Ichitan Photo Competition

petualangan_sherina_18_tahun_kemudian.jpg

Gue iseng nonton lagi Petualangan Sherina dan ini yang gue dapet.

Hari Minggu di awal bulan Mei, gue ulang tahun. Kemudian datanglah sahabat-sahabat gue yang baik. Cynthia, Tiara, Inda dan Ginan datang ke kosan gue dan kita ngabisin soju dan wine yang dibawa sama temen-temen gue yang baik ini. Setelah buka hadiah ulang tahun dari Inda yang ternyata sabun―gue nggak ngerti apakah ini artinya semacam petunjuk atau apa―gue tiba-tiba iseng muter Petualangan Sherina.

“Aduh, udah lama banget kita semua nggak nonton ini,” kata Tiara sambil mandang ke TV.

Buat anak-anak yang lahir di tahun '90-an, Petualangan Sherina bukanlah judul yang asing. Petualangan Sherina sama kayak Jumanji, E.T. atau mungkin Star Wars buat orang-orang Ameriki. Dan 2000 adalah tahun di mana tiba-tiba Miles memutuskan bikin film layar lebar dan merilisnya ke bioskop. Ini gebrakan luar biasa. Nggak hanya mereka bikin film layar lebar setelah lama nggak ada film Indonesia, tapi mereka bikin film anak-anak, musikal pula. Pecah banget.

Gue waktu kecil, karena tinggal di kampung, nggak dapet kesempatan untuk nonton Petualangan Sherina di bioskop. Tapi begitu VCD-nya keluar, gue literally setiap hari sampai sekitar enam bulan kemudian, gue nonton filmnya. Gue sama temen-temen gue SD, setelah pulang sekolah, sambil makan siang, nonton Petualangan Sherina dalam diam. Bahkan ketika kita semua tahu apa yang akan terjadi, setiap kata yang Sherina ucapkan, setiap lagu yang dia nyanyiin.

Gara-gara Petualangan Sherina, banyak anak-anak cuman mau makan siang sama M&M’s. Gue beli Tini Wini Biti setiap hari hanya untuk koleksi gambar Sherina. Dan gue pernah digebukin sama anak kampung sebelah karena pas siang-siang gue main bola sama temen-temen gue, gue teriakin mereka, “Hey, pengecut! Sini kalau berani!”

Tiap kali gue nyeritain ini, temen-temen gue selalu ngerespon, “Ya apa yang lo arepin, Can? Lo ngarep bahwa mereka akan nyamperin lo dan kalian nyanyi bareng bersama?”

‘Ya, at least, gue pikir temen-temen gue akan bantuin gue. Secara kita nonton Petualangan Sherina bareng-bareng setiap hari.”

Itulah dia. Petualangan Sherina lebih dari sekedar tontonan. Petualangan Sherina adalah sebuah memori yang sangat indah. Dan siapa sangka, 16 tahun kemudian, ketika gue nonton ulang filmnya, Petualangan Sherina tetep bagus. Tetep enak dinikmati. Tetep pecah. Dan semua lagunya bener-bener epik.

Tentu aja, karena sekarang gue udah gede, ada beberapa hal yang punya impresi yang berbeda di mata gue. Berikut ini adalah lima hal yang gue sadari setelah nonton ulang Petualangan Sherina:

1. Sherina adalah feminis kelas hardcore

Mira Lesmana and co. mungkin nggak sadar bahwa mereka sedang bikin karakter feminis paling pecah yang nggak tergantikan bahkan sampe sekarang. Cinta bisa jadi tereak-tereak ke Rangga bahwa dia adalah cewek paling punya kepribadian. Tapi Sherina adalah cewek yang nggak perlu nyolot untuk nunjukin bahwa dia nggak demen sama Sadam. Karena Sherina jenis orang yang daripada bacot mendingan langsung hajar. Petualangan Sherina mungkin emang cuman film anak-anak dengan Sherina sebagai pemeran utamanya. Tapi kalo lo liat secara teliti, Sherina bukan cuman anak kecil yang cerdas tapi dia juga feminis berat.

