artist talk bersama seniman patung jssp 3 2019 12 02 at 12.19.32 4

Merepresentasikan anak muda dan menyiapkan regenerasi.

Jogja Street Sculpture Project #3 (JSSP #3) mengadakan artist talk dengan pembicara kelompok Mata Air dan Mata Kayu. Acara dipantik oleh Soewardi selaku kurator, bertempat di Pendhapa Art Space, (1-12-2019).

“Artist talk bertujuan menyosialisasikan karya-karya yang ada di JSSP #3. Mengundang dua kelompok seniman untuk membicarakan karyanya. Dipilihnya kelompok Mata Air dan Mata Kayu karena merepresentasikan anak muda dan menyiapkan regenerasi. Kini kita berbicara disruptif era revolusi 4.0, perubahan konstelasi yang terjadi harus disikapi. Harapannya anak-anak muda lebih aktif di Asosiasi Pematung Indonesia (API), JSSP dan acara lainnya. Anak muda berkarya dengan cara yang lain, tidak lagi konvensional. Mata Air menggeser stigma patung tiga dimensi, monumental, besar, dan sebagainya. Mereka menekankan konseptual tidak lagi monumental, menandai titik-titik suatu wilayah dengan batu kecil, didukung oleh teknologi gawai, google maps dan google earth,” papar Satya Brahmantya selaku marketing dan komunikasi API.

Karya Mata Air (Kusna Hardiyanto, Liflatul Muhtarom, Dedy Maryadi, Purwanto, Galuh Kusuma Atmaja) berjudul A Ritual that Marks the Boundary Line. “Konsep karya ini yaitu menandai sumbu batas garis imajiner secara simbolis dan diaplikasikan secara digital. Memvisualkan titik batas ujung Utara dan Selatan. Adanya titik tersebut diharapkan audiens bisa memