tokyo international film festival 2019 part 13

Ngobrol bareng sutradara nyentrik soal proses pembuatan filmnya

 

We Are Little Zombies adalah film terakhir yang gue tonton di Tokyo International Film Festival (TIFF) tahun ini (lo bisa baca reviewnya di sini). Dan gue nggak bisa nggak interview sutradaranya, Makoto Nagahisa. Walopun ini film panjang pertama dia, lo tau bahwa dia bukanlah orang sembarangan. Filmnya sangat berbeda, sangat unik.

Hari Jumat tanggal 1 November 2019, di lantai 49 Roppongi Hills Club akhirnya gue ketemu langsung sama Makoto Nagahisa yang emang bentuknya nyentrik abis. Di sini kita ngomongin proses syuting dia, cara nge-direct yang berasa natural, Moonrise Kingdom dan banyak hal lainnya. Lo nggak bisa lewatin ini.

Halo. Nama gue Candra.

Halo, nama gue Makoto.

Gue suka banget sama film lo.

Makasih.

Karena kayaknya gue belum pernah nonton film kayak punya lo sebelumnya. Dan secara personal gue lumayan kena karena seperti karakter di film lo, gue juga nggak nangis pas bokap gue meninggal. Pertanyaan gue adalah kenapa lo memutuskan untuk membuka film dengan itu?

Jadi ketika gue kecil, gue merasa bahwa kesedihan itu, emosi itu diatur sama common sense. Atau diatur sama orang dewasa. Gue merasa bahwa kalo lo dihadapkan dengan kesedihan yang begitu dalamnya, seperti orang tua lo misalnya, gue pengen ngegambarin itu dari perspektif netral.

img 20191101 174036

Salah satu hal yang paling menonjol di film lo tuh visualnya. Visual lo tuh sangat random. Dalam satu adegan tuh banyak banget hal yang membuat gue bahkan nggak bisa track apa yang gue liat. Apa diskusi yang lo lakukan dengan sinematografer lo?

Partner gue adalah DOP gue. Gue bikin storyboard sendiri. Dan gue mau dari setiap shot ada arti spesial di dalamnya. Jadi yang gue lakukan adalah gue ngasih arti di setiap shot yang akan gue ambil. Gue bahas ini sama DOP dan kemudian kita bahas gimana ya cara ngambilnya.

Berapa lama syutingnya? Karena shot-nya banyak banget di satu scene bahkan.

60 hari semuanya.

Wow.

Hahaha…

img 20191101 174032

Di Q and A lo bilang lo nggak kuliah film tapi menurut gue film lo punya bahasa visual yang sangat kuat. Gue penasaran sih dimana lo belajar soal itu?

Ketika gue ngampus, gue juga belajar film sebenernya. Sebenernya nggak bagus-bagus amat. Tapi justru gue belajar ketika gue kerja di advertising agency. Kerjaan gue bikin visual. Sebenernya gue nggak pengen ngerjain itu cuman gue jadi belajar soal itu selama sepuluh tahun lebih di advertising agency.

Wah menarik. Di agency lo jadi apa?

Gue nulis. Kayak skrip gitu. Tapi juga gue bikin storyboard. Nggak nge-direct.

Lo juga bikin musik-kah buat We Are Little Zombies?

Iya. Beberapa.

Ketika lo develop film ini mana yang lo bikin duluan? Cerita, karakter atau musik? Karena musik punya peranan penting banget dalam film ini.

Jadi gue emang suka nulis dengan musik. Gue bikin musik apa yang gue butuhkan kemudian gue nulis skripnya pada saat yang bersamaan. Jadi di skrip musiknya tertulis dengan sangat spesifik.

Sama kayak Baby Driver ya. Katanya Edgar Wright juga nulisnya kayak gitu.

Iya gue paham sih.

img 20191101 174038

Lo bilang di Q and A bahwa aktor lo nggak pernah improvisasi. Semua dialog plek ketiplek sama skrip. Gimana cara directing lo untuk bisa bikin akting aktornya terasa sangat organik dan natural meskipun mereka plek ketiplek sama skrip?

Jadi menurut gue orang tuh kalo ngomong nggak mikir kemudian ngomong. Orang kan ngobrol tuh refleks ya. Merespon. Jadi gue bikin aktornya nggak begitu mikir dialognya. Notes gue justru lebih kayak “pelanan” atau “cepetan”. Ngatur tempo banget. Kalo gue udah nemu tempo yang tepat, menurut gue dialognya akan berasa natural.

Lo milih talentnya sendiri atau lo kerja sama casting director? Karena menurut gue casting di film lo lumayan oke.

Ada sih orang yang bawa anak-anak. Tapi tentu saja final decision di gue. 100 anak yang dibawa sama orang casting gue liat. Mereka rata-rata aktor cilik dari talent agency. Dan gue gak suka. Makanya kadang gue minta anak temen gue atau siapa dan gue minta mereka audisi.

Film lo sangat fun dan wild. Tapi makin ke sini makin dark dan filosofikal. Apakah itu disengaja?

Ya. Sangat intensional. Dan emang sebenernya gue tuh pengen nunjukin bagian filosofikalnya sejujurnya.

Pas gue nonton film lo, gue keingetan Moonrise Kingdom-nya Wes Anderson karena keduanya sama-sama tentang anak-anak yang behave-nya sama sekali nggak kayak anak-anak.

Gue suka film itu. Kadang yang kita pikir kayak anak-anak itu cuman apa yang sebenernya kita tangkep sebagai orang dewasa. Ngurusin anak-anak gue bikin gue mikir bahwa anak-anak gue tuh lumayan dewasa lho dibandingkan dengan apa yang gue pikir.

Lo punya referensi nggak sih ketika bikin film ini? Film apa yang lo tonton ketika lo lagi preps We Are Little Zombies?

Tentu saja setiap film yang gue tonton, gue infuse-kan ke film. Tapi yang paling utama adalah film-film Jepang tahun 70-an yang menurut gue sangat breaking the rules dan energetic. Agak-agak eksperimental secara karakter dan juga cerita. Dan emang itu yang gue kejar. Dan juga New French Wave gue suka. Goddard gue suka banget.

Apa next project lo?

Epic love story. Gue nggak pernah tertarik sebelumnya cuman sekarang kok gue minat ya.

Cinta-cintaan orang gede?

Iya hehehe…

Lo udah nulis?

Ya. Gue juga lagi nyari funding. Lo mau ngenalin orang kaya buat funding gak? Hahaha…

 

Interview ini sudah disingkat dan diedit.

littlezombies poster

We Are Little Zombies masuk di seksi Japan Now Tokyo International Film Festival 2019

 

Komentar