke sepanjang season terakhir Game of Thrones. Gue ngerasain marah dan rasa teralienasinya. Sayangnya materi yang datang ke tangan dia nggak sesuai dengan apa yang diperlukan oleh plot untuk menjadikan Game of Thrones jaya seperti season-season sebelumnya. Ya emang rasanya kesel kalo cowok yang sering lo ajak eue ternyata pemegang tahta yang resmi, lo nggak dianggep jadi ratu, prajurit kesayangan lo mati dan BFF lo dieksekusi.

Tapi apakah itu langsung make sense untuk bikin Daenerys jadi gila dan bakar King’s Landing?

via GIPHY

Hal-hal kayak begitulah yang membuat gue menyayangkan perjalanan Game of Thrones. Karena ending-nya sebenernya nggak bapuk-bapuk amat. Prosesnya aja yang kurang lama.

Tapi kemudian gue intropeksi lagi.

Ini tontonan.

Ada ribuan orang yang terlibat di dalamnya.

Untuk bikin delapan season Game of Thrones mereka butuh waktu kurang lebih satu dekade. Dan gue yakin Weiss dan Benioff dan para cast-nya udah bosen. Udah nggak sabar untuk move on. Mereka gue jamin, terutama yang bertugas nulis skrip dan bagian belakang layar, pasti udah nggak sabar untuk ngerjain proyek yang lain. Proyek yang lebih exciting. Eksplor hal lain selain Westeros.

Dan karena itulah gue legowo kalo pun emang Game of Thrones ending-nya seperti ini.

via GIPHY

At the end of the day, kita semua mutusin untuk menerima cerita tentang orang-orang Westeros melalui HBO. Dan HBO beserta pembuatnya memutuskan untuk mengakhiri serialnya dengan cara seperti ini. Bukan cara yang paling baik, tapi itu yang kita dapetin. Dan itulah yang harus kita terima.

Jadi buat para fans Game of Thrones yang protes dan pengen tanda tangan petisi buat HBO remake ulang season terakhir Game of Thrones: go fuck yourself.

Cari kesibukan lain gih. Coli kek.

Nonton Ramy. Atau Breaking Bad. Atau The Americans.

Literally ada begitu banyak serial di luar sana yang ready buat lo konsumsi.  

Atau kalo lo masih belum bisa move on dari Game of Thrones, ada satu cara lo bisa memuaskan hasrat lo dan lo gak akan suka saran gue: BACA BUKUNYA. Thank you and bye, Bitches.

Komentar