tokyo international film festival 2019 part 11

Bicara proses pembuatan Motel Acacia dan film horor lainnya

 

Motel Acacia, film panjang kedua sutradara Bradley Liew, bercerita tentang motel yang didalamnya punya kamar dengan ranjang bermonster. Yang bikin dia menarik adalah jajaran pemainnya yang sepertinya diimpor dari aktor-aktor kece se-Asia Tenggara. Di film ini ada JC Santos, Jan Bijvoet, Nicholas Saputra, Agot Isidro, Bront Palarae sampe Vithaya Pansringarm yang sempet adu akting sama Ryan Gosling di Only God Forgives.

Kamis tanggal 31 Oktober, pas Halloween, dan setelah gue nenggak beberapa gelas wine, gue dapet kesempatan untuk nggak hanya ngobrol sama Bradley Liew dan JC Santos tapi juga Bianca Balbuena yang bertugas sebagai co-writer (Motel Acacia juga ditulis oleh Bradley Liew) dan juga Benjamin Padero sebagai production designer. Berikut ini adalah hasil interview gue sama mereka:

Provoke: Halo. Nama gue Candra Aditya, gue dari Provoke. Pertanyaan gue adalah apa ide awal ketika lo bikin film ini?

Bradley: Ide pertama film ini dari mitologi Filipina namanya "kepre". Itu tree demon yang terkenal punya nafsu sama cewek dan benci sama laki-laki. "Kepre" ini sering dipake ibu-ibu untuk bilang ke anak ceweknya supaya jangan pulang malem-malem. Ntar lo bakalan dihamilin sama "kepre" dan ngelahirin makhluk lain. Jadi kami akhirnya kepikiran soal itu dengan ide tentang makhluk ini yang tinggal di pohon, dan ketika dia ena-ena sama pacar manusianya, ada yang motong pohon ini. Beberapa orang motong pohon ini. Jadi lo akhirnya punya seorang tree demon yang sangat marah stuck di hutan. Dan orang-orang ini motong pohon itu dan jadi ranjang. Trus dari situ kemana lagi. Jadi itu sih ide awalnya film ini.

Provoke: Prosesnya berapa lama dari nulis skrip sampe akhirnya jadi?

Bradley: 4 tahun. Bianca, produser gue yang juga jadi co-writer gue...

Bianca: Halo...

Bradley: ...butuh waktu agak lama buat kami nulis filmnya. Karena mulainya dengan ide soal monster. Tapi kami tahu kami nggak bisa bikin filmnya cuman dengan mitologi ini. Kami mau bikin film yang ceritanya relevan dengan society jaman sekarang. Kami mau bahas soal ketidakadilan yang terjadi di seluruh dunia. Jadi, banyak hal yang harus terjadi selama kami nulis. Trus masalah lain ya tentu saja financing. Buat kami ini lumayan mahal untuk ukuran film indie Filipina. Sejuta dollar bujetnya. Ini lima kali lebih mahal dari bujet normal. Makanya akhirnya kami co-production dengan Thailand, Singapura dan Taiwan.

img 20191031 211304

Provoke: Buat JC, apa yang paling mengejutkan dari karakter lo?

JC: Buat gue, gue interpretasiin film ini sebagai kisah coming-of-age buat JC. Ngeliatin dia bikin keputusan-keputusan di situ. Dan dia terpaksa harus ngelakuin itu semua. Ngeliat dia berkembang dari bocah ke laki-laki dewasa. Kita ngeliat dia dari pasif sampe akhirnya ngelakuin sesuatu. Jadi menurut gue itu yang paling menarik buat gue meranin karakter ini.

Provoke: Apa persiapan lo ketika lo main film ini?

JC: Bradley bilang ke gue untuk gak makan. Hahaha... Kayaknya itu yang pertama dia bilang. "JC gue mau lo kurus, keliatan kelaparan." Jadi gue mulai dari situ. Kemudian pas kami syuting, banyak kolaborasi terjadi.

mvimg 20191031 211249

Provoke: Film lo ini horor tapi menurut gue nggak nyeremin. Tapi justru lebih depresif dari yang gue kira. Apakah ini disengaja?

Bradley: Ya. Kayak yang gue bilang tadi, kami tahu bahwa kami punya elemen horor. Tapi kami pengen ngomongin yang lebih gede, isu yang lebih serius. Menurut gue itu hal yang baik kalo misalnya film ini bawa penonton ke darker place. Karena dengan itu lo mulai mempertanyakan soal human nature, morality. Menurut gue itu adalah hal terpenting dalam film ini bahwa film ini nggak hanya stuck di label film horor. Ada sesuatu yang bisa lo bawa pulang. Itu lebih penting buat gue.

Provoke: Salah satu hal yang paling menarik dari Motel Acacia adalah desain motelnya yang menurut gue sangat Instagramable. Apakah motelnya di-desain dari skrip atau berubah-rubah sesuai dengan jalannya produksi?

Bradley: Yang bikin ada di sini... Tuh... Coba cerita prosesnya...

