menatap realita melalui dua garis biru

Probably this year’s best coming-of-age.

 

Kalo lo belum nonton Dua Garis Biru, hal pertama yang harus lo lakukan adalah buka hape lo, beli tiketnya segera. Atau kalo lo masih gaptek, lo bisa lari ke bioskop terdekat buat nonton filmnya. This film is really good. It’s funny, it’s dramatic, it’s heartwarming, it’s heartbreaking and most importantly, it’s important. Dan film ini menurut gue nggak hanya harus ditonton para remaja tapi juga para orang tua.

Dan kalo lo jenis orang yang percaya bahwa film ini merusak moral bangsa karena mendukung sex before marriage atau mengajarkan hal-hal yang membuat lo masuk neraka dan lo memegang kepercayaan tersebut hanya berdasarkan sebaran di sosial media tanpa nonton filmnya sama sekali, gue menyarankan untuk lo mati aja karena nggak ada gunanya lo ada di dunia ini kalo lo nggak mau pake otak atau terlebih lagi hati.

Dan nggak. Di sini gue nggak bakalan nge-review Dua Garis Biru. Lo bisa baca review-nya di tulisan orang lain. Di sini gue mau bahas salah satu hal yang menurut gue paling menarik dalam film ini. Dan itu adalah gambaran soal status ekonomi karakter-karakternya.

1

“Can, berat amat sih? Tumben. Kenapa nggak bahas apa yang terjadi kalau karakter yang ada di Dua Garis Biru itu Rangga sama Cinta?”

I can, but maybe later.

2

Jadi, plot utama Dua Garis Biru adalah tentang kehamilan sepasang anak muda. Ada Bima (Angga Yunanda) dan Dara (Zara JKT48) yang berpacaran. Pacaran mereka gemas banget. Si Bima jelas bukan tipe cowok yang masculinity-nya begitu rapuh karena dia mau-mau aja di-makeup-in Dara untuk content sosial medianya.

4

Dan tentu saja ketika lo lagi berduaan di kamar nggak ada orang lain, geli-gelian aja bisa lead to another thing. Dan karena mereka berdua sepolos itu, keduanya pun have sex without protection. Dan ketika si Dara hamil, orang tua Dara dan Bima pun langsung turun tangan.

5

Yang menarik di sini adalah bagaimana Gina S. Noer ngegambarin dua keluarga, dari status ekonomi yang berbeda, menghadapi masalah dan bagaimana cara berpikir mereka bertabrakan satu sama lain.

6

Keluarganya Bima adalah keluarga yang status ekonominya ada di bawah. Bapaknya Bima (Arswendi Bening Swara) adalah seorang pensiunan sementara Ibu Bima (Cut Mini) buka warung nasi dan jualan kue-kue basah. Sementara itu Bapak Dara (Dwi Sasono) adalah seorang pengusaha dan Ibu Dara (Lulu Tobing) sepertinya businesswoman. Gue udah dua kali nonton tapi gue nggak ngeh kerjaan nyokapnya Dara apaan. Gue dengan sotoynya mikir kalo nyokapnya Dara adalah pengacara.

7

Dari segi cerita, menurut gue make sense kalo misalnya Dara dan Bima have sex di kamarnya Dara karena most of the time, orang tua dari keluarga yang status ekonominya tinggi, jarang ada di rumah. Bapaknya pasti sibuk kerja dan kalo pun si ibu adalah ibu rumah tangga, dia pasti punya banyak event yang dia lakukan karena image adalah hal yang krusial.

9

Dan rumahnya Dara, seperti rumah orang-orang yang status ekonominya tinggi, gede. Kalo pun orang tua ada di rumah atau ada pengawasan dalam rumah, it’s easier for them to sneak up dan make out. Kalo mereka mau. Susah untuk sneak out dan hohohihe kalo rumah lo kecil dan sempit seperti rumahnya Bima. Aneh banget lo pacaran di kamar kalo rumah lo di kampung. Yang ada lo bakalan diomongin tetangga.

10

Dari situ aja gue udah suka.

Kemudian kita ngeliat bagaimana cara orang-orang ini menghadapi masalah. Ketika Dara dan Bima ketahuan pihak sekolah, hal pertama yang dilakukan oleh orang tua Dara adalah mengancam dan bawa hukum. Why? Cause they can. Show them the money, hence, the power. Nggak ada yang bisa bikin orang yang ekonominya di bawah, seperti pihak sekolah misalnya, takut selain dengan ancaman hukum. Dan ngeliat betapa well-dressed-nya ibunya Dara, lo akan tau bahwa dia nggak becanda. You know she mean it.

11

Sementara itu di ruangan yang sama ketika orang tua Bima ketemu dengan anaknya, hal pertama yang mereka lakukan adalah narik anak mereka dan nanya. Apakah ini beneran? Atau ini cuman cobaan? Dan ketika terkonfirmasi bahwa, ya si Bima ngehamilin Dara, yang bisa orang tua Bima lakukan (terutama si Ibu) adalah nyebut nama Tuhan. Karena apa? Karena ini cobaan. Dan Tuhan adalah tempat dimana lo akhirnya mencari jawaban.

12

Dan adegan ini membawa kita ke poin berikutnya: religion.

