uncensored interview tara basro 22

Bersiaplah untuk film horor paling hacep tahun ini.

 

Minggu lalu Tara ngasih tau tentang awal-awal karirnya. Betapa begitu banyak kejadian-kejadian yang akhirnya bawa dia ke realita. Betapa naifnya dia ketika terjun di industri ini. Di bagian kedua uncensored interview gue dengan Tara, dia cerita tentang kerja samanya dengan Joko Anwar di film terbaru mereka yang akan tayang tanggal 17 Oktober 2019, Perempuan Tanah Jahanam. Bagaimana Joko Anwar sepertinya udah menemukan resep yang pas untuk bikin film horor. Bagaimana rasanya syuting adegan-adegan yang emosional. Dan yang paling krusial buat kalian, bagaimana caranya merawat diri supaya tetap fresh dan on point.

Lo pernah menyesal nggak ngambil sebuah peran?

Of course. Kayak yang gue bilang tadi. Makanya gue merasa gue kasian sama Asmara Abigail juga. I’ve made my mistakes, ngambil film-film yang nggak oke. Tapi waktu itu media sosial nggak segede sekarang. Jadi orang-orang nggak ngeh. Kalo sekarang kan everything is on social media. Jadi orang-orang lebih aware.

Dan abadi.

Dan abadi! So, I think if you watch Perempuan Tanah JahanamI think

1

Lo udah nonton?

Belum. Abang jahat banget. Semua pemainnya nggak dikasih liat.

Krunya bukannya udah nonton beberapa?

Beberapa. Tapi mungkin cuman Pak Ical (sinematografer Perempuan Tanah Jahanam) dan yang berhubungan sama post.

Tapi gue liat kemarin beberapa udah ada yang liat.

Test screening. Iya. Katanya mereka suka banget. Dan itu bikin gue makin kesel. Karena gue penasaran banget, Can! This is the project yang very very challenging for me. Mentally and physically. Gue sampe stres dan keluar rashes yang bentol-bentol gitu. Karena jam syutingnya tuh...

This is the thing yang sampe sekarang gue sangat concern banget. Jam kerja sih. Lo kebayang nggak sih jam lima pagi lo masih harus akting yang high intensity. Itu buka mata aja gue udah susah, Can. Itu gimana caranya gue mau nangis dan ngambil emosi. Badan gue udah shut down. Gue tuh kadang-kadang suka mikir kayak, “If I have all the resources like other people, the luxury of time, kira-kira gue bisa apa ya?”

Tapi itu mungkin itu juga yang bikin pemain Indonesia sangat mandiri. Kita physical preparation sendiri. Mikir sendiri. Nggak ada dialect coach, vocal coach, nutritionist blablabla. Ya jelaslah Christian Bale bisa kayak gitu. Coba Christian Bale di Indonesia suruh makan tempe doang.

tara 1

Lo akhirnya kolaborasi kedua kalinya sama Abang di Pengabdi Setan. Itu lo casting?

Casting.

Dia sama nggak sih nge-directnya? Atau justru karena beda genre, beda approach?

Dia tau gimana menggiring emosi sih.

Lo penakut nggak sih sebenernya?

Gue penakut banget, Can. Sumpah gue cemen. Cemen banget. Gue sampe bawa mak gue ke set. Pokoknya kalo horor, pasti ada mak gue di set. Support system gue dia. Biar dia yang ngaji, dia yang sholat. Dia yang deal sama the devil. Hahaha…

Sebenernya approach-nya Abang sama. Cuman intensitasnya aja. Dia tuh tau gimana masuknya ke gue. He knows how to get the emotion. Dan apalagi kalo Perempuan Tanah Jahanam tuh interesting banget syutingnya. Makin lama kayaknya dia makin tau how to accommodate the crew and the cast. Jadi ketika di-set semua orang bisik-bisik. Nggak ada yang bersuara lebih kenceng dari bisik-bisik. Jadi semuanya pake earphone HT. Jadi itu bener-bener sunyi senyap, gelap. Jadi buat kita tuh sangat membantu banget.

2

Dan di eye line gue nggak ada orang sama sekali. Biasanya, Can, nggak gitu banget. Bayangin, Can, syuting Pendekar Tongkat Emas harus pick up adegan high intensity dan di depan gue ada yang ketawa-ketawa, minta kopi lah. Atau nge-slate-nya kenceng-kenceng. Itu jadinya gue langsung…

tara 2

Pecah?

