header pengabdi setan 2 tahun kemudian

Mari kita kembali reuni dengan Ibu.

 

Mari kita mulai artikel ini dengan sebuah pernyataan: gue adalah salah satu fans Joko Anwar yang militan. Seberapa militan? Gue udah ngefans sama Abang Joko (see?) sebelum ngefans sama Abang Joko fashionable. Abang Joko adalah orang yang bertanggung jawab kenapa gue pengen jadi filmmaker. Janji Joni membuat gue tersadar bahwa menghibur orang sepertinya seru kalo dijadiin profesi. Dan Kala membuat gue merasa bahwa gue bisa create dunia semau gue.

You know, untuk compensate dunia nyata lo yang nggak begitu menyenangkan.

Ketika Abang Joko memutuskan untuk bikin Pengabdi Setan, banyak orang naikin alis. Golongan pertama adalah orang-orang yang terlalu cinta sama horor klasik karya Sisworo Gautama Putra tersebut dan ngerasa takut kalo Pengabdi Setan yang baru bakalan kacrut. Seperti kasus remake-remake yang lain. Golongan kedua adalah orang-orang yang ngerasa bahwa Abang Joko seperti “turun kelas” untuk bikin film horor. And I get it. Setelah lo sukses bikin film kayak Pintu Terlarang, arguably one of the most difficult film to even exist, kenapa harus bikin film horor yang terornya adalah perempuan bergaun putih dan rambutnya panjang?

Biasanya argumennya ditambahin dengan, “Dia nggak capek ya bikin horor terus?”

1

2

Sebagai fans Abang Joko, tentu saja gue ngerasa argumen tersebut agak kurang valid karena film-film Abang Joko kalo lo perhatiin cukup diverse. Dia nggak pernah repeat order. Janji Joni adalah romantic comedy, Kala adalah noir-mystery, Pintu Terlarang adalah psychological thriller, Modus Anomali adalah mystery gore dan A Copy Of My Mind adalah romance. Pengabdi Setan adalah film pertama Abang Joko yang bergenre supernatural horor. Emang ada Pindoro di Kala but he’s not really a ghost, is he?

Itulah kenapa ketika Pengabdi Setan mau dibikin sama Abang Joko, I’m so excited.

3

4

Pengabdi Setan dirilis 28 September 2017 dan the film changed the whole game. Like literally. 4,2 juta penonton dan 13 nominasi FFI kemudian (Pengabdi Setan memenangkan tujuh penghargaan), Pengabdi Setan resmi menjadi film horor tersukses dalam sejarah perfilman nasional. Bocah-bocah yang nggak tahu siapa itu Gambir dan Talyda jadi tahu siapa Abang Joko. Dan mulai ketimpringan, “Dia bikin film apa aja sih?”

5

6

Yang menarik dari fenomena Pengabdi Setan adalah sebenarnya komentar-komentar dari orang yang nggak suka dari film tersebut.

“Sereman yang lama ah. Bikin gue lebih jiper.”

“Apaan sih cuman jumpscare-jumpscare doang.”

Both comments are valid tapi komentar favorit gue datang dari beberapa pembuat film lokal (I’m not saying who) yang dengan asyiknya bisa berkomentar:

“Hmmm… gue juga bisa bikin kayak gitu.”

Hmmm… You bet.

7

8

Komentar “gue juga bisa bikin kayak gitu” sebenarnya bukan pertama kali gue denger soal filmnya Abang Joko. Ketika A Copy Of My Mind dirilis dan sekali lagi mendapatkan critical acclaimed, banyak beberapa pembuat film yang nyeletuk “ih, gitu gue juga bisa bikin.” Dan you know what,

via GIPHY

Tapi ini yang menarik. Cuman karena keliatannya “gampang”, bukan berarti bikinnya juga mudah.

Cara yang paling gampang menilai betapa susah bikin film ini adalah dengan menilai film-film horor yang dirilis setelah Pengabdi Setan dirilis.

