IFF 2015 presscon

Di gelaran yang ke-10 banyak yang spesial di Indonesian Film Festival 2015.

Kedekatan Australia dengan Indonesia emang bukan hal yang baru lagi. Banyak pagelaran seni budaya Indonesia yang sering dilbikin di sana, bahkan oleh warga Australia sendiri. Termasuk gelaran rutin tahunan, Indonesian Film Festival (IFF) Melbourne. Sebuah agenda memperkenalkan budaya Indonesia melalui media film dengan melakukan pemutaran film-film karya Indonesia di sana.

Di gelaran yang ke-10, Indonesian Film Festival (IFF) 2015 siap menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Selain tema yang diusung, yakni Another Face of Indonesia, IFF 2015 juga mengajak Chelsea Islan sebagai brand ambassador-nya. Wih!

"Ini adalah pertama kalinya kami memiliki brand ambassador. Karena di ulang tahun kesepuluh ini, kami emang ingin menyuguhkan sesuatu yang baru dan berbeda. Termasuk grand design baru dari IFF 2015," aku Reinaldy Cahyo Baskoro selaku Project Manager IFF 2015 saat press conference IFF 2015, Minggu (15/2) kemarin.

Acara yang digelar pada 9-18 April mendatang di Australian Centre for the Moving Image (ACMI) ini bakal memutarkan sepuluh film Indonesia, di antaranya Dibalik 98 (Lukman Sardi), Tabula Rasa (Adrianto Dewo), Siti (Ifa Isfansyah), Angker (M. Yusuf), dan 7/24 (Fajar Nugros), dan Jalanan (Daniel Ziv). Sementara, pada program Educational Screening, ada film Hasduk Berpola karya Harris Nizam.Nggak cuma itu, seperti tahun-tahun sebelumnya, meet & greet, seminar dan workshop dengan filmmaker Indonesia juga kembali hadir. Tahun ini, Lukman Sardi salah satu filmmaker sekaligus aktor Indonesia yang bakal berangkat ke sana.Oh iya, IFF 2015 juga mengadakan kompetisi film pendek (Short Film Competition) yang nantinya film pemenang bakal diputar di program IFF Under the Star. Salah satu program lain dari IFF yang berkonsep open air cinema itu juga bakal menggelar nonton bareng film Arisan karya Nia Dinata.

Buat yang belum tahu, IFF digelar oleh organisasi non profit IFF Inc. bekerjasama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia cabang University of Melbourne. Sejauh ini panitia bekerjasama dengan beberapa Production House (PH) Indonesia  buat memperoleh film-film yang ingin diputer di sana. Tapi, nggak semua PH bisa mengijinkan karya produksinya di bawa ke Australia. Salah satu kendalanya adalah subtitle. Hiks.

Anyway, semoga tahun ini jumlah penonton dari masyarakat lokal yang dateng ke IFF makin bertambah. Sukses ya guys!

 

 

 

 

Komentar