Pecah. Distraction banget. For some people mungkin nganggepnya sepele. Tapi buat pemain itu penting banget. Untuk ngejaga mood penting banget. Jadi kru ngerasain juga, environment ceritanya seperti apa. Kadang-kadang Abang Joko muterin musik. Jadi mencekam banget suasananya. Dan itu membantu banget sih.

Dan lo main film Abang yang paling miskin, A Copy of My Mind, dan paling mahal, Gundala.

Asli. Tapi ya enaknya gitu sih. Walopun sebesar apapun productionnya, it still feels warm. Masih berasa banget kekeluargaannya. Dan Abang tuh nggak ada yang namanya orang berantem di set. So it’s a very fun.

Berantem di set tuh padahal sering banget ya di produksi…

Sering banget. Sering banget. Apalagi kalo lo udah syuting lama, Can.

3

Senggol bacok.

Exactly. Dengan jam kerja yang kayak gitu, senggol bacok banget. Tapi Gundala tuh bisa ditekan banget moodnya. Semua orang seneng kerjanya. Dan Abimana kan orangnya people pleaser banget kan. Jadi di-set semua orang seneng.

Adegan di Gundala yang paling fun buat di-shoot apa menurut lo?

I think yang Tanta Ginting dan Donny Alamsyah berantem sama Abimana di tempat gue. Itu fun. Ngeliatin orang-orang ini berantem tuh fun.

Karena lo diem aja?

Karena gue diem aja. Menyenangkan banget ngeliat mereka. Dan mereka profesional banget. Kebayang nggak lo orang-orang ini masih berantem di pagi hari.

Itu syutingnya pagi?

Itu gak pagi hari tapi banyak banget adegan-adegan di Gundala yang kayak di ending dan di pabrik, itu biasanya syutingnya pagi.

Gimana sih badan lo yang udah dingin-dingin, your body shut down dan harus syuting adegan begitu. Karena entah kenapa pas syuting Gundala, itu hujan terus. Jadi kita harus nungguin hujan. Dari yang inget adegan sampe lupa. Badan lo udah auto-pilot aja. So, I feel like… kalo misalnya kita punya the luxury of time…

4

Dan duit…

Dan duit. Kayaknya alangkah indahnya untuk bekerja. Kita aja nggak punya weekend, weekdays. And working hours.

Di Amerika 12 jam syuting kan working hoursnya?

Iya 12 jam. Dan itu pun juga kalo di sana yang beneran aktornya yang berantem cuman sekian persen. Sisanya stuntman. Karena harus jagain mereka kan. Apalah kita kalau di sini…

Pengabdi Setan dan Gundala kan sukses critically dan commercially. Lo merasakan itu nggak ketika syuting? Bahwa film lo akan sukses. Can you sense it?

Nggak. At all.

Even Pengabdi Setan lo nggak ngerasain bahwa lo akan ditonton empat sekian juta penonton?

No! No! Mungkin karena gue terbiasa dengan penonton gue yang segitu-gitu aja kali ya. Hahaha… Jadi pas empat juta penonton, gue yang, “What?”

tara 3

Lo dapet bonus nggak?

Dapet. Tapi asli, Can, gue nggak ngeh bahwa penontonnya akan segitunya. Jadi gue kayak, “Wow.”

Karena tricky kan karena film aslinya selegendaris itu. Some people expect that film to fail.

Oh ya? Really?

Iya. Karena banyak orang komen bahwa remake nggak akan menggantikan film aslinya.

Hmmm… Gue merasa Perempuan Tanah Jahanam, personally ya dari gue baca skripnya aja gue udah kayak, “Anjing.” This is like crazy. The feeling of fear tuh udah dikasih dari halaman pertama. Gue bacanya sampe gue jauhin skripnya pas di rumah sendirian. Dan ini secara cerita, it’s a full circle. Jadi complete.

tara 4

Kelar maksudnya ada closure di ending?

Iya. Kalo Pengabdi Setan kan endingnya kayak to be continue.

Itu orang yang nonton Pengabdi Setan yang lama yang akan ngeh maksud ending versi Abang Joko.

Iya. Kalo Perempuan Tanah Jahanam tuh nggak akan gitu. Secara story udah lengkap. Secara visual keren banget. Ini mungkin pertama kalinya gue ngerasa bahwa ini film akan sukses.

5

Lo nge-sense itu?

I sense that. Tapiii… Karena ini tidak sesetan Pengabdi Setan

Horornya bukan hantu?