10

11

Menurut Wikipedia, Pengabdi Setan menghasilkan 16,2 juta dollar (226.800.000.000 rupiah kalo se-dollarnya 14.000) dari budget 150 ribu dollar (2 milyar rupiah). Ini gue nggak tau apakah itu semua cuman dari theatrical release atau termasuk hasil penjualan rights untuk streaming service dan lain-lain but boy, that’s a lot of money. Dan tentu saja dengan angka super fantastis itu, siapa yang nggak mau ikutan?

Dan itulah yang terjadi. Begitu banyak film-film yang mencoba untuk menjadi the next Pengabdi Setan setelah Pengabdi Setan dirilis. Horor Indonesia sebelum Pengabdi Setan biasanya dibuat dengan asal-asalan. Visualnya ala kadarnya dan yang penting ada hantunya dan menampilkan at least satu talent terkenal (atau nggak terkenal sama sekali tapi yang penting seksoy dan pulen, tergantung PH mana yang bikin). Di awal-awal 2010-an, film Indonesia isinya bahkan horor semua. Dan semua template-nya sama: keseksian mbak-mbak dan kehadiran hantu ditambah dengan judul provokatif.

Kayak Hantu Sundul Parabola atau Hantu Goyang Dancehall.

12

13

Sementara itu, setelah Pengabdi Setan hampir semua film-film horor lokal mempunyai benang merah yang sama: visual yang aduhai. Karena itulah emang yang pertama kali di-notice orang-orang ketika Pengabdi Setan dirilis. Visualnya indah. Lebih indah dari kebanyakan film Indonesia bahkan. Dan penonton banyak yang terkejut karena kebanyakan horor Indonesia yang mereka tonton sebelumnya secara visual ya ala kadarnya. Itulah sebabnya film-film horor jaman sekarang post-Pengabdi Setan visualnya sangat Instagrammable.

I’m not complaining though.

Tapi ada satu yang dilupain oleh para copycat Pengabdi Setan. Camera work di Pengabdi Setan bukan cuman secara visual enak dilihat tapi dia didesain khusus untuk bikin penonton ketakutan. Seperti halnya komedi, horror is all about timing. Lucu ya, sesuatu yang sering dianggap sebelah mata ternyata sebenarnya kalo dikulik sungguh sangat technical. Bikin orang takut, itu harus pas momennya. Lo harus ngebangun mood, nge-build suspense kemudian jreng-jreng… Or ternyata cuman tipuan. Terserah yang bikin. Tapi semuanya harus ditata. Kayak arsitek. Atau politikus ketika mau bikin kudeta. Kalo nggak, ya bakalan nggak ngaruh apa-apa. Itulah sebabnya banyak horor Indonesia yang nggak ada set-up apa-apa, nggak dikasih informasi apa-apa tiba-tiba udah nampilin mb kunti di pojokan nggak bakalan bikin penonton jerit. At least kaget doang kalo misalnya musiknya kenceng banget.

14

Contoh paling gampang untuk ngeliat betapa camera work di Pengabdi Setan sangat diatur temponya adalah ketika si Rini (Tara Basro) naik ke kamar ibunya. Di situ penonton benar-benar dipersiapkan banget dengan apa yang terjadi. Dan ketika ternyata horor itu cuman mimpi, kemudian Rini kebangun dan hal yang sama terjadi lagi, penonton dikasih suspense tambahan. Kalo yang terjadi sebelumnya aja udah serem, yang berikutnya apa?

Hal kedua yang sering juga dilupakan sama copycat Pengabdi Setan adalah bagian perkenalan. Sebenarnya semua jenis film membutuhkan bagian introduction yang baik supaya penonton bisa connect sama karakter-karakter filmnya. Tapi dalam kasus film horor, lo butuh introduction yang lebih mantep supaya penonton care kalo mereka kenapa-kenapa. Supaya penonton khawatir kalo misalnya tiba-tiba ada lampu mati. Nggak keitung berapa kali gue nonton film horor, baik Indonesia atau horor bule,  dan berharap main character-nya mokat cuman karena gue nggak care at all sama mereka.

