uncensored interview tara basro

She’s killing it.

 

Gue kenal Tara Basro personally sejak 2013 ketika dia main di film pendek temen gue. Meskipun saat itu namanya udah terkenal, she’s very friendly, very nice, sama sekali nggak ada diva-divanya walopun dia main film pendek sama mahasiswa. Dan ternyata dia masih sama seperti pertama kali gue kenal. Padahal doi udah membintangi film box office dengan empat juta penonton lebih dan Piala Citra di tangan.

Dan seperti yang lo semua tau, Tara Basro adalah muse-nya Joko Anwar. Empat film terakhirnya; A Copy Of My Mind, Pengabdi Setan, Gundala dan Perempuan Tanah Jahanam yang akan tayang 17 Oktober, semuanya ada Tara di tengah. And I wanna know. What’s her process. Bagaimana dia bisa masuk industri perfilman. Bagaimana cara dia coping stress. Bagaimana dia dealing with insecurities dan sebagainya. Berikut ini adalah bagian pertama uncensored interview with Tara Basro:

Mari kita mulai. Uncensored interview dengan ibu Tara…

Hahaha…

Lo lagi sibuk apa sih? Promo?

Ya gini-gini aja. Gue lagi sibuk mencari jati diri, mencari cinta dan promo.

Emang lo masih mencari cinta?

Masih. I’m always looking for love.

Lo single? Current relationship lo single?

Currently single. Baru single. But I don’t know what single is anymore so…

Tapi ada yang deketin kan tapi? Maksudnya kayak… fling fling gemas gitu ada kan?

Ada. Tapi dengan seiring berjalannya waktu dan gue bertambah dewasa, I feel like I’ve gotten really picky. And scared. Ngerti nggak sih lo? Kayak, “Oh my God. I’ve failed so many relationships.” Getting to know new person. Nahan kentut. Ya nggak?

Ya nggak sih kayak dari kecil ternyata kita tidak diajarkan bahwa mencari someone that you love ternyata nggak segampang itu.

Gue dari kecil tuh hopeless romantic. I’m into the whole fairytale dan segala macem. Kayak, “One day there’s going to be a prince that blablabla…” makanya for me ketika gue udah dewasa dan ngerti soal hal tadi, gue jadi kayak, “Fuck. I actually have to love myself.” And that is the hardest part.

Dan sampai hari ini tuh gue suka masih mikir, “Have I love myself enough?”

Terus masihkah gue memprojeksikan my traumatic childhood experience dan segala macem gitu-gitu lho. Am I still going back to the pattern yang harusnya gue break?  Tapi at the end of the day, gue sadar kalo ternyata I’m just being fearful.

1

Lo punya tipe gak sih?

I don’t have a type. Tapi gue suka banget cowok yang humoris.

Physically?

No. You can be ugly but funny and I’ll love you. Hahaha…

2

Make sense.

Daripada yang cakep tapi grumpy grumpy? Ya Allah males banget.

Sebelum lo main di Catatan Harian Si Boy lo udah ada bayangan nggak sih. Semacam, “Oh gue mau jadi aktor.”

No. For some people, banyak banget yang passionate in film, ngerti soal kamera, film, nonton religiously. Kalo gue tuh nggak. Dan buat gue Catatan Harian Si Boy tuh kayak, “Oh it’s fun. Let’s try this out.” And there’s an excuse to skip school.

Trus lo casting apa ditemuin orang?

Casting lah. Siapalah gue…

Natalie Portman ditemuin orang!

Ya kan Natalie Portman.

Shandy Aulia ditemuin di mal, cuy, katanya buat Eiffel… I’m In Love.

Oh ya? Gue sih nggak ya. Gue ikutan casting Onrop-nya Bang Joko. Obviously I didn’t know how to act. Even until today I doubt myself.

7

Lo bisa nyanyi emang?

Nyanyi nggak off tune ya bisa lah. Nyanyi Inul Vizta gue bisa lah.

Tapi I feel the acting part. Di situ gue ketemu sama casting directornya. Si Arwin. Terus udah gitu dia tiba-tiba telpon. “Tar, gue ada casting film. Mau nggak?”

Gue langsung kayak, “Film?” Karena itu sama sekali nggak ada di kepala gue that one day, I can be in a film. Kalo misalkan photo shoot gitu-gitu gue sih masih bisa.