Iya. Kalo kata Abang tuh supernatural psychology shit apa gitu hahaha...

6

Hahahaha…

Iya. Jadi gue nggak tau gimana penonton Indonesia will react to it. Tapi kalo gue personally dari baca naskahnya udah head over heels. Menurut gue ini skrip terbaiknya Joko Anwar.

tara 5

Lo casting Perempuan Tanah Jahanam disuruh ngapain?

Ada satu adegan. Dia lebih kayak nyocokin gue sama Marissa Anita. Look-nya gimana kalo bareng. Chemistry-nya kayak gimana.

Bukan sendiri? Adegannya ngapain?

Nggak sendiri. Berdua gue. Adegannya yang kalo di trailer yang di awal. Yang “gue kayaknya mau pergi nih”.

7

Gory nggak ini filmnya?

You can say that. Gue suka banget. But then again karena gue saking sukanya, gue deg-degan sama performance gue di film ini. I hope gue sukses deliver the emotions.

Maya nih karakternya apa sih?

Jadi karakter gue sama Dini, si Marissa Anita, nih bersahabat. Sobat-sobat miskin gitu.

Kalian bisnis apa sih sebenernya? Jualan baju?

Jualan baju dan gagal.

Jualan bajunya di?

Pasar. Nggak pernah dapet gue peran glamorous gitu di filmnya Abang. Semakin lepek semakin bagus gue.

tara 6

Oh iya juga ya?

Iya kan? Gue miskin di sini. She’s just trying to survive gimana caranya buat make money. Intinya gitu kan. Trus dia find out tentang warisan ini dan akhirnya Maya kayak, “Yaudah. Let’s take the chance.” Nah si Dini ikut. Karena mereka berdua nggak ada keluarga. So they only have each other as a family. Dan si Dini saking sayangnya sama Maya kayak, “Yaudah gue temenin lo mau kemana.” Dan being a protective sister, ikutlah si Dini into this universe… HAHAHAHAHA…

8

Nama kampung lo apa?

Harjosari atau apa gitu.

Pergilah lo kesana ya kan.

Iya. Dan sengaja dengan camera movement dan segala macam, si Abang tuh sengaja naruh penonton ada di tengah-tengah situasi ini. Jadi rasanya kalo lo nonton, lo rasanya kayak ada di dalam situ. So I cannot fucking waittt!

9

And all of this shit happening ya.

All of this shit happens. Dan ini horor pertamanya Ibu Christine Hakim ya kan. Tadinya dia nggak mau.

Dia nggak suka horor?

Dia tuh udah pledge kayak, “I will never do horror films.”

Kemudian…

Dan menurut gue ini the best. Mungkin ini one of her best performance. Udah lama dia nggak meranin karakter powerful woman. Biasanya kan jadi ibu yaudah gitu aja. Ini tuh another figure of mother.

10

Nggak akan ada Perempuan Tanah Jahanam 2?

You will have to see. Hahaha…

Apakah lebih gampang buat lo akting sama orang yang udah lo pernah kerja bareng sebelumnya?

Tetep sih it’s a new experience karena kan beda karakter juga kan. Dan it’s always interesting to watch Ibu Christine. Dia tuh ada satu adegan di mana dia ada close-up di kaki. Dan gue kayak, “Anjing, dia kepikiran aja tuh kayak gitu.”

Kepikiran apa maksudnya?

Menurut dia, nenek-nenek yang udah tua, mereka tuh sendi-sendinya kayak udah keluar. Tulangnya kayak nonjol gitu kan. Jadi dia sengaja pake sendal dan jari-jari kakinya kayak dikeluar-keluarin gitu.

Oh…

Dan gue kayak, “Who would’ve thought? WHO WOULD’VE THOUGHT?”

Gue get sih maksud lo. Gue pernah nonton sama Merantau sama temen gue. Dan ada adegan close up tangan Bu Christine ngulek sambel buat Iko Uwais. Dan temen gue langsung komen, “Tuh, Can. Tangan aja akting.”

Iya. Iyaaa!!! Ya kan? Dan gue ngerasa tegang banget karena I have to be the leader of the story. Of this magnificent story that I love so much.

tara 7

Ini peran lo paling susah nggak sih so far?

Paling susah.

Apa yang lo lakukan pas syuting Perempuan Tanah Jahanam ketika kamera nggak lagi rolling supaya lo nggak stres? Self care lo apa?

