film musik makan 1

Gelaran yang sedap di mata, sedap di lidah dan berkesan di hati.

Di antara dua belas bulan yang ada dalam setahun, pasti para pecinta film Indonesia sangat menunggu-nunggu bulan Maret. Karena, tiap tahunnya Maret didaulat jadi bulan film nasional sebagai perayaan Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret.  Sebulan ini banyak banget lembaga yang ngegelar acara yang menampilkan film-film buatan orang asli Indonesia, yang tentunya nggak kalah seru sama film-film luar negeri yang lebih sering mejeng di bioskop.

Salah satu gelaran yang seru adalah Film, Musik, Makan 2015 yang digelar pada Sabtu (21/03) di Goethe Haus, Jakarta. Di gelaran ini, kita bisa menyaksikan karya baru garapan sutradara-sutradara lokal yang dikenal dengan film-film alternatifnya.

Pertama, ada sutradara asal Yogyakarta, Yosep Anggi Noen dengan filmnya Kisah Cinta Yang Asu. Film pendek ini bercerita tentang seorang anggota geng motor bernama Erik King yang menjalin hubungan dengan pekerja seks komersial. Erik yang selama di film nggak keliatan punya kerjaan selain main motor, sehari-harinya cuma bisa bertugas menjadi pengantar pacarnya ke tempat para kliennya.

film musik makan 3

Kedua adalah film The Fox Exploits The Tiger's Might gubahan sutradara Lucky Kuswandi. Film berlatar Indonesia tahun awal tahun 90an ini dengan apiknya menyinggung relasi kuasa antara pemerintah dengan masyarakat minoritas di Indonesia, lewat kisah masturbasi dua cowok remaja.

Terakhir, filmnya Kamila Andini. Film pendek berdurasi agak panjang ini lagi-lagi menyinggung soal maskulinitas. Mirip kayak Kisah Cinta Yang Asu, film Sendiri Diana Sendiri bercerita soal sosok laki-laki yang sebenernya nggak punya banyak daya dibanding istrinya. Ia ingin menikah lagi, namun pada akhirnya tampak tak kuat menanggung beban dan malah melimpahkan kegundahannya kepada istri pertamanya itu. Perempuan ditampilkan sebagai sosok yang kuat banget di film ini. Ia akhirnya bahkan bisa mengurusi seluruh aspek dalam keluarganya, dari urusan memasak, mencuci, mengurus anak dan bekerja, berbeda dengan suaminya yang terlihat cuma bekerja, jarang mengurusi anak tapi banyak  maunya.

Hivos dan Yayasan Cipta Citra Indonesia selaku produser ketiga film tersebut memang sengaja mengajak ketiga sutradara yang sudah punya karakter khas dalam filmnya untuk membuat karyanya yang personal dan bisa menampilkan isu-isu yang tak banyak dipertontonkan. Menonton ketiga film itu kita bakal terseret ke dalam pemikiran tentang hal-hal yang sebenernya sering kita temui sehari-hari, tapi kerap kita acuhkan, yaitu: kekuasaan, diskriminasi ras,  seks dan ketidaksetaraan gender.

Menonton film-film di sana pasti bikin kita kenyang, dan seperti yang disebutkan oleh Yosep Anggi Noen pada sesi tanya jawab, film-film itu diharapkan bisa menjadi sebagaimana sinema, yaitu tontonan yang bikin kita memikirkannya sekeluar dari bioskop.

film musik makan 2

Lantas apa yang terjadi setelah keluar dari ruang pemutaran film itu? Para pengunjung justru disuguhi berbagai jajanan makanan enak! Salah satunya adalah sajian sayur rendang di booth yang dijaga oleh tim dari film Tabula Rasa. Yoi, mbak Lala Timothy pun ikut menjajakannya.

Sambil duduk makan dan mendengarkan musik para pengunjung jadi bisa asik membincangkan film-film.

O ya,  selain ketiga film pendek itu, acara ini juga menghadirkan pemutaran film panjang berjudul Siti karya Edi Cahyono di penghujung acara.

Sedap! 

Komentar