Dia adalah orang yang beneran mempertanyakan kehadiran Sadam sebagai penguasa di sekolah barunya. Sherina literally mengoyak-ngoyak aturan patriarkal tidak adil di sekolah itu. Dan beneran langsung nantang berantem, dalam adegan musikal yang epik, di hari pertama dia sekolah. Dia bukan jenis cewek diem nangis ketika dikatain monyet. Dia nyerang balik dan nggak tunduk. Bahkan ketika temen-temen barunya bilang mendingan kita diem aja, Sherina memilih untuk berdiri dan minta Sadam untuk mikir ulang tentang apa yang dia lakukan.

Lagi, ini mungkin disengaja tapi Sherina sebagai feminis terbukti keliatan lebih punya power daripada Sadam. Sadam adalah gambaran tentang laki-laki yang jadi penguasa. Tapi dia nggak punya power apa-apa selain sok petentang-petenteng. Orang-orang nggak tau kalo dia anak mami. Dan dia penyakitan! Sherina adalah orang yang literally nyelametin nyawa Sadam ketika Sadamnya lagi panik sesek nafas.

Petualangan Sherina bisa jadi emang cuman film anak-anak, tapi di tengah kegoblokan Keluarga Ardiwilaga soal penculikan Sadam, ternyata cuman Sherina yang bisa membuat Pak Ardiwilaga tersadar bahwa Kertaradjasa-lah dalang di balik semua ini. Bayangin nggak kalo anak umur 8 tahun aja bisa membongkar kasus peculikan, apa yang dia bisa lakukan kalo dia udah gede?

Kalo Hunger Games beneran ada, Sherina adalah kandidat yang pas untuk gantiin Katniss Everdeen.

2. Orang tua Sherina selow berat

Ketika Sherina bete karena Sadam naruh lem di rok pramukanya, Sherina menjawab ketus, “Nggak usah nanya dulu, deh, Yah. Aku lagi kesel nih,” ketika bapaknya nyapa dia.

Kalo bapak Sherina adalah bapak gue, gue udah dilempar sendal kalo gue jawab senggak-sopan itu. Sementara itu, di film bapaknya Sherina cuman cengengas-cengenges dan malah ngajakin anaknya jalan-jalan ke kebunnya Pak Ardiwilaga. Ibunya juga sama. Bukannya, “Hus, Sherina. Nggak sopan kamu.” Malah cuman nyengir lucu.

Ini memberikan alasan kenapa Sherina bisa jadi feminis sejak masih muda. Mungkin selain buku-buku Disney, Sherina juga baca Virginia Woolf. Dan gue yakin, ketika pas gede dan orang tua Sherina nemuin Sherina lagi mabok, mereka akan diem aja dan cuman bilang bahwa Sherina mesti ati-ati dan kalo jackpot jangan kena karpet.

3. Sherina dan Sadam adalah prototype Rangga sama Cinta

Empat tahun setelah Petualangan Sherina dirilis, Miles merilis lagi film yang nggak kalah amburadul kerennya, Ada Apa Dengan Cinta. Nggak ada satu pun yang gue kenal yang nggak suka Ada Apa Dengan Cinta. Lagian, for the record, kalo ada temen gue yang nggak suka AADC, gue akan memikirkan keras apakah gue mau terus temenan sama dia.

Yang menjadi poin utama AADC adalah tarik ulur antara Rangga dan Cinta. Keduanya saling tertarik, jelas. Tapi keduanya juga bete satu sama lain. Ini juga sama terjadi kayak Sherina dan Sadam. Film ini jadi seru karena Sadam dan Sherina nggak langsung jadi satu tim. Mereka harus berantem dulu. Berantem-berantem gemes yang bikin penontonnya, “Kya~~~~~…”

Keduanya jelas-jelas saling tertarik. Sadam ngeliat Sherina kayak mainan baru yang belum pernah ia punyai. Sherina ngeliat Sadam sebagai sesuatu yang harus dia taklukkan. Keduanya nggak bisa langsung jadian karena mereka punya ideologi yang bertabrakan.

Makanya sepanjang film mereka harus ngadepin prinsip masing-masing, ego masing-masing dan para penculik untuk bikin mereka tersadar bahwa mereka made for each other. Kalo saja Petualangan Sherina adalah film orang gede, adegan di Boscha akan lebih dari sekedar nyium di kepala. Percaya deh sama gue.

4. Sherina harus bener-bener mikir serius untuk nikah sama Sadam

Setelah lolos dari penculik, Sherina ngasih roknya ke Sadam untuk nyuci roknya. Ya, se-hardcore itu Sherina. Ini sama kayak, “Cewek nggak cuman buat nyuci dan ngurus anak, Nj*ng. Lo juga harus ikutan kerja sama.”

Tapi yang nggak diceritain setelah itu adalah apakah Sadam dan Sherina bakalan jadian apa nggak. Kalo gue bilang sih, Sherina kayaknya harus mikirin banget untuk nikah sama Sadam.

Oke deh, lo masih SD. Mungkin akan ada banyak cowok yang lo temuin pas SMP, SMA atau bahkan pas kuliah. Apalagi kalo lo SMA-nya pindah ke Jakarta dan katakanlah daftar ke Alpus yang gaul banget itu. Bye, Sadam.

Tapi pikirin deh, Sherina, ada berapa banyak anak kecil yang bapaknya punya perkebunan segede kayak punya Sadam? Makin dikit kan cowok-cowok di sekitar lo? Dan inget ini: ada berapa banyak orang tua yang bisa ngeluarin duit milyaran, di tahun 2000, segampang kayak beli korek kuping di Alfamart? Tinggal itungan jari bukan?

Gue tau, Sadam anak terakhir. Dia punya tiga kakak. Dan lo nggak yakin apakah semua tanah itu jatuh ke Sadam apa nggak. Tapi inget ini: dua kakak Sadam nggak ada di Indonesia, yang satu di Jakarta dan kayaknya juga bakalan bodo amat. Mereka semua kemungkinan akan nikah sama orang kaya lain dan nggak peduli sama perkebunan Ardiwilaga. Dan Sadam adalah satu-satunya anak cowok. Sepait-paitnya nasib Sadam, kalo misalnya dia gede nggak jadi pecandu narkoba, dia bakalan end up dengan 50% perkebunan itu. Bayangin kalo lo sebagai cewek bisa nyetir Sadam sebagai anak baik-baik dan mungkin ngambil jurusan bisnis pas kuliah? Mungkin Sadam bakalan dapet seluruh perkebunan itu.

Dan kalo harga perkebunannya bisa segitu di tahun 2000, lo kebayang nggak harganya jadi berapa di tahun 2016? Banyak, bor. Banyak banget. Lo bisa manggil Rihanna buat nyanyi Iwak Peyek di ruang tamu sambil nyapu.

Jadi feminis emang penting, Sherina. Tapi punya duit juga penting.

5. Film ini harus dirilis ulang

Setiap dialog, setiap tarian, setiap lagu penting banget. Nggak ada hal yang nggak penting. Dan film ini ternyata nggak jadi film yang basi. Film ini ternyata abadi. Awet banget. Rasanya tetap seru dan lagu-lagunya everlasting.

Oleh karena itu, gue mengusulkan Miles untuk merilis film ini di tahun 2018 sebagai ulang tahun ke-18 Petualangan Sherina. Supaya anak-anak kecil sekarang tau bahwa ada pahlawan lain selain Captain America.

 

---------------------------------------------------

Judul tulisan ini diedit karena si penulis lagi mabok soju pas nulis.

Petualangan Sherina dirilis tahun 2000 dan harusnya film ini umur 16 tahun tahun ini.

Penulis minta maaf kepada semua pihak yang merasa jadi lebih tua dua tahun gara gara kegeblekan ini.

Komentar