img 20200308 182916

Sekali lagi, sebuah pengumuman yang sangat penting.

Another year, another "Film, Musik, Makan".

Kali ini gue akan ngasih tau secara spesifik bahwa ada lima film pendek kece yang lo harus tonton di gelaran "Film, Musik, Makan 2020". Kenapa lo harus nonton? Nah, mendingan lo baca aja langsung detailnya berikut ini.

img 20200308 143533

 

Bura (12 menit/Eden Junjung)

img 20200308 144050


Bura dibuka dengan sebuah adegan yang akan membuat lo memicingkan mata. Rasanya nggak nyaman banget. Kebetulan pas nonton Bura di Goethe, ibu-ibu sebelah gue berisik banget yang tentu saja mewakilkan semua perasaan yang gue rasakan. Adegan “debus” tersebut ternyata cuman puncak gunung es dari roller coaster yang akan lo rasakan.

Tentu saja ketika filmnya selesai lo akan banyak bertanya. Ini maksudnya apa? Kenapa ada adegan itu? Apakah beneran ada ninja? Kenapa ada bakar-bakaran?

Bura dengan efektif menggambarkan kepanikan yang terjadi ketika ada isu ninja bertebaran di mana-mana. Gue masih kecil banget ketika mendengar soal isu ini. Temen gue pernah bersumpah katanya ada ninja lompat di Mesjid Al-IKhlas, Malang. Dan waktu itu gue percaya. Film ini mengingatkan gue akan memori gue ini. Kenapa gue nyantumin informasi nggak penting ini? Ya supaya lo tau aja bahwa ada masa di mana info-info yang dulu gue pikir nggak penting ternyata ketika gue gede, gue sadar maknanya lebih dari sekedar “ninja” lompat dari gedung.

 

Kiwa (17, menit/Loeloe Hendra)


img 20200308 144040


Kiwa yang dibaca kiwo artinya adalah “kiri” dalam bahasa jawa. Film ini mengisahkan tentang seorang bocah yang memiliki kemampuan magis. Dia bisa menyembuhkan orang-orang yang sakit dengan tangan kirinya. Suasana sunyi di kampung tiba-tiba diramaikan dengan suara orang ketuk pintu panik dan minta bantuan di bocah ini untuk menyembuhkan sakit. Setelah selesai biasanya mereka akan bilang ke bocah ini untuk jangan bilang siapa-siapa. You know, kayak lo ke selingkuhan lo setelah kalian mesum, hahaha…

Dipresentasikan dalam black and white, Kiwa ternyata nggak sesederhana premis utamanya. Ada banyak hal yang diomongin di film ini. Dari soal adat istiadat, religion beliefs sampai political beliefs. Ketika gue nonton ini, gue banyak bertanya-tanya kenapa ya waktu gue kecil kayaknya ga boleh banget ngapa-ngapain pake tangan kiri? Kenapa ya jarang banget ada orang kidal di tempat gue tinggal?

Selain filmnya sederhana, akting para pemerannya juga oke. Mood-nya oke banget. Setting-nya sangat familiar buat gue orang Jawa. Dapur itu adalah dapur yang sering gue jumpai waktu gue kecil. Dan ending-nya sangat abrupt membuat gue kaget.

 

Astral (8 menit/Piet Patrik)

img 20200308 144033


Astral adalah sebuah kengerian penuh kelucuan selama 8 menit penuh. Ending-nya pun ada twist-nya. Ceritanya sesederhana sekelompok mahasiswa film yang baru bubaran syuting. Dalam salah satu obrolan mereka, si produser bilang bahwa menurut orang lokal, lukisan yang ada di rumah tersebut nggak boleh dipindahin. Tapi si set designer yang ada di mobil mereka dan diam sepanjang perjalanan mindahin itu lukisan. Ketika salah satu di antara mereka tersadar bahwa si set designer semakin memucat, mereka makin merasakan hal-hal yang ganjil.