15

Dan Pengabdi Setan adalah salah satu contoh film horor yang paten untuk nunjukin bagaimana berkenalan dengan baik. Seperti halnya foreplay yang mantap, Pengabdi Setan nggak buru-buru. Nggak ada satu pun setan yang muncul selama intro yang berjalan sampai kira-kira 20 menit. Karakter Ibu (Ayu Laksmi) baru meninggal di menit ke-20-an. Dan selama itu, lo dikenalin nggak hanya ke setting, karakter-karakternya tapi juga hal-hal krusial yang nanti akan digunakan Abang Joko untuk bikin lo jerit di bioskop.

Selama kira-kira 20 menit, lo dikenalin siapa aja karakternya (siapa aja personil keluarga ini), gimana interaksi antar karakter (harmoniskah atau kayak kubu 01 dan 02), apa habit karakter-karakternya (siapa yang suka nyisirin rambut), masalah apa yang sekarang mereka sedang hadapi (berapa lama si Ibu sakit) tapi juga kenapa ada kelontengan, dimana rumah mereka berada (like literally tetanggaan sama kuburan), lagu si Ibu dan keanehan-keanehan yang terjadi di sekitaran Ibu. Jadi ketika tiba-tiba Toni (Endy Erfian) dengerin radio dan lagu si Ibu muncul, lo akan merinding sendiri tanpa perlu gimmick yang berlebihan.

And *that’s* a good scriptwriting.

No wonder everyone thought *it's easy*. Because it looks so easy.

16

17

Terakhir, mungkin yang gue adore dari Pengabdi Setan adalah bagaimana Abang Joko bisa bikin materi yang bukan punya dia menjadi terasa kayak punya dia. Gue tadi bilang bahwa film-filmnya Abang Joko nggak ada yang sama karena dia nggak suka repeat order tapi di saat yang bersamaan, semua film-film Abang Joko punya benang merah yang sama. Mereka semua punya tanda tangan. Kalo lo nonton, lo akan langsung bisa identified, “Oh ini yang bikin Joko.”

Berbeda dengan versi lamanya, Pengabdi Setan yang baru ini nggak hanya ngomongin soal “setan” tapi juga sebuah organisasi rahasia yang memuja setan. Dan sistem kerja para pemuja setan ini jauh lebih well-planned daripada Kemendagri yang mau laporin orang ke polisi yang justru nunjukin gimana mereka bisa memperbaiki kerjaan mereka (don't get me started on this one). Dan “organisasi” atau sekelompok power yang bigger than us ini bisa ditemui di semua film Abang Joko.

18

Di Janji Joni ada Adam Subandi dan geng para pencuri. The whole Kala is about this. Pintu Terlarang ada Herosase. Modus Anomali membuat gue mempertanyakan siapa karakter Rio Dewanto ini dan siapa yang nyiptain “obat” itu. Kisah cinta Sari dan Alek di A Copy of My Mind literally diganggu sama “organisasi”. Dan di Pengabdi Setan, Abang Joko literally membuat para pengabdi setan menjadi sebuah geng yang punya ritual dan mannerism sendiri.

Di sebuah era dimana bikin film dengan ide cerita original sungguh susah (karena para produser prefer untuk bikin film yang IP-nya udah ada supaya balikin duitnya gampang), punya kemampuan untuk bikin sesuatu yang bukan punya lo tapi tetap terasa milik lo adalah sesuatu yang sangat *marvelous*. Seakan itu belum cukup, di ending Pengabdi Setan Abang Joko baru kasih tau bahwa ternyata Pengabdi Setan versi dia bukan remake tapi merupakan prequel.

19

Gue nggak nyalahin orang-orang yang bilang “gue juga bisa bikin kayak gitu” ketika nonton A Copy Of My Mind atau Pengabdi Setan cause frankly, I get it. Abang Joko bikin semuanya keliatan so easy. Kayak effortless. Kayak semuanya tuh gampang dibuatnya. Kayak “pembuat filmnya tinggal ngambil Tara Basro dan ditambahin gambar cantik dan perlu dimodifikasi sedikit and voila… A piece of something*.”

Dan sekarang lo tahu, buat bikin sesuatu yang enjoyable tapi fun, butuh effort yang besar.

*kalo lo get referensi ini, I fucking love you

Pengabdi Setan bisa disaksikan di Netflix mulai 3 Agustus 2019

Komentar