I eat and eat and eat. I eat a lot on set. And massage. Kayak mbak-mbak pijet yang di hotel sebelah…

Hotel sebelah apa hotel lo?

Hotel sebelah. Mohon maaf kita nggak sanggup tinggal di hotel itu. Kalo weekend day off, kita ke situ. Mbak-mbaknya udah hafal liat gue sama Marissa. Ini lagi, ini lagi.

Jadi lo makan…

Makan, pijit. Dengerin musik. Dan Ario Bayu di film ini juga keren banget. You’ll love him. Di sini dia cakep banget. Buat orang-orang yang sudah bertekuk lutut dengan ketampanan Ario Bayu, akan mati di sini.

Syuting Perempuan Tanah jahanam dimana? Banyuwangi ya?

Iya.

Di tengah hutan?

Ada yang di tengah hutan. Ada yang di desa. Ini tuh setnya juga…

Ini lokasinya bikin apa nemu?

Nemu tapi ada yang dibikin juga. Lo kebayang nggak yang nyari set buat film ini?

Makanya gue penasaran.

Trus ada set yang belum pernah dipake syuting sama sekali. Jadi kita ngebuka jalan. Dan desanya ini menarik banget. Karena ini desa tertutup banget dari dunia luar. Seru banget deh pokoknya.

Apakah benar kalo lo syuting horor, situasinya juga horor? Kayak atmosfirnya berubah daripada lo syuting drama misalnya?

Kalo Perempuan Tanah Jahanam iya.

Pengabdi Setan syutingnya nggak horor?

Pengabdi Setan nggak seserem Perempuan Tanah Jahanam. Kayaknya Abang semakin nemu formulanya. Semakin terasah. Kayaknya di Pengabdi Setan dia kayaknya masih nyari. Trus kalo di Perempuan Tanah Jahanam… dia udah nemu. Kayak orang nggak boleh ngomong kenceng-kenceng. Jadi atmosfernya bener-bener creepy banget. Dan di situ nggak ada sinyal kan so you can’t do anything.

Lo nggak bisa Instagram-an dong?

Nggak bisa. No signal at all. Tapi ya untungnya pas di set masih rame.

Tapi justru makin membantu lo nggak sih?

Membantu kalo pas adegan. Kalo nggak adegan, gue yang kayak, “Help.”

Lo bayangin gue harus lari ke ujung hutan. Shotnya jauh kan gue sendirian larinya. Gue yang, “Anjing.”

tara 8

Hahaha tapi kan ada yang nungguin lo kan di ujungnya.

Ya ada. Tapi kan nggak keliatan. Mereka kan sembunyi. Jadi kalo gue tiba-tiba diciduk apaan yaudah.

Ada kejadian-kejadian malesin menimpa lo nggak?

Untungnya ke gue enggak. Tapi itu malesin banget, Can. Kayak ini di hutan, di jalan yang dibukain ini, kalo misalnya hujan, itu tuh tanahnya jadi lumpur. Jenis lumpur lembek yang stuck gitu. Kalo lo stuck di situ, itu lo nggak ada sinyal, nggak ada lampu. Lo kebayang nggak, lo bisa jalan kalo ada mobil lain lewat. HT pun mati. Dan gelaaaapppppp…

Setiap hari kalo gue pulang-pergi set gue tuh selalu, “Aduh plis jangan hujan, plis jangan stuck.” Serem banget.

Gimana rasanya syuting dan akhirnya banyak cewek-ceweknya?

Gue seneng banget karena akhirnya Bang Joko milih cewek-cewek yang look-nya very representative kita. You will see. Dan menurut gue cewek-cewek ini, they’re very powerful in their own way. Dan selalu di film-filmnya Abang tuh cewek nggak pernah dibikin lemah. Dan bisa dibilang karakter perempuannya dia tuh yang paling fun dan paling strong. So, gue rasa perempuan yang main di film ini pun sangat bersenang-senang banget.

Dan ada pemainnya tuh yang bukan pemain film, Can. Kayak orang biasa. Jadi ada yang guru agama Islam. Ada driver ojek online. Dan mereka sharing scene sama Ibu Christine dan Ario Bayu dan hebatnya they didn't stutter at all. And they perform so good.

Sebenernya Abang tuh open banget working with new people. Tapi dia nyari yang karakter.

tara 9

Apa menurut lo yang paling shocking di film ini?

The fucking ending of course. What do you mean by shocking? Bikinnya atau ceritanya?

Ceritanya.

