Sendiri-Diana-Sendiri-

Istri Siaga, Suami Siapa?

Bukan.. bukan akronim dari SIap Antar jaGA. Tapi siaga dalam arti siap sedia. Sebuah sikap yang sering dipake dalam kemiliteran atau baris-berbaris - siap buat menyerang, diserang, melindungi, ngelakuin aja, termasuk siap lahir batin nerima kondisi apapun. Sikap yang juga diharapkan deket sama sosok suami, sebagai laki-laki.

Tapi dalam film karya Kamila Andini, sikap ini malah dibangun ke dalam karakter Diana (diperankan Raihaanun), perempuan berusia tiga puluh tahun yang selalu ngabisin hari berdua bareng anaknya sampai suaminya pulang bekerja di larut malam. Sebagai seorang istri sekaligus ibu rumah tangga, Diana bisa beres menjalani semua tugasnya dengan baik. Nyiapin anaknya yang mau pergi ke sekolah, membimbing anaknya ngerjain PR, belajar pianika, mencuci baju, masak, nemenin anaknya nonton sampe tidur sambil setia menunggu suami pulang bekerja. Bener-bener seperti perempuan ideal yang sering jadi idaman laki-laki.

Tapi, ke-ideal-an Diana, seperti dianggap masih ‘belum’ memenuhi kriteria sang suami, Ari. Di suatu malam, Ari yang baru pulang kerja langsung menunjukan sesuatu pada Diana: Ilustrasi pembagian kehidupan – yang diyakini cukup adil untuk dua keluarga. Menurut Ari, masih ada satu kriteria lagi yang harus dipenuhi Diana buat bisa jadi perempuan ideal di matanya. Diana harus ikhlas membagi sesuatu yang dicintainya (baca: suami) buat orang lain. Ya, Ari berniat menikah lagi dengan teman lamanya.

“Yang penting itu kamu. Kamu harus ikhlas berbagi sesuatu yang kamu cintai dengan orang lain. Kalau kamu ikhlas semua akan baik-baik aja,” petuah Ari pada Diana tentang keinginannya ini sebagai sebuah proses hidup dan takdir yang harus dijalani oleh mereka sebagai manusia. Dan petuah ini pun secara nggak langsung juga di-amin-i oleh ibu kandung dan bapak mertua Diana sebagai usaha menjadi istri ideal : bisa ikhlas dan sabar.

Maka, demi memenuhi satu syarat ideal tadi, Diana kembali menunjukkan sikap (siaga)-nya dengan melakukan banyak inisiatif buat rumah tangganya. Mulai dari usaha memperbaiki penampilan sampai mencoba mengajak Ari buat memperbaiki semuanya lagi. Sementara suaminya, malah lebih memilih berlindung di bawah kata 'proses' dan 'takdir' sehingga memasrahkan semuanya.

Lagi-lagi Diana nggak mau diam aja. Sampai akhir cerita, Diana makin menunjukkan sikap siap (siaga)nya dengan melakukan dua peran sekaligus. Sebagai pencari nafkah (istilah yang sering melekat dengan sosok suami) sekaligus menjalankan kewajiban sebagai seorang Ibu - tetap masak, cuci piring, menemani Rifky belajar dan tidur. Ya, Diana bisa melakukan semuanya sendiri, kecuali cuma buat angkat galon ke dispenser.

Kisah dalam film produksi babibutafilm bersama Hivos Rosea dan Yayasan Cipta Citra Indonesia ini seperti jadi gambaran satu fenomena sosial saat ini : single parent. Bahwa peran suami dan istri dalam sebuah keluarga sekarang bisa dilakukan cuma dengan satu orang. Apalagi dalam film ini, si anak juga nggak kelihatan merasa kehilangan sosok ayah, ketika sang ibu bisa memenuhi semuanya- kebutuhan ekonomi, waktu, psikologis, pendidikan, dan komunikasi. Lewat film ini juga jadi tergelitik pengen lempar pertanyaan, kalau istri bisa sesiaga itu, gimana dengan suami?

Komentar