mg 2718Seluruh pihak yang terlibat diharapkan untuk terus dan tetap belajar sepanjang hayatnya

Setiap tahun Sekolah Cikal Setu menggelar pertunjukan seni sebagai bentuk kegiatan kulminasi atas pembelajaran murid-murid, yang terintegrasi dengan mata pelajaran Kesenian, Bahasa, Ilmu Sosial, Desain, dan Budaya Indonesia. Setelah sebelumnya menggelar pertunjukan seni Mary Poppins (2013), Letala (2014), School of Rock (2015), Gravity (2016), Rwa Bhinneda (2017) dan Face Mask (2018), di tahun 2019 ini Sekolah Cikal Setu mengangkat cerita rakyat Indonesia "I La Galigo" yang selaras dengan tema besar pertunjukan seni Sekolah Cikal secara lainnya, yaitu Playground of Ujung Pandang.

 mg 2890

Sedikit mengutip kalimat Ketua Yayasan Cikal, Ibu Najelaa Shihab, “Strategi diferensiasi adalah modifikasi proses, mendesain berbagai aktivitas untuk membantu murid memahami materi dan memodifikasi produk, serta memberikan kesempatan bagi murid menunjukkan apa yang mereka pahami atau hasil belajar lewat berbagai bentuk”. Melalui kegiatan Playground of Ujung Pandang "I La Galigo" ini seluruh pihak yang terlibat diharapkan untuk terus dan tetap belajar sepanjang hayatnya. 

 mg 2793

Pertunjukan yang bertempat di Teater Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur pada Jumat, 8 Maret 2019 ini diadaptasi dari naskah epik mitos "I La Galigo" yang pada tahun 2011 diakui UNESCO sebagai epik mitos terpanjang di dunia, sekaligus sebagai warisan budaya dunia dalam kategori “Memory of The World”.

 mg 2848

Pembuatan pertunjukan seni ini melibatkan murid, guru, dan orang tua dari Sekolah Cikal Setu, di mana murid Sekolah Cikal Setu yang menulis naskahnya. Kegiatan ini melibatkan 300 murid Cikal (siswa SMP dan SMA). Seniman profesional yang turut ambil bagian dalam pertunjukan ini antara lain Gigi Art of Dance yang membantu koreografi, serta Ilenk Andilolo yang turut andil sebagai konsultan. Ilenk Andilolo adalah seniman yang berperan sebagai I La Galigo sejak cerita rakyat ini pertama kali diangkat ke dalam pertunjukan seni tahun 2003 di Esplanade, Singapura, yang disutradarai Robert Wilson. Sampai saat ini sudah tampil di Asia, Australia, Eropa dan Amerika.

Komentar