Dari pertama gue baca gue aja udah shocking menurut gue.

“Really? Ini nggak dikasih nafas lho, Bang.” Dan dia kayak ketawa-ketawa sambil bilang, “Iya.”

Makanya gue penasaran banget orang untuk nonton cause I wanna know what they think about it.

Lo orangnya bisa nonton diri lo sendiri nggak sih?

No. Soalnya gue sangat critical sama diri gue sendiri. Setiap gue nonton diri gue sendiri, gue selalu mikir, “It’s not good enough.”

Dan apalagi banyak banget momen-momen di Perempuan Tanah Jahanam yang gue ngerasa gue udah punya bayangan sendiri adegannya akan kayak apa. Pas baca skripnya maksudnya. Tapi karena masalah teknis atau circumstances lain, things doesn’t go my way.

Dan gue sempet curhat sama Abang. “Bang, are you sure is enough?”

“Dek, kau percayalah sama aku. Aku kan sutradaranya. Kalau aku bilang cukup ya cukup,” kata dia.

“Okaaay….”

Tapi wajar dong. Menurut gue as a performer you will always have that.

Even ketika lo bikin, lo juga merasakan itu…

Iya. Gue belum pernah ada momen di mana gue nonton gue sendiri dan gue mikir, “Anjing gue keren banget.” Itu gue belum pernah.

tara 10

Ini kan filmnya menguras emosi dan fisik, lo ada ritual nggak sih sebelum syuting? Atau preparationnya apa yang membedakan dari film-film sebelumnya?

Karena situasinya horor ya, emosi-emosi itu gue coba masukin ke adegan sih. Kalo biasanya gue stress, gue mencoba ilangin kayak minum jamu atau meditasi. Di film ini, rasa stress itu gue pake di adegan.

Kayak kita pulang jam 8 pagi, baru pulang dari set. Langsung ke breakfast, baru tidur. Nah itu normal day at Perempuan Tanah Jahanam set.

Lo berapa lama syutingnya?

I think one and half months.

Lama juga ya?

Iya kan kepotong Abang sakit waktu itu. But it's fun syutingnya.

Apa menurut lo yang penonton perlu persiapkan untuk menonton Perempuan Tanah Jahanam?

They shouldn’t go alone.

Mereka butuh support system ya?

Support system yang kuat. Jangan cemen sama cemen. Trus maybe… empty paper bag. In case something happens. Imagine Pengabdi Setan tapi dikali kali kali kali kali kali… Banyak. Kayak gitu seremnya.

tara 11

Lo ada film sendiri nggak sih di Bumi Langit? Merpati akan ada solo movienya nggak?

I don’t know. I’m not sure yet.

Atau lo akan nongol-nongol di film lain?

Harusnya kayak gitu sih.

Merpati tuh apa sih?

Merpati tuh she’s a superhero. Dia ceritanya kuat banget. Like have the strength of 50.000 men or something like that. I think she can fly. I’m not sure. Itu kan dari komik ya. Gue nggak tau mau diapain sama Abang Joko.

Jadi lo akan training film action lagi dong?

I think so. Yes. Tapi gue berusaha memikirkan kayak, “Oh I think this is a good opportunity for me to get fit dan segala macem.” Karena sekarang gue udah give up to look perfect di cinema atau daily life. Kalo dulu tuh gue work out to be skinny. Kalo sekarang I work out to move my body, biar kuat. Kayak di Pengabdi Setan contohnya. I was chubby as hell and I don’t give a fuck.

Gue nggak notice sih.

Gue 60 kilo di Pengabdi Setan, biasanya gue 45.

Dan gue merasa bahwa kayaknya it’s important for me to be myself. Karena gue aslinya kayak paha gue gede. Perut ada-an banget. Lengan juga gede. Dan gue sengaja kayak gitu.

Kayak kemarin yang ngeliat di premiere Gundala banyak yang komen, “When she did become so big?”

Trus gue bilang, “I’ve always been like this.” Tapi this is me on my natural state.

Tapi banyak yang suka, Cuy, sama looks lo pas premiere Gundala.

Iya ya?

Gue belajar banget, Can. I feel like you being in this industry you sacrifice so much of yourself. Kayak gue tuh nggak bisa keep a hair color. Ibaratnya tuh nothing is yours anymore. Kalo lo notice, dulu gue punya banyak face piercing. Dan gue jadi mikir, “Oh itu mungkin salah satu cara gue untuk claim something that is mine.” Karena I don’t have any kepemilikan atas tubuh diri sendiri. Even my private life aja punya publik.