Astral dipresentasikan seakan-akan dia adalah 1917 alias satu shot tanpa cut. Tentu saja lo akan tahu mana adegan yang pake cut karena ini bikinan mahasiswa dan bukannya Sam Mendes. Tapi jangan berkecil hati, sesuatu yang nggak didapatkan oleh filmmaker profesional dan hanya bisa didapetin dari film karya mahasiswa film adalah semangatnya. You can feel the semangat dan effort para mahasiswa ini saat mereka bikin Astral. Lo bisa ngerasain betapa excited-nya mereka saat mereka bisa pull off adegan horor dan adegan komedinya. And that’s what Astral is all about.

 

Jemari yang Menari di Atas Luka-Luka (16 menit, Putri Sarah Amelia)

img 20200308 144021


Lo ngeliat cangkir teh. Lo ngeliat tangan megang cangkir teh. Kemudian lo akan ngeliat dua orang perempuan duduk di dapur. Lo ngeliat yang satu pemilik rumah dan yang satu adalah make-up artist. Ternyata MUA ini bukan sembarang MUA. Karena begitu si ibu buka pintu, lo ngeliat seorang mayat tertidur tenang di sebuah ranjang, di sebuah kamar yang sangat basic. Ketika si perias mayat ini mulai melakukan pekerjaannya, lo akan mulai berfikir apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Jemari yang Menari di Atas Luka-Luka hampir nggak ada dialognya. And somehow lo akan paham apa maksud pembuatnya. Ini adalah salah satu dari banyak kelebihan film pendek ini. Terutama karena film ini ngomongin hal yang serius. Ngomongin hal yang agak sensitif. Dan ini semua nggak akan terjadi kalo dua pemain utamanya nggak main dengan baik. Semua komunikasi bisa dilakukan hanya dengan tatapan mata dan desahan nafas.

Salah satu yang menarik dari film ini adalah detail art-nya. Sebuah film bisa berkomunikasi dalam banyak hal. Kalo lo memilih gak bisa komunikasi pake dialog, maka visual adalah cara lo untuk ngasih informasi. Kamera dan terutama art department film ini bekerja dengan baik. Ketika ada gambar The Danish Girl tertempel di cermin, gue langsung tau dia mau ngomongin apa sebelum akhirnya ada informasi tambahan di ending.

 

A Plastic Cup of Tea Before Her (15 menit/Makbul Mubarak)

img 20200308 144004


Ada mas-mas kasir convenient store coli. Kemudian ada mbak-mbak customer datang dan dari mukanya sepertinya dia abis ditabokin pacarnya. Mas-mas kasir yang sangean ini mulai penasaran. Apalagi ketika dia nemu kunci rumah susun si Mbak. Ketika lo tau bahwa si Mbak ini sepertinya digebukin sama pacarnya, apa yang akan lo lakukan?

A Plastic Cup of Tea Before Her bisa jadi adalah komedi karena banyak hal komedi yang disajikan oleh Makbul di film ini. Kelakuan si tokoh utama yang sungguh relatable (siapa sih yang nggak relate dengan aktivitas menyenangkan diri sendiri? Ya walopun gue nggak akan masuk ke rumah orang dan mulai cokil di sono sih) sampe cara Pak RT menginvestigasi situasi dengan nyolong cemilan si Mbak. Semuanya membuat lo ketawa dengan cara yang tidak nyaman.

Tapi ketika tawa itu berhenti dan lo mulai benar-benar memperhatikan drama yang ada, lo akan mulai takut atau bahkan marah. Apakah ini semua worth it? Jadi siapa sebenarnya yang salah? Mana hukum yang lebih paten? Hukum adat, hukum agama, hukum negara? Siapa yang korban, siapa pelaku? Ini film bener-bener gemes.

 

                                                                              ***

 

Film-film pendek ini akan hadir di gelaran "Film, Musik, Makan 2020" di Padang tanggal 10 Maret 2020
dan di Palembang tanggal 13 Maret 2020

Komentar