Lo dulu modelling?

Dulu gue GadSam. Gadis Sampul. Tapi itupun karena gue centil aja. Suka foto-foto apa segala macem. Narcissistic bitch-lah gue dari dulu until today. Trus udah gitu yaudah gue ikut Gadis Sampul. In a way buat gue to prove that I cool enough. Karena dulu pas sekolah gue di-bully parah.

Di-bully pas kapan?

Pas SD dan SMP. Lo kebayang nggak pas SD gue dimusuhin sama semua angkatan kelas lima dan kelas enam. Bahkan Abang gue sama gue bilang, “Main sendiri lo.”

Why?

I have no idea. Jadi dulu ada sahabat gue, literally, Can, dia tuh nginep di rumah gue. Apa-lah yang nggak gue kasih ke dia. Trus dia provokatif aja ke anak-anak, “Pokoknya jangan temenin Tara. Pokoknya yang nemenin Tara dimusuhin juga.” Itu gue sakit hati banget.

Trus hari ini kalo gue ketemu sama mereka, mereka kayak, “Eh Tara kita kan satu sekolah kan dulu wekwekwekwek…” Trus gue kayak, “Yeah, Bitch. But no.”

SMP gue juga di-bully trus gue dibelain sama Nadia Saphira. Dan anak-anak kelas duanya nge-bully gue karena apa? Karena gue pake bando.

8

Lo SMP di mana sih?

Gue di BM. Bhakti Mulia. Gara-gara gue pake bando pink.

Karena lo lagi chanelling Cinta ya pasti…

Oh iya… pasti! Pasti. Trus apa-apa pink gitu kan. Trus digencet. Dan gue di sekolah tuh cupu banget. Like I didn't like confrontation. I don’t like conflicts. Jadi tiap hari gue mau ke sekolah tuh nangis. I asked my mom like, “Gak mau pergi ke sekolah.” Karena gue benci banget konflik dan konfrontasi. Dan akhirnya Gadis Sampul tahun 2005. And it took me several tries, nggak langsung masuk.

Trus abis itu blablabla diajak casting Catatan Harian Si Boy. Karena mungkin role-nya nggak terlalu signifikan yaudalah mereka mungkin, “Biarkan si anak piyik ini mencoba.” Desperate juga kali ya karena mereka udah mau syuting. Jadi ya…

Trus kuliah gimana? Waktu itu lo lagi kuliah kan?

Oh iya. Jadi drama karena gue harus syuting kan. Akhirnya orang tua gue bilang, “Yaudah if you decide mau leave sekolah.” Akhirnya main lah film Catatan Harian Si Boy. I learn a lot. Trus udah gitu, gue kirain, everything is going to be easy.

Sebulan, dua bulan. Gue kagak kerja. Ya kan? Bokap gue sampe kayak, “Kamu ngapain sih di rumah mulu? Udah berhenti sekolah. Nggak ngapa-ngapain.” And I’m like, “Iya… sabar ya…” And I wasted several years tapi ya it’s a learning process sih.

Gue merasa di awal-awal karir tuh gue merasa naif banget. I thought people will treat you the same as I treat people. Kirain it’s an honest industry. Naif banget ya gue? Goblok banget.

Trus udah gitu I learn everything in a shocking way. Gue pernah main di film dan tiba-tiba semua adegan gue di-cut semuanya. Scene-scene important gue ilang. And I found out in the most rude way. Jadi gue lagi pergi ke party trus produsernya bilang ke gue, “What happened to my favorite girl in the movie?”

5

Trus gue kayak, “What happened?”

Dia bilang, “Oh shit, they haven’t told you yet? Jadi gini gini gini…”

Trus gue langsung whatsapp sutradaranya dong. “What the fuck happened?”

Jadi kalo lo liat filmnya, kesannya gue jadi kayak mbak-mbak cameo. Not even cameo. Extras gitu yang muncul dikit banget karena dipotong di editing.

3

Alasannya kenapa?

Nggak tau. Kepanjangan. Durasi. Kalo gue tau bagian gue akan tampil cuman segitu, gue nggak akan ambil tuh film. Buat apa gue susah-susah… Karena itu menurut gue salah satu film yang… gue kira akan gimana. Gue sampe topless lho.

Serius lo?

Ya dari belakang… I went the whole mile tapi dipotong tuh rasanya…

Sad sih. Itu sad banget.

