Hiiii seremmmm~

 

Film yang diangkat dari novel berjudul yang sama karya Alvin Schwartz, "Scary Stories to Tell in The Dark" hadir untuk menghibur para pecinta film horror. Kali ini, Guillermo del Toro kembali hadir sebagai produser di film yang tayang 7 Agustus lalu. Bersama André Øvredal, film ini menyajikan tema retro dengan latar belakang Amerika di tahun 1968.

Mirip dengan film "IT" dan "Strangers Things," film "Scary Stories to Tell in The Dark" juga mengisahkan petualangan horror sekumpulan remaja, yaitu Stella Nicholls (Zoe Margaret Colletti), dengan dua sahabat bernama Auggie (Gabriel Rush) dan Chuck (Austin Zajur) yang bertemu dengan Ramón Morales (Michael Garza).

Pertemuan mereka mengantarkan keempat remaja itu ke sebuah rumah tua milik keluarga Bellows yang menjadi urban legend sejak abad ke-19 di malam Halloween. Akibat kekepoan Stella, tanpa disadari ia telah membuka terror yang mencekam karena telah mencuri buku dongeng milik Sarah Bellows.

 

Alur Cerita yang Biasa Aja

Sama seperti kebanyakan film horror, Scary Stories to Tell in The Dark punya alur cerita yang standar, alias biasa aja gituu. Berawal dari kekepoan sekumpulan anak-anak, lalu bikin si ‘hantu’ ini marah dan menebarkan terror di kota.

Terror yang terjadi dalam cerita ini ditulis dengan darah di buku dongeng milik Sarah Bellows. Karena telah menyebabkan kemarahan dari Sarah, sekumpulan remaja itu mau nggak mau harus mencari cara untuk menghentikan ancaman dari dongeng yang menjadi kenyataan itu.

 

Untung visual dan jumpscarenya lumayan mantap nih!

Meskipun alur cerita dari "Scary Stories to Tell in The Dark" biasa aja, tapi Øvredal bisa bikin visual yang keren dan bikin penonton ngerasain atmosfer seremnya. Seperti kebanyakan film horror, di awal dan akhir film lo akan disuguhkan dengan visual yang bahagia. Nah dipertengahan baru deh, lo akan nutup-buka mata lo.

Ditambah lagi dengan jumpscare yang cukup ngagetin walaupun nggak terlalu banyak tapi terasa pas. Film ini juga memunculkan monster-monster yang siap menghantui para tokoh. Jangan harap lo bakal nemuin hantu sejenis kuntilanak di film ini ya!

 

Masing-masing Tokoh Punya Cerita

Sama dengan film horror kebanyakan, karakter remaja kepo, remaja yang nggak percaya hantu, remaja yang penakut juga hadir di film ini. Tapi bedanya, di film ini masing-masing tokoh punya ‘nasib’ sendiri yang beda-beda nih.

Tiap tokoh punya backstory yang diceritakan lewat buku dongeng milik Sarah Bellows. Dari buku tersebut, lo akan melihat karakter tokoh dan nasib mereka di terror dongeng itu. Kisah urban legend Sarah Bellows juga diceritakan dengan baik lewat petualangan yang dilakukan Stella dan Ramon. Hingga Stella yang masuk ke dimensi lain di mana ia menjadi sosok Sarah di abad ke 19, lalu bertemu arwah Sarah, dan mengetahui alasan dibalik kemarahan Sarah.

 

Ending yang bikin lo mikir: ‘yaudah, terus gimana lagi?’

Kalau di film IT (2017), nasib anak-anak yang ‘hilang’ mungkin lebih beruntung dibanding tokoh di film Scary Stories to Tell in The Dark. Tokoh-tokoh seperti Auggie, Chuck, dan Tommy nggak balik meskipun terror sudah hilang.

Kayaknya, film ini akan dibuatkan sekuelnya kalau lihat dari ending di mana Stella menjadi penulis untuk menghentikan terror Sarah. Stella sepertinya juga akan menulis dongeng untuk mengembalikan sahabat-sahabatnya tersebut.

Sayangnya, sampai akhir film nggak dijelaskan nih kenapa Sarah Bellows bisa punya ilmu hitam dan menjadi sosok menyeramkan yang menebarkan dongeng-dongeng kematian.

 

Secara keseluruhan film ini cukup menghibur buat lo yang suka nonton film horror. Film ini memiliki rating di atas 17 tahun, karena banyak penggambaran monster yang bikin ngeri kalau lo bawa anak kecil.

Apa pendapat lo tentang film ini? Yuk kasih tau di kolom komen!

Komentar