Ichitan Photo Competition
Pertama ngeliat trailernya aja, film garapan Guillermo del Toro ini udah langsung bikin hati kepincut, dan pengen buru-buru nonton di bioskop.
 
 
Pacific Rim bercerita tentang perang antara manusia melawan dari monster-monster (kaiju) yang dateng dari dunia lain melalui sebuah lubang yang terdapat di dasar laut. Lubang itu merupakan terowongan yang menghubungkan antara dunia Kaiju dan dunia manusia. Untuk mengalahkan monster raksasa dibutuhkan monster raksasa juga dong, nah hal itu lah yang membuat pimpinan negara di dunia bekerjasama untuk membuat Jaeger, sebuah robot raksasa yang dikendalikan oleh dua manusia. Kenapa harus dua orang yang jadi pilotnya? Karena satu otak manusia tidak kuat untuk mengendalikan satu buah robot raksasa. Gitu katanya. 
 
Di tengah-tengah perjuangannya melawan kaiju, proyek Jaeger dihentikan karena dinilai tidak efektif oleh gabungan pemerintah yang ada di dunia. Tanpa dukungan dari pemerintah, Stacker Pentecost (Idris Elba) pemimpin dari proyek Jaeger tetap berjalan untuk melawan Kaiju. Seberhentinya support dari pemerintah, Jaeger pun hanya menyisakan 1 Jaegers asal Australia, 1 buatan Hong Kong, satu Jaeger buatan Russia, dan 1 jaegers tua bernama Gipsy Danger yang dipiloti oleh Raleigh Becket (Charlie Hunman) dan Mako Mori (Rinko Kikuchi). Tim ini tugasnya udah bukan lagi lawan Kaiju, tapi untuk menutup portal penghubung dunia Kaiju dan dunia manusia. Selebihnya nonton sendiri aja ya, hehehe.
 
Ini emang film yang nyeritain robot lawan monster. Tapi yang paling mengagumkannya, film ini tetep punya soul. Yes, bener banget lo harus punya soul buat ngerjain film robot kayak gini, biar jadinya gak cuma sekedar hore-horean doang. Nah, Guillermo del Toro masukin unsur paling penting dalam berkarya itu ke dalam Pacific Rim. Hasilnya adalah pengalaman cinema selama kurang lebih 2 jam yang sangat mengagumkan. Kalau ada istilah "Dari mata turun ke hati", di Pacific Rim isitilah itu berlaku. Visual film ini sungguh memanjakan mata, agak eye candy tapi masih keliatan sangar. Gimana ya jelasinnya? ya pokoknya gitu deh. Belom lagi visual efek beserta detail-detail robot dan monsternya, ajegile bro, merinding liatnya.
 
Dari segi cerita, Pacific Rim masih bisa diterimalah ke Hollywood-tannya, agak cheezy sih tapi gak kayak film robotnya Michael Bay. Ceritanya filmya bisa lo temuin hampir di tiap film-film monster Jepang. Cuma sekali lagi, siapa yang peduli cerita kalo lo disuguhin tontonan paling spektakuler di tengah lautan pasifik, yang bikin lo pengen selalu tepuk tangan tiap Jaeger ngeluarin jurus atau ngeluarin senjata buat jatohin Kaiju. Dan Pacific Rim pun menjadi lebih megah dengan iringan musik latar dari Ramin DJawadi, yang memadukan lead gitar, synth, dan orkestra. 
 

Komentar