Trus gue juga pernah syuting buat recce, test cam trus seminggu sebelum syuting sutradaranya bilang, “Kamu nggak cocok ternyata jadi karakter ini.” One week sebelum syuting dia bilang gitu. Dan ini prosesnya udah berbulan-bulan. Udah kayak tiga-empat bulan. Trus gue jadi, “Mohon maaf, kalo emang nggak cocok, dari casting harusnya lo udah tau dong?”

Awal-awal karir gue tuh, “What the fuck?” Ini tuh makan ati banget. Dari semua perjalanan ini tuh gue belajar not to be attached to any production. Intinya ya do your job, you act.

9

Karena ternyata nggak ada jaminan kan?

Exactly. The final product tuh gue nggak bisa kontrol. Nggak ada andil gue. Gue nggak tau ya aktor-aktor lain yang lebih influential atau have bigger bargaining power, have a say. Kalo gue sih belum pernah. I never been in that position before. Gue selalu kalah sama keadaan.

So sad.

It is sad. Karena gue pikir tuh dunia perfilman tuh is very glittery. You know. Fun. Sampe gue ngambil FTV FTV, Can.

Untuk stasiun apa?

TransTV gitu-gitu. Gue yang kayak menangis di dalam.

Apa bedanya syuting film dan syuting FTV?

Menurut gue banyak banget orang yang kayak, “Syuting sinetron FTV dan sinetron nista” apa segala macem. Tapi menurut gue tuh belajar banget sih. Gimana caranya lo bisa, pemain-pemain bisa nangis on cue. Terbiasa beradegan dengan tembok.

It's a different set of skills kalo menurut gue.

Iya. Gue sering banget, Can, diomelin. “Tara, matanya salah!”

Karena gue nggak bisa ngomong tembok, Can. Jadi gue kayak, “Huaaa… susah.”

Dan menurut gue senista-nistanya sinetron, FTV, lo belajar sama hal yang baru. So I respect these people. Trus udah gitu skripnya baru datang sejam yang lalu. Dan gue ngapalin dialog sambil, “Anjirrr…”

Trus udah gitu menurut mereka, akting gue flat banget.

Karena akting sinetron FTV kan agak theatrical kan…

Iya… Iya banget. Jadi menurut mereka, tiap kali gue akting mereka selalu, “More more more more.” Dan gue kayak, “SEGINI???” Hahahaa…

Jadi gue kayak lumayan belajar jadinya. It’s not an easy job to do. Kayak semua orang punya pilihan gitu jadinya.

Lo satu judul FTV berapa hari syutingnya?

Kayaknya empat hari.

Lo kebayang nggak kalo lo stripping tiap hari?

Gue sempet mikir, Can. Apa gue stripping aja kali ya? Karena ada fase dimana nggak ada tawaran film yang oke. Sedangkan, of course I need money. Trus gue mikir, “Anjing, siap nggak ya gue?”

Ibaratnya, you’re selling your soul. Lo di set terus. Kayak, gue ngeliat orang-orang ini super prepared. Gue dateng cuman bawa diri dong. Mereka udah bawa kursi sendiri, bawa playstation, makanan, bawa au ah apa segala macem. Untuk entertain themselves. Sedangkan gue cuman masih duduk di bangku bakso. Sedangkan mereka udah yang kayak…

“Welcome to my crib…”

Iya banget. Gue langsung, “Oh gini ya…” Gitu

Kayak kalo misalnya lagi nggak kerja, gue yang kayak I went into a bitter state. Yang kayak, “I don’t wanna do films anymore.” Tapi ketika gue ada di set ngerjain proyek yang gue seneng banget. Gue langsung, “Now I remember why I love it so much.” Gitu sih.

4

Setelah FTV-FTV main di Pendekar Tongkat Emas.

Yeah, I went into The Right One. And met the wrong one.

poster the right one

The Right One itu sebelum Pendekar Tongkat Emas?

Sebelumlah!

Kan rilisnya bareng soalnya 2014.

Oh oke. Yayaya. Seperti yang gue bilang tadi, I met the wrong one. Hahahaha… Makanya, right now kalo orang-orang bilang ke Bang Joko, “Tara lagi, Tara lagi,” I’m like, “Kalo gue boleh milih ya, gue juga nggak bakalan main di film Abang terus-terusan.” But then again, working with him is always fun. Kayak dia tuh mengajak cast and crew-nya untuk tumbuh bersama and create more and more and more. And it’s learning experience juga. Jadi… gue ngerasa walopun gue selalu main di filmnya Abang, it’s always challenging and it’s always different.

