wregas

Ngobrol santai bareng sineas muda di Sinema Sabtu

 

Wregas Bhanuteja merupakan seorang sineas muda yang namanya lagi naik daun. Bukan, bukan. Wregas bukannya lagi jadi ulat di pucuk daun teh makanya naik daun. Bukan sama sekali. Nama Wregas naik daun karena dia baru saja meraih penghargaan tergengsi di dunia perfilman. Melalui film pendek terbarunya yang berjudul Prenjak (In the Year of Monkey) ini, Wregas dan kawan-kawannya berhasil menyabet penghargaan sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016, Cannes.

Luarrr biasa!!

Dan akhir pekan lalu, Provoke! berhasil menembus puluhan orang yang antri di R. Sjumandjaja, Art Cinema - FFTV Institut Kesenian Jakarta buat nonton buah karya sineas muda asal Yogyakarta ini pada acara Sinema Sabtu. Pada kesempatan kali ini, Sinema Sabtu memutarkan film-film dari Wregas, termasuk Prenjak itu sendiri.

Prenjak (In the Year of Monkey)

Prenjak merupakan film pendek berdurasi 12 menit. Film ini bercerita tentang 'transaksi' korek api demi memenuhi kebutuhan hidup. Diah (Rosa Winenggar) menawarkan sebatang korek kepada teman kerjanya Jarwo (Yohanes Budyambara) seharga Rp 10.000 per batang. Mahal banget?! Iya emang. Korek itu digunakan sebagai penghitung waktu untuk pembeli korek melihat vagina Diah.

Atas nama penasaran sekaligus mau bantu teman, akhirnya Jarwo pun membayar korek tersebut. Setelah menyelesaikan transaksi dengan Jarwo, justru Jarwo yang berbalik menawarkan transaksi serupa pada Diah, menjual korek Rp 10.000 per batang untuk melihat kemaluan milik Jarwo. Setelah dipaksa, akhirnya Jarwo yang akan membayar Diah untuk melihat kemaluannya. Diah pun menurut demi uang untuk kebutuhannya. Sempat menolak untuk melihat, pada akhir hitungan Diah justru melihat kemaluan Jarwo.

Meski film ini menunjukan soal kemaluan, film ini jauh dari kesan pornografi. Film ini justru menyampaikan makna yang kuat. Wregas mengungkapkan, "Vagina dan penis identik dengan hubungan perempuan dan laki-laki, dimana keduanya saling melengkapi. Jika salah satunya hilang maka yang satu harus bekerja lebih giat lagi. Dan ini yang ingin saya sampaikan di film Prenjak. Diah harus menjual korek api demi memenuhi kebutuhan hidupnya bersama anaknya."

Prenjak merupakan 1 dari 1.500 film yang masuk ke panitia festival. Prenjak pun berhasil mengungguli sembilan film pendek lainnya dari negara-negara lainnya.

Karya Wregas Lainnya

Karya Wregas lainnya juga menjadi langgangan masuk dan meraih penghargaan festival film dunia. Misalnya saja Lembusura pada Festival Film Berlin 2015 dan Floating Chopin pada Hong Kong Film Festival 2016. Dua film ini menjadi salah dua film yang juga diputar pada Sinema Sabtu bersama Prenjak. Senyawa dan Lemantun juga masuk dalam daftar putar Sinema Sabtu akhir pekan lalu.

Wregas biasa menggunakan latar belakang Jawa dalam film-film pendeknya. "Saya selalu membuat film dari apa yang dialami dan paling dekat dengan saya," ujarnya.

 

Prestasi Wregas emang sungguh membanggakan yaa P! Kita tunggu karya Wregas lainnya. Dan jangan lupa berkarya, barangkali habis ini karya lo bisa nembus festival luar negeri!

Komentar