urban mythomania jogoyudan biennale 2019 gio 16

Penuh perayaan!

Urban Mythomania! merupakan program mini festival yang dirancang bersama beberapa orang, komunitas, dan muda-mudi kampung di pelataran Hotel Purgatorio, RW 10 Kampung Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, Minggu, (17/11). Acara ini menjadi bagian dari pameran Hotel Purgatorio karya Yoshi Fajar Kresno Murti di Kampung Jogoyudan, dan Program Publik Biennale Jogja XV Equator #5.

Dalam acara Urban Mythomania ini diadakan pemutaran film, diskusi dan diakhiri dengan pertunjukan musik. Urban Mythomania! merupakan perayaan suara-suara dari balik ilusi, delusi, dan kebohongan yang bersliweran dalam realitas kota keseharian, pembangunan, kebijakan, dan realitas media kita hari ini.

Sebelum dilakukan pemutaran Film "Berdaulat!" karya Hadhi Kusuma dan Ngurah Termana, digelar diskusi bersama; Hairus Salim (Antropolog dan Penulis), Nekropolis (Kolektif Urban), Ngurah Termana (Taman 65, Bali). Para narasumber berbicara tentang prespektif mereka tentang sebuah pembangunan, hunian, rumah.

Setelahnya digelar Pentas Musik yang menampilkan; Diversitones (Yogyakarta), Gunawarma (Nosstress, Bali), Nada Bicara (Yogyakarta), dan Shopping List (Yogyakarta). Pengunjung yang terdiri dari warga sekitar Hotel Purgatorio, penikmat seni, serta rombongan dari Tokyo Art University.

Film "Berdaulat!" karya Hadhi Kusuma dan Ngurah Termana yang kurang lebih berdurasi 15 menit berisi wawancara dengan beberapa tokoh tentang pendapat mereka perihal sebuah hunian.

urban mythomania jogoyudan biennale 2019 gio 4

Pelurusan Sejarah Lewat Medium Seni Oleh Kaum Muda

Di Pukat Pikat Asia Taman Budaya Yogyakarta digelar Wicara Seniman bertajuk "Sejarah dan Kaum Muda: Merawat Ingatan Pasca Perang Dingin di Asia Tenggara", Minggu (17/11). Diskusi bersama Studio Malya dan Mark Bradley (sejarawan dari The University of Chicago) ini berbicara peran kaum muda dan sejarah lewat karya Studio Malya berjudul "Have you heard it lately".

Fahri (Studio Malya) menjelaskan bahwa karya —yang sudah berkembang satu tahun yang lalu— itu berbicara tentang narasi 65, terutama narasi alternatif untuk anak-anak muda. Menurut Mega (Studio Malya), ide dari karya ini berasal dari ingatan kolektif yang terjadi di tahun 2012. Pada saat itu anggota Studio Malya—yang mayoritas merupakan mahasiswa FISIPOL UGM— menyaksikan pemutaran Film "Senyap" yang diputar di kampus mereka dibredel oleh salah satu ormas.

artistalk studiomalya tby biennale 2019 3

Hal itu membuat Studio Malya bertanya-tanya perihal peristiwa yang terjadi di tahun 65’ tersebut. Hasil dari pertanyaan-pertanyaan inilah yang melatarbelakangi karya berjudul "Have You Heard it Lately".

Antara Sejarah dan Kaum Muda

Pasca tahun 65’ atau era postkolonial merupakan tahun-tahun kelam yang terjadi di wilayah Asia Tenggara. Menurut Mark Bradley di era postkolonial ini terjadi krisis di hampir seluruh Asia Tenggara. Bradley menyebut Vietnam dan Kamboja sebagai studi kasus dalam diskusi ini.

Menurut Bradley salah satu faktor penyebab krisis di Asia Tenggara karena pertentangan antara komunis (golongan kiri) dan demokrasi (golongan kanan). Bradley bercerita fenomena ini terjadi di salah satu negara yaitu Vietnam. Krisis yang melanda kawasan Asia Tenggara ini termanifestasikan ke dalam bentuk genosida, krisis ekonomi dan pemerintahan yang otoriter. Dengan adanya banyak peristiwa ini menciptakan cerita sejarah yang multitafsir.

artistalk studiomalya tby biennale 2019 4

Keadaan tersebut pada akhir-akhir ini mendorong banyak kalangan untuk melakukan pelurusan sejarah, salah satunya dari kaum muda. Saat ini sejarah sudah banyak direproduksi sesuai dengan semangat zaman.

Menurut Bradley hal tersebut tercermin lewat narasi sejarah yang dibangun lewat medium karya
seni. "Pameran seni yang bertemakan (pelurusan) sejarah di Vietnam sudah dimulai tahun
2000an," tambahnya. Bradley menambahkan jika di Kamboja pembangunan ―life building” lewat sejarah terjadi di kalangan anak-anak muda dan para seniman.

Distorsi yang Menggangu dalam Sebuah Telpon Kaleng

Instalasi karya Studio Malya ini berbahan kaleng dan kabel dengan rincian 64 kaleng tinta dan satu buah telpon merah. Menurut Mega, karya ini ingin membuat orang merasa terganggu. "Artinya setelah orang melihat karya ini, akan menghasilkan pertanyaan-pertanyaan soal narasi 65," tambah Mega.

Ide ini juga dipilih Studio Malya karena pada telpon kaleng memerlukan benang atau kawat yang tegang. Jika benang atau kawat tidak tegang suara yang ada tidak terdengar atau banyak distorsi. "Begitu pun yang terjadi pada narasi soal 65’ yang [masih] simpang siur dan banyak distorsinya, jika tidak ada kebenaran dalam sejarah," ujar Mega.

Menurut Bradley, Studio Malya mampu menarasikan persoalan 65’ dengan sangat baik. "Sejarah sulit sekali untuk diungkapkan lewat kesenian, perlu adanya kerja-kerja seperti negosiasi dan kerja-kerja rumit lainnya dalam mengungkapkan sejarah," tambah Bradley.

Workshop Dongeng Bersama PM Toh

workshopdongeng tby biennale 2019 2

Sementara itu di Kids Corner, Taman Budaya Yogyakarta, Minggu, (17/11) diadakan Kelas Mendongeng bersama Agus Nur Amal atau yang lebih dikenal dengan PM Toh. Kelas ini menggunakan berbagai barang barang tidak terpakai seperti plastik, pipa bekas, kardus, dan kotak kayu.

Dongeng yang dibawakan bertema luar angkasa dan antariksa. PM Toh menjelaskan berbagai lapisan-lapisan langit yang ada di bumi, dan mendongeng menggunakan alat peraga yang dibuat dari alat-alat sederhana tersebut. Anak anak di kelas mendongeng ini juga membawa peralatan dapur dari rumah, mereka lalu diajarkan membuat cerita menggunakan berbagai peralatan yang telah dibawa.

Pada kelas mendongeng yang diikuti 10 anak ini, PM Toh membawakan cerita dengan kalimat yang ringan dan asyik sehingga anak anak dapat menerima ilmu dengan mudah. Tidak hanya anak-anak, para orang tua yang hadir juga antusias dalam mendampingi dan mendengarkan kelas mendongeng tersebut.

photo via Biennale Jogja XV Equator #5

Komentar