6

Tapi kan emang selalu beda-beda juga kan?

Iya. Tapi kan tetep aja, orang-orang selalu bilang, “Ah, Tara mulu, Tara mulu.” Padahal kalo lo liat filmnya Bang Joko, orangnya ya itu aja semua.

Emang! Even krunya aja sama.

Iya. I guess when you’re comfortable dan udah satu visi, jadinya ya udah…

Menurut gue kerja sama kru yang enak juga equally important…

Very

Kalo gue prefer skill bisa nomer dua tapi kelakuan lo di lokasi bikin gue pusing apa nggak.

Iya banget. Udah gitu kalo kerja sama PH yang bukan punya Abang Joko, PH lain misalnya. Trus misalnya ada selipan kru baru dari PH ini, keliatan banget. Dan itu gue mengerti kenapa akhirnya setiap sutradara punya krunya masing-masing. And it’s important. Apalagi kalo semuanya punya creative mission and vision yang sama. Kalo tiba-tiba ada satu norak sendiri pasti akan ngaruh.

Lo di Pendekar Tongkat Emas casting?

Casting. Even di film-filmnya Abang Joko gue casting. Kecuali A Copy Of My Mind ya. Kalo itu gue diajak.

Lo di-“halo” ya?

Iya kayak, “Halo?”

Lo berapa lama latihan untuk Pendekar Tongkat Emas?

Tiga bulan. Eh wait. Enam bulan. Syutingnya tiga bulan.

pendekar 1

Lo ada basic martial arts gak sih?

Ngga. Zero.

Jadi lo emang latihan dari nol?

Gue latihan dari nol. Enam bulan. And the final product didn’t do justice. For our six months of training. Syuting tiga bulan, training enam bulan.

Lo syuting tiga bulan di Sumba kayak gimana tuh rasanya?

Anjir itu sumpah gue sama Eva Celia dan semuanya udah kayak orang lokal. Kemana-mana pake sarung trus item banget, gosong. Trus udah gitu kalo kita ada libur, kita ke Bali kan. Ngeliat Burger King tuh kayak, “Oh my God…” Karena di sana resources-nya juga nggak banyak kan. Jadi ngeliat nasi box tiap hari tuh udah mau nangis. Three months of that.

Apa yang lo rasakan ketika pertama kali lo nonton filmnya?

“What the fuck?”

pendekar 2

HAHAHAHAHA… Apa yang bikin lo kecewa atau mungkin tidak seperti yang lo bayangkan?

Editing. Karena sebenarnya we shot every single necessary shots. Like every-thing, Can. Mo detail kelingking lo, sampe upil lo, ada.

Karena film action dan horor kan spesifik. Visually lo harus clear.

Ya itu kan filmnya banyakan close medium shots gitu kan. Movement-nya nggak keliatan.

pendekar 3

Padahal lo udah terbang-terbang ya?

Sumpah, Can. Gue udah diterbangin dari jurang mana ke jurang mana. Udah luka-luka. Udah nangis dan darah. Itu sampe training-nya lama banget, gue sama Eva Celia udah ganti-gantian having a mental breakdown. Jadi itu trigger-nya bisa hal kecil. Misalnya long day training, tiba-tiba nggak sengaja kena pukul tuh the guilt-nya bisa sampe kayak nangis dan, “I’m so sorry. I can’t do this anymore.” Sampe kayak gitu. Gimana sih kan soalnya badan lo nggak terbiasa dengan itu. Itu kita training every single day. Yang disuruh bisa split dan apa segala macem. I enjoy the process tapi ada momen-momen di mana gue yang kayak, “Fuck.”

Gara-gara proyek itu gue kalo ditawarin film action lagi gue kayak, “Um, I’m not sure.” Karena preparasi waktu yang lama aja ternyata nggak cukup. Lo kebayang nggak kalo film lain yang preparation-nya cuman sebulan gitu. Makanya ini Sri Asih gue cuman bisa bilang, “Pevita, good luck.”

Dan apa yang akhirnya pelajaran yang bisa lo petik dari Pendekar Tongkat Emas?