Look, I’m not saying that semua orang yang status ekonominya tinggi pada atheis semua atau jarang ibadah. Atau nggak ada orang miskin yang agama cuman aksesoris KTP. Sama sekali nggak. Tapi, yang kebanyakan terjadi adalah seperti itu. It’s hard to asking for things kalo lo udah punya segalanya. Dan kalo lo kekurangan apapun, hal yang paling logic untuk dilakukan adalah punya harapan. And religion gives you hope. Kalo lo nggak berjaya di dunia, at least lo punya kesempatan untuk berjaya di akhirat. Dan kalo lo penganut agama yang taat, cara berpikir lo akan berbeda dengan orang yang indifferent sama religion.

13

Itulah sebabnya menarik banget ngeliat bagaimana kedua keluarga ini facing the problem. Sementara orang tuanya Bima sholat berjamaah dan berdiskusi tentang bagaimana cara mereka melewati this shit show setelah sholat, orang tua Dara menyelesaikan masalah secara individual. Like literally. Sementara Ibu Dara duduk di ruang tengah, bapaknya ada di ruang tamu. Mereka berada di ruangan yang sama ketika Dara turun dan confront mereka.

Kalo nyokapnya Dara bisa dengan seenak jidat bilang,”Jeung, udahlah ceraikan aja. Soalnya Dara mau saya jodohin sama Noah Centineo dan bisa aja kan nanti Bima nikahnya sama Lucinta Luna. Lumayan lho, Jeung, kaya raya doi,” nyokapnya Bima nggak bisa digituin. Nyokapnya Bima akan bawa nama Tuhan dan nggak kayak pendemo 212 yang menyuarakan nama Tuhan tapi sebenernya punya agenda lain, she really mean it. Dia ngerasa bahwa nikahin kedua anak mereka and stay for good adalah solusi terbaik.

14

Ada adegan menarik di Dua Garis Biru di mana si ibu Bima bilang bahwa dia sebenernya low-key malu jualan nasi di kampung. Yang gue tangkep di sini adalah bahwa dulunya keluarga ini lumayan comfortable. Mungkin mereka nggak kaya raya seperti keluarganya Dara tapi at least mereka berkecukupan. Ibunya Bima nggak perlu jualan nasi supaya mereka bisa bertahan hidup. Kemudian Bapaknya Bima pensiun dan semuanya langsung seret.

Speech-nya si nyokapnya Bima ditambahin dengan “kita ini orang susah, yang kita punya cuman iman dan harga diri”. Kalo gue mau jujur, gue sering banget denger phrase ini. Punya kesulitan ekonomi (baca: punya utang) nggak semalu ketika keluarga lo dihajar sama skandal. Dan orang-orang kampung ini ingatannya kuat. Makanya menghindari skandal adalah cara terbaik. Karena lo nggak mau di-refer sebagai, “Itu lho, anaknya Bu Tantowi yang hamil di luar nikah.”

15

Yang juga menurut gue sangat fascinating di Dua Garis Biru adalah penggambaran keluarga miskin tapi nggak dieksploitasi atau diromantisasi. Ada sekuens yang menurut gue mengingatkan gue akan Alice In Wonderland di film ini. Dan sekuens itu terjadi setelah *mild spoiler* nyokap Dara marah dan bilang ke Dara untuk jangan pulang ke rumah.

Dara akhirnya terpaksa tinggal di rumah Bima. Dan untuk pertama kalinya, Dara akan menginjak rumah Bima karena mereka nggak pernah pacaran di rumah Bima. Buat apa juga, di rumah Dara apa-apa ada.

16

Dan di sinilah si Dara melihat bagian lain dari istananya. Dia ngeliat betapa uang sangat berpengaruh terhadap ketentraman hidup ber-rumah-tangga. Dia ngeliat suami istri berantem, in public, tentang uang. Tentang kendaraan. Dia ngeliat anak-anak kecil mandi di kali. Dia ngeliat orang-orang sharing jembatan yang sempit. Dia ngeliat jemuran dipajang di tengah lorong sempit yang nggak ada matahari. Dia ngeliat bagaimana kalau lo di kampung, mobil muter balik aja susahnya minta ampun.

Dan Dara kemudian menoleh ke belakang. Nggak kayak Alice yang punya peluang untuk kembali ke dunianya, Dara nggak bisa balik. Kayak GPS yang masih nyala di hapenya Bima, situasi ini adalah “jalan buntu”.

8

Dan malam harinya Dara experience jadi orang susah untuk pertama kalinya. Panas. Bising. Lo ke-expose. Nggak ada tempat untuk sembunyi. Lo denger tetangga lo argumen. Lo denger suara musik payah dari sebrang. Lo denger suara orang jualan. Lo denger semua orang punya masalah yang sama.

17

Kalo lo nggak punya masalah, semua backsound ini nggak akan berasa. Tapi kalo lo kayak Dara yang dari berpotensi jadi calon mantunya Jokowi ke calon ibu rumah tangga yang nggak punya legacy apa-apa selain nikah muda, ini adalah mimpi buruk.

18

19

That being said, gue suka banget ending Dua Garis Biru. I think it’s one of the bravest thing yang bisa penulis dan sutradaranya present ke penonton. Yang dilakukan sama karakter-karakternya sama sekali nggak mengkhianati their whole personality, fear, hopes and dreams. Dan Gina bisa melakukannya tanpa membuat penonton teralienasi.

20

21

And that is why this film is sooooo goood.

22

poster

Dua Garis Biru tayang serentak di seluruh bioskop di Indonesia mulai 11 Juli 2019

Komentar