penampil hip hip hura 4

Lestarikan budaya dan musik Indonesia

11 tahun sejak kepergian musisi ternama Chrisye, namun tidak sedikit para penerusnya yang masih melantunkan bahkan melaksanakan sebuah konser persembahan. Swara Gembira adalah salah satu dari mereka. Pergelaran Hip-Hip Hura yang dilaksanakan pada 8 Desember 2018 di Livespace SCBD ini, tidak seperti konser-konser pada umumnya. Seniman yang turut meriahkan pergelaran ini tidak hanya berasal dari kalangan musisi, adapula penari, hingga komikus. Selain dari berbagai latar belakang seni, Swara Gembira juga turut memadukan berbagai macam kebudayaan Indonesia dalam satu panggung. Dimulai dari budaya Bali, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Melayu, Dayak, serta Sumba yang dipamerkan melalui latar dan dekorasi panggung, serta busana, tarian, tata rias wajah & rambut para penampil Pergelaran Hip Hip Hura.

fauzan lubis 2

Sebelum pertunjukan utama dimulai, para penonton dimanjakan dengan tembang-tembang nusantara yang dibawakan oleh Irama Pantai Selatan. Sesi pertama pergelaran ini terdiri dari lagu-lagu yang mengangkat isu-isu sosial. Sesi ini dibuka dengan selipan doa harapan pada penampilan penari cilik, Sanggita Kencana yang menari dengan gemulainya mengikuti alunan lagu “Lilin-Lilin Kecil”. Swara Gembira berharap para penari cilik ini suatu saat dapat berpijar bak lilin kecil yang akan menerangi masa depan Indonesia. Lalu dilanjutkan dengan imajinasi Swara Gembira mengenai pesta tahun 80-an melalui penampilan para penari Kinarya GSP dengan lincahnya menari yang diiringi lagu “​Hip-Hip Hura”.

kunto aji 2

reza chandika 3

Pertunjukan pada lagu ini ternyata telah dibocorkan oleh Swara Gembira melalui poster Pergelaran Hip-Hip Hura. Setelah diajak bergembira, pergelaran dilanjutkandengan luapan emosi Fauzan Lubis bak seorang raja yang tersakiti melalui lagu “​Jurang Pemisah” dan “​Sendiri”. Dilanjutkan dengan Reza Chandika yang menjadi tukang becak dan meluapkan keluh kesahnya melalui lagu “​Mesin Kota”. Reza Chandika tidak sendirian di atas panggung pada malam itu. Selain ditemani para penari Kinarya GSP, ternyata Reza Chandika ditemani oleh Cindercella yang muncul dari dalam becak untuk menyanyikan lagu “​Anak Sekolah” bersamanya.

sanggita kencana

Pada sesi pertama, Swara Gembira memilih beberapa lagu Chrisye yang masih relevan untuk menggambarkan kondisi anak muda saat ini. Seperti “​Hura-Hura”, lagu yang dibawakan oleh grup kolektif hip-hop Onar ini menceritakan tentang kehidupan anak muda yang terbius dengan gemerlap budaya barat dan lupa akan budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Adapula lagu “​Sarjana Kaki Lima” yang dilantunkan oleh Elfa’s Choir ini menggambarkan mengenai sarjana-sarjana muda yang sulit mendapatkan pekerjaan. Sesi pertama ditutup dengan lagu “​Resesi” yang dinyanyikan oleh Marjinal dan kelompok Taring-babi ini mengisahkan tentang kondisi anak muda yang menjadikan obat-obatan terlarang sebagai pelariannya.

reog ponorogo simogiri sampurno
Sesi kedua adalah sesi di mana Swara Gembira merayakan kebudayaan Indonesia. “​Aku Cinta Dia” dan “​Nona Lisa” yang dilantunkan oleh Kamila menjadi pembuka sesi kedua. Malam itu, mereka tidak hanya menyanyikan kedua lagu tersebut, melainkan juga memainkan biola dan bahkan menari di atas panggung. Selain dimeriahkan para musisi dan penari, Swara Gembira juga mengajak kelompok Reog Ponorogo Simo Giri Sampurno. Pertunjukan reog yang mengisahkan tentang asal usul seni reog ini diiringi dengan lagu “​Serasa” yang dibawakan oleh Rishanda & The Rising. Lagu “​Cintaku” yang dibawakan oleh biduanita ​indie Vira Talisa bersama grup kolektif hip-hop Onar juga disajikan dengan gaya berbeda. Dilanjutkan dengan penampilan memukau bak bidadari dari Nadin Amizah yang membawakan lagu “​Untukku”. Masih berasal dari album yang sama, lagu selanjutnya adalah “​Kala Cinta Menggoda” yang dinyanyikan oleh Kunto Aji. Pada malam itu, Kunto Aji tampak seperti seorang Arjuna yang merayu para pengunjung untuk kembali mencintai bangsanya. 

irama pantai selatan      

pemuda sinarmas

Pertunjukkan utama malam itu ditutup oleh Kunto Aji bersama seluruh pementas dengan membawakan lagu “​Setia” dan “​Juwita”. Pertunjukan utama ini sengaja mengajak berbagai latar belakang seniman yang berbeda, karena Swara Gembira berharap warisan budaya Indonesia yang beraneka ragam dapat terus berkembang hingga menjadi mercusuar dunia. Seluruh rangkaian pertunjukan utama diilustrasikan dalam bentuk komik oleh Masdimboy. Setelah hampir dua jam menikmati lagu-lagu Chrisye, para pengunjung Pergelaran Hip-Hip Hura diajak berdansa oleh kaset joki Pemuda Sinarmas sebagai penutup malam yang indah. Swara Gembira berharap setelah Pergelaran Hip-Hip Hura animo masyarakat terhadap budaya Indonesia semakin besar dan menumbuhkan kesadaran di tengah anak muda Indonesia untuk merevolusi warisan seni budaya bangsanya sendiri.

 

Photo by Pengabadi Gambar Swara Gembira

Komentar