Ya itu sih yang gue bilang bahwa belajar let go of the things you cannot control. Cause the end of the day, you have to compromise. If you wanna work with good directors or good productions pasti ada aja yang dikompromi juga. Gitu.

Gimana perasaan lo di film itu karena lo bisa “nongkrong” dan akting sama aktor kayak Nicholas Saputra, Reza Rahadian…?

Makanya di situ I put so much pressure on myself. Nggak usah Nicholas sama Reza. Itu di situ ada Christine Hakim! Gila!

Lo satu frame sama dia ya?

Iyalah!

Oh yang ngebunuh dia lo apa Reza sih?

Kami berdua. Hahaha… Dia kan ceritanya gurunya. Itu my first huge production. Itu ekspektasinya tinggi banget, Can. Buat pemain pun gue kayak, “Well…”

Jadi gue nonton duluan pas press screening. Jadi gue udah siap-siap pas premiere. Tapi ya gitu, balik ke pertanyaan tadi, karena ada Christine Hakim dan lain-lain, I even put pressure on myself. Itu production pertama gue dengan PH besar, orang-orang besar dan little old me kayak, “Huhuhu…” Jadi ya it’s a learning process. Banget. Itu di mana gue kayak, “Oke. Ini serius.”

Kayak project-project sebelumnya gue tuh masih kayak doing it for fun. Ini nggak fun. Ini serius. This is your career. This is your life. Karena sebelumnya I was really young, masih main-main banget. “Shooting hari ini…. Hai dan blablabla.” Dan yang ini kayak game face on. “This is my reality now.”

pendekar 4

Ibaratnya ini kan sebelumnya lo akting bareng Gandhi Fernando dan kali ini sparing partner lo adalah Reza Rahadian. Apa yang akhirnya lo pelajari dari itu?

Dari dulu gue selalu interested in stories and people’s mind, people’s behavior. Akting menurut gue menarik banget. Walopun gue nggak mendalami akting seperti orang lain tapi menurut gue human minds dan hal-hal seputar itu tuh kayak social behavior tuh menarik. Jadi buat gue be able to act it out and try things tuh yang menarik buat gue. Dan ngeliat Reza, cara prosesnya seperti apa, ngeliat Nicholas kayak apa, ngeliat Bu Christine kayak apa, gue tuh, “Oh wow.”

Dan ngeliat professionalism mereka yang kayak gitu tuh gue kayak, “Oke.” Dan ngeliat tim art yang create dunia sebegininya tuh gue kagum. Itu desanya dibikin lho. It’s one of the most beautiful set I’ve ever been.

Apakah A Copy Of My Mind adalah film yang jadi katalis dalam karir lo? Yang paling “jedar”.

Bisa dibilang begitu. Tapi rasanya pas proses syuting tuh nggak gitu.

copy 1

Lo nggak merasa bahwa filmnya akan jadi begitu?

A Copy of My Mind tuh nggak ada bujet.

Abang Joko ngasih alasan nggak kenapa yang dipilih lo?

Gue nggak tau sih. Trus udah gitu a very small production. Nine days of shooting. Ya hahahihi banget nggak sih?

copy 2

Is there any script?

Nggak ada. Eh ada tapi most of the time improvisasi. Dan Bang Joko as a director is so good at leading the story, leading the actors. Jadi rasanya kayak ngobrol-ngobrol yang di-capture. Nah makanya di semua filmnya Bang Joko dia ngejar itu kan. Dia ngejar si naturalnya ini. Jadi banyak orang-orang yang ngeliat gue kayak, “Flat banget.”

copy 3

“Itu nggak akting!”

Iya. Nggak seru atau flat banget. Tapi ya emang itu yang dikejar. Untuk A Copy Of My Mind sama sekali nggak ada bayangan that we were gonna travel membawa filmnya. Dapet piala Citra juga. Jadi gue kayak, “What is going on?” I was not ready.

Lo belajar mijet dan creambath gak sih buat film itu?

Dulu gue tuh suka creambath kan di tempat itu. Karena dia jualannya masker sehat, alpukat, aloe vera. Dan murah. Pas gue liat ya itu bergentong-gentong dan gue yang, “Ini yang dipakein ke rambut gue?” Orang-orang yang suka facial. Lo nggak tau kan itu creamnya dari mana?

Akhirnya lo tercerahkan gara-gara syuting film itu?