Benjamin: Dari awal emang udah ada rough idea tentang visualnya. Karena Bradley sama gue klop, kami sangat kolaboratif, dia bakalan ngasih ide trus gue bakalan balikin lagi ngasih ide. Kemudian dia bakalan nulis ulang skripnya kemudian akan berubah lagi visualnya. Kayaknya gue setahunan buat mikirin look motelnya. Kami udah mulai bangun set-nya sebelum syuting dan terus berubah dan banyak yang di-adjust.

Bradley: Yang susah dengan konstruksi bangun set adalah kita nggak bisa ngeliat hasilnya sample bangunannya jadi. Jadi banyak tambahan-tambahan di akhir karena kita harus beneran masuk ke setnya untuk ngerasain apakah setnya works apa nggak.

Benjamin: Gue sih paham-paham aja di kepala gue...

Bradley: Hahahha...

Benjamin: Emang agak susah karena gue udah jelasin tapi Bradley gak bisa bayangin sampe dia beneran liat. Jadi ketika akhirnya udah jadi, gampang buat Bradley buat kayak, "Oke, ruangan ini gak usah, ini kurang gede." Dan gue akan bilang, "Nggak, Bradley, ini udah maksimal."

Bianca: Iya trus Benjamin akan datang ke gue...

Benjamin: "Bianca, kayaknya duitnya nggak bakalan cukup dengan apa yang dimau sama Bradley..."

Bradley: Hahahha...

Benjamin: Iya nyari jalan tengah tuh selalu...

Provoke: Tapi sutradara selalu kayak gitu nggak sih? Banyak BM-nya.

Benjamin: YES! YES!

Bradley: Hahahhaha....

Benjamin: Gue sih pengen nurutin kemauan Bradley tapi harus tetap sesuai dengan bujetnya Bianca. Dengan waktu yang juga udah direncanakan.

maxresdefault

Provoke: Gue rasa kalo gak ada monster di film lo, motelnya sangat chic karena dia sangat Instagramable.

Bradley: Hahahhahah....

Benjamin: Iya sih.

Bradley: Kita bisa buka cafe!

Bianca: Filmnya bakalan tayang di Jogja.

Bradley: Filmnya jadi closing film di JAFF.

Provoke: Boleh bahas soal casting proses nggak buat film ini? Karena kan cast lo heboh banget nih. Semua aktor beken di Asia Tenggara kayaknya nongol di sini.

Bradley: Kebanyakan juga berkat Bianca. Dia ketemu sama Nicholas Saputra di Berlin Film Festival beberapa tahun lalu dan mereka tetep kabaran. Bianca kayaknya emang pengen kerja bareng sama Nicholas Saputra tapi nggak pernah nemu proyek yang cocok sampe akhirnya film ini muncul. Kalo Vithaya si Bianca ketemu di festival film lain lagi, di Istanbul. Dan selalu si Bianca kayak, "Kayaknya kita harus bikin film bareng," tapi tentu saja belum pernah nemu proyek yang cocok sampe film ini muncul. Bront Palarae gue ketemu dia di Tokyo International Film Festival tujuh tahun lalu. Kita tetep kabaran dan karena kita sama-sama orang Malaysia. Kalo JC emang dari awal kami nulis dengan dia di kepala kami. Dia yang pertama kita cast. Siapa lagi ya? Jan yang jadi bapaknya si JC, dia adalah aktor pertama yang gue liat di bioskop ketika gue pergi ke festival film pertama gue. Dan film pertama yang gue liat, gambar pertama yang gue liat adalah Jan. Dan gila banget untuk mau halo dia.

mv5byte4mmq1ywety2qyys00nze0lwfhytatmddhmjk0mza5y2zjxkeyxkfqcgdeqxvymtayndkymzk. v1 sy1000 sx1500 al

Provoke: JC, jadi lo ga perlu audisi dong buat film ini?

JC: Nggak. Gue sangat beruntung. Ini pertama kalinya kayak gini jadi pilihan pertama.

Provoke: Oke, film horor favorit kalian apa?

Bradley: Wow.

JC: Susah ya pertanyaannya...

Bradley: Seri sih antara dua pilihan. Yang pertama Alien dan The Thing. Klaustrophobik. Perasaan claustrophobicnya gue suka. Dan dia nggak pake CGI heavy. Sangat analog, sangat organik.

Bianca: The Shining?

Bradley: The Shining juga keren. Tapi mungkin nomer tiga. Hahaha...

JC: Gue gampang takut makanya gue gak suka nonton film horor di bioskop. Gue gak suka jadi paranoid. Tapi terakhir yang gue tonton dan favorit gue adalah Shutter. That haunted me for years.

Bradley: Gimana dengan original The Grudge? Ju-On?

Bianca: Editornya Shutter adalah salah satu produser dari film ini.

Benjamin: Gue nggak gampang takut. Gur nonton banyak film horor tapi yang paling bikin gue jiper adalah Blair Witch Project.

Bradley: Wah itu serem banget.

Benjamin: Karena lo kebayang-bayang di kepala lo dan itu serem banget padahal filmnya gak kasih liat apa-apa. That was the best for me. The next will be Ringu.

Bradley: Wow, this is the best conversation hahahha...

Interview ini sudah disingkat dan diedit.

motel acacia

Motel Acacia masuk di seksi Asian Future International Film Festival 2019

Komentar