So now I feel like being my true self, I think that’s the only thing yang bisa gue lakuin. Karena dulu gue ngebelain banget harus kurus apa segala macem. Gue sampe akhirnya panic attack, kayak suicidal gila. Dan gue mikir, “I don’t want to be in that position ever again in my life.”

So fuck what others say. Gue nggak peduli lagi. Cause my well being is more important.

tara 12

Lo empat film terakhir sama Abang kan? Lo udah di poin “udah, Bang, aku aja yang main” gitu nggak ketika dia lagi nulis atau develop? Atau “plis nulis buat gue”?

Hahahaha… Gue dari kemarin berusaha bujuk dia bikin romcom sih.

Plis iya.

Karena dia lucu banget kalo bikin romcom nggak sih? Kayak Fresh To Move On. Itu gemes banget. Very witty. Trus dia kayak, “Um, iya deh nanti pikir-pikir lagi.”

Gue tau sih suatu saat it will change. Bakalan bukan gue yang main di filmnya Abang and it’s fine. Gue nggak heran kalo suatu hari nanti he will find somebody yang dia lebih comfortable working with. Which is okay gitu sih. Jadi gue nggak yang being cocky atau yang “oh I’m always gonna be in Joko Anwar’s movies”.

Sebenernya gue juga mau kerja sama sutradara lain. Tapi memang chance-nya belum dapat aja sih.

Lo pengen kerja sama siapa? Dan film kayak apa?

Romcom is one thing.

Karena hopeless romantic ya, Bu.

Iyaaaa… Kemarin tuh gue tuh nonton film judulnya Café de Flore. Yang main Vanessa Paradis. And it’s an insane film. Mungkin lebih yang kayak gitu.

I would love to work with Mas Garin Nugroho. Mouly Surya. Teddy Soeriaatmadja. Edwin. Atau nggak… Wregas Bhanutedja. Gue sangat curious sama anak-anak baru sebenernya. So for those out there yang baru mau bikin film, I’m open. Please contact me. Hahaha…

tara 13

Gosip tentang lo yang paling outrageous yang bikin lo kayak “what” apa?

Apa ya? Ummm… I don’t know. Eh tapi someone said that I’m a lesbian.  

Hahaha… ada yang nanya di DM gue, “Tara gay nggak sih?”

For me, love is love. I’m not saying I’m not a lesbian. But for me love is love.

Lo open terhadap possibility itu.

Yes.

Tapi kalo yang naksir lo kayak Kristen Stewart…

YA MAU LAH GUE! YA-LAH MAU NGIKUT DIGIRING KEMANA JUGA.

Oke pertanyaan terakhir. Beauty routine lo apa?

My beauty routine… apa ya? I try to drink a lot of water.

Emang ngaruh ya?

Ngaruh banget, Can. Air putih dan tidur. Tidurnya tapi jam 10 malem udah tidur ya. Which is something that I rarely do. Trus apa lagi ya? A lot of sun. Paling itu sih. Air dan tidur.

Produk-produk kecantikan yang lo harus ada apa?

Lip balm. Trus aloe vera gel. Kayaknya sekarang kayaknya udah mulai untuk invest in eye cream. Hahaha… Karena gue udah keburu telat. Lo liat deh freckles gue keluar semua. All freckles segala macem bentuk-bentuk wtf ini muncul. Being 29 and…

…still looking for love…

STILL LOOKING FOR LOVE. Ya itu sih… Eye cream. Sama neck cream. Hand cream juga. Cause you will look like a grandma dalam waktu yang cepat.

Oh ya satu lagi. Pas umur 21-25, nyokap gue suka bilang, “Kamu pake BH.” Gue paling nggak suka pake BH kan? Dan gaes, gravitasi itu real ya. Sekarang tete gue udah di lutut kali. But when I was 25 I didn’t expect that to happen. Karena pas lo muda lo nggak mikir itu. About your skin and stuff.

I don’t mind aging gracefully tapi semua perubahan ini lumayan bikin gue, “Oh fuck.” It happens so fast. Metabolisme lo berubah. Kayaknya gue mangap kena udara aja udah nambah berat badan. Guys, above 25 okay? Don’t take it for granted.

Tulisan ini sudah diedit dan diringkas dari interview yang asli

poster perempuan tanah jahanam

Perempuan Tanah Jahanam tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 17 Oktober 2019

Komentar