Tapi kayak untuk melihat ternyata Jakarta tuh range sosial ekonominya jauh banget.

copy 4

Social classnya emang jomplang banget.

Kosan yang gue syuting, Can, itu kamarnya baaanyaaakkk banget. Kamar mandinya cuman ada dua atau tiga. Jadi kalo lo ke kamar mandi lo ngantri bawa gayung. Tiap pagi ngantri. Mau masak indomie juga ngantri. Kamarnya juga cuman kecil banget. Trus selama ini gue ngeluh-ngeluh, “Anjing kosan gue kecil banget.” Haloooo…..

Lo diketuk realita…

Iya. Lo tuh fucking privilege kids, Tara. Trus udah gitu orang-orang ini struggle everyday. Karena Abang juga nyari lokasi yang very authentic. Lokasinya yang dalem-dalem gang gitu. Gue kayak, “People do this to survive in this big ass city.” Untuk mengejar mimpi kerja di kota.

Eventhough lo nggak ada skrip, persiapan reading dan lain-lain berapa lama?

Gue lupa berapa lama tapi methodnya Abang tuh very interesting. Trus udah gitu kayaknya ini pertama kalinya gue akting with a cute co-star.

copy 5

Emang lo nggak menganggap Reza Rahadian cute?

Oh iya cute. Tapi ini kan romance. Jadi dari dulu sampe sekarang, tiap karakter sama Abang tuh dikasih kayak pdf sheet gitu about the background story dan segala macem. Jadi ketika kita udah baca, he would do things like interview. Misalkan kayak, “Oke karakter Sari hari ini akan interview kerja sebagai mbak-mbak di salon…” atau apa gitu. Dan di situ he will determine and help us kira-kira gimana sih ini karakter akan react in certain situations. Dan dia akan nanya, “Kira-kira emang bener dia akan kayak gitu?”

Jadi kayak discussions dan sampe sekarang mau skripnya panjang-panjang kayak Perempuan Tanah Jahanam atau Gundala, dia nggak pernah baca ngulang-ngulang adegan gitu. Jadi ketika di set tuh masih berasa ada “rasa”-nya. Gitu. Ada unsur spontannya juga.

Trus lo sama Chiko ngapain aja untuk dapetin feeling gemas itu?

I don’t know. It just happens. Kayak kerja sama Chiko tuh enak banget. He’s very open. Dan nggak kayak, “Oh gue udah sering akting nih.” Jadi tuh bener-bener energy tuh complete each other karena ya kita nggak ada ekspektasi apa-apa. And we’re just there to experience.

Beradegan love scene susah nggak sih?

Sebenernya gue menyesal di A Copy Of My Mind gue nggak topless. Tadinya gue yang kayak, “Ah, ini buat tayang di Indonesia. Oh my Dad is going to watch it.”

10

Tapi kalo lo topless akan kelar sih.

Ya kan?

Pas gue nonton gue kayak, “Anjing gue nyesel banget gue nggak topless.” Trus si Bang Joko bilang, “Tuh kan, kau sih, Dek… blablabla…”

Tapi waktu itu lo ditawarin?

Enggak. Si Abang sih kayak, “Terserah kau.” Ya tapi dia mau kalo gue topless. Tapi waktu itu gue kayak, “Ugh, I don’t feel like it.” Trus abis itu gue nonton dan gue ngerasa, “Oh my God, it’s so unreal.” Nggak realistik menurut gue kalo orang have sex without taking her bra. Itu jadi salah satu penyesalan terbesar gue.

Tapi most people yang gue kenal, orang-orang kayaknya pas nonton adegan itu mereka gak keganggu.

Karena mbak-mbak make out gitu kali ya. “Jangan, Mas.”

Karena cara Abang ambil gambarnya lumayan intimate gitu…

Iya sih.

Was it hard? The love scene?

Menurut gue, love scene is the hardest thing to do. Karena apa? Lo make love in character. So you cannot be yourself. Ngerti nggak sih? You have to make love in character. Misalnya kayak in reality lo sukanya yang kinky atau gimana tapi karakter lo pasif, submisif, itu harus dipikirin juga. Tapi when you’re in a moment, kadang-kadang tuh susah.

11

Karena lo reacting biologically kan?

Iya. Jadi that's the hardest part about the love scene.

Apakah sebelumnya lo choreograph dulu movementnya sebelum adegan?

No.

Bodo amat ya berarti?

Iya. Yang terjadi terjadilah. Iya sih atau palingan kalo di film lain dikasih tau kayak kameranya dari sini dan sini. I’ve done a few love scenes sebenernya.

Akhirnya lo menang nih Festival Film Indonesia. Apa pengaruh Piala Citra terhadap karir lo?

It didn’t affect me in any way.

Apakah ada reaksi dari your fellow actors apa gimana?

I think it was more important for my parents.

Itu pertanyaan gue berikutnya. “Bagaimana your parents react to it?”

Itu emang buat orang tua gue sih. Karena pas gue menang, mereka kayak euphoric parah.

Mereka lo bawa nggak pas acaranya?

Nggak. Karena mereka too nervous. Jadi yang dateng adek gue sama kakak gue. So for them tuh kayaknya jadi, “Akhirnya anak gue, seonggok anak gue yang goler-goleran doang di kamar kagak kerja kerja, kagak ngapa-ngapain dalam hidup. Inilah buktinya.”

Sekarang pialanya ada dimana?

Ada di rumah. Jadi emang itu for my parents. Tapi buat gue personally, it didn’t affect me.

Ketika lo menang gimana? That moment?

Pas menang ya gue seneng banget. “Oh wow. I didn’t expect that.” Tapi bukan kayak yang, “Oh, gue pemenang Aktris Terbaik...”

Di Indonesia kalo lo dapet Piala Citra tuh ngaruh ke kenaikan rate lo apa gimana gitu nggak sih?

Nggak. Biasa aja.

Kecuali lo kayak Prilly gitu kali ya yang punya 30 juta follower di Instagram.

Iya. Asli. Apalah gue.

Nah tuh even today, gue banyak banget momen di mana tergantikan sama orang-orang yang followersnya lebih banyak, lebih commercially menjual. Gue ngerasain banget.

12

Oh lo masih kena?

Yaiyalah!

Karena gue denger itu dari temen-temen aktor gue yang masih belum siapa-siapa. Tapi gue nggak tau kalo itu ngaruh ke lo juga.

Of course. Sekarang mungkin mulai changing. Tapi up until like two years ago? Masih. Untuk consider gue produser-produser lain tuh didn't trust me at all. “Siapa lo? Lo bisa bikin film gue box office? Kayaknya nggak deh. With your dark skin dan quirky look kayaknya nggak deh.” Kayak gitu.

Sedih ya?

Of course it’s sad! Jadi selain the industry being hard itself, dengan look gue yang seperti ini tuh semakin sulit.

Karena lo nggak kayak Tatjana Saphira gitu ya. Yang lebih traditionally beautiful.

Iya. Lebih universally accepted. But now dengan adanya sosial media kayaknya jadi pro and cons gitu. Pro-nya adalah orang-orang yang look-nya kayak gue, they have more voice. Bisa lebih didenger. Bisa ngutarain mereka. Banyak banget di Instagram gue atau Twitter yang, “Oh ada yang bilang aku mirip kakak” atau “my sister or my cousin looks like you, mirip banget deh”. Orang kalo dibanding-bandingin kadang nggak suka kan tapi kalo gue, I feel very happy about it. Gue bisa represent the faces of these women.

Jadi kayaknya sekarang orang lebih terbuka dengan looks kayak gue. Kayak Asmara Abigail, she got a lot of leading roles with her looks which is great.

13

Gue nungguin film lo sama Asmara jadi kakak adek sih. Kayak road movie berdua gitu.

Dengan kerecetan kita berdua ya? Hahaha…

Karena menurut gue Asmara is very promising, so ambitious. She loves film. Dan lately, her work tuh doesn’t do justice. Karena pas di Perempuan Tanah Jahanam, gue nggak merasakan itu. Apa yang orang-orang bilang soal performances-nya dia gue nggak ngeliat. Soalnya di Perempuan Tanah Jahanam, gue beneran love her work.

Tulisan ini sudah diedit dan diringkas dari interview yang asli

NEXT UP: Tara Basro bercerita soal syuting Gundala, horornya syuting Perempuan Tanah Jahanam and what can we expect from Merpati and Jagad Sinema Bumi Langit

poster perempuan tanah jahanam

Perempuan Tanah Jahanam tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 17 Oktober 2019

Komentar