Garin Nugroho Slamet Rajardjo Riri Riza Hafiz Rancajale

Diinisiasi oleh temen-temen sutradara IFDC menuju IFDC Awards 2014.

Dalam film, sutradara emang punya peran yang penting banget. Dia yang menentukan gimana sebuah ide film bakal tersaji dan bisa ditonton. Bertambahnya jumlah film Indonesia dari tahun ke tahun, membuat munculnya banyak sutradara baru dengan gaya penyutradaraan yang juga baru dalam setiap film. Jadi nggak heran kalo ada perubahan tren penyutradaraan Indonesia dari masa ke masa yang dipengaruhi oleh situasi saat masa itu berlangsung.

Nah buat membahas itu, IFDC (Indonesian Film Directors Club) menggelar diskusi bertajuk Jejak, 'gaya' Penyutradaraan Film Indonesia, hari Sabtu (08/11) kemarin di Dia.Lo.Gue ArtSpace, Kemang, Jakarta Selatan. Ada 3 pembicara yang hadir, Hafiz Ranjacale dari Forum Lenteng dan dua sutradara senior yang udah terlibat dalam perkembangan film dari awal sampe hari ini.

Slamet Rahardjo, perjalanan karir aktor dan sutradara yang mengawalinya dari dunia teater ini emang bersentuhan dengan semua generasi film (dari tahun 1960-an sampe hari ini). Beliau bercerita gimana dunia teater bisa ngasih tahu dia tentang apa itu pengadeganan. Termasuk tentang gaya film jaman dulu dan sekarang.

Ada kalimat menarik nih dari beliau yang P! kutip, "akting bukanlah pretending. Film hari ini adalah dibangun dari keturunan bukan sebagai ilmu pengetahuan, etika, moral, dan lain-lain. Perbedaan perfilman era dulu dan saat ini adalah saat ini kita hanya cuma dididik untuk tahu tapi nggak diajari untuk bisa."

Beda gaya beda juga penyampaian Garin Nugroho yang juga jadi pembicara sore itu. Sutradara yang dikenal dengan spirit new wave-nya emang punya gaya yang nggak selalu ketebak dari film ke filmnya. Menurut Garin background-nya yang besar dan hidup di lingkungan multidisiplin/multikultur lah yang mempengaruhi karya-karyanya selama ini. 

"Saya selalu melihat perkembangan dunia, lalu saya berusaha mengejar walaupun saya tahu saya tertinggal. Sebab kadang tertinggal itu lebih baik karena membuat kita lari lebih cepat." kata Sutradara yang siap dengan film terbarunya Tjokro tahun depan.

Sementara Riri Riza, sebagai moderator diskusi 'curhat' tentang pengalamannya jadi sutradara hari ini. "Berbicara film hari ini kita (sutradara) lebih banyak memikirkan sesuatu yang di luar kemampuan kita (sebagai sutradara). Salah satunya tentang pasar (jumlah penonton bioskop yang akan nonton film kita)."

Menanggapi para sutradara menurut Hafiz, periode perfilman di Indonesia nggak pernah mencapai keilmuannya. "Kita nggak bisa memahami bagaimana film tahun 50-an, 60-an dan seterusnya secara komprehensif. Semua trial and error. Sehingga sampe hari ini jadi ambigu."

Selain itu, ada juga beberapa sineas film yang juga hadir dalam diskusi itu, seperti Upi Avianto, Richard Oh, Lasja Susatyo, Ifa Isfansyah, Titi Watimena, dan Alex Komang.

Acara ini jadi bagian dari IFDC Awards 2014 yang bakal diadakan pada tanggal 22 November mendatang di Dia.Lo.Gue ArtSpace, Kemang Jakarta Selatan. IFDC Awards adalah ajang penghargaan bagi sutradara Indonesia, termasuk yang nggak tergabung di IFDC.

Ada 3 kategori penghargaan, yaitu: Pencapaian Terbaik Untuk Sutradara Film Panjang, Pencapaian Terbaik Untuk Sutradara Film Pertama, dan Pencapaian Terbaik untuk Sutradara Film Pendek. Tahun 2014 adalah tahun pertama penyelenggaraan IFDC Awards dengan Ketua Pelaksana Joko Anwar.

Buat yang belum tahu, IFDC (Indonesian Film Directors Club), asosiasi sutradara film layar lebar Indonesia yang dibentuk dua tahun lalu. Sekarang lebih dari 50 sutradara aktif yang jadi anggota IFDC dan masih terus berkembang.

Diskusi IFDC Awards

 

 (Foto: dok. IFDC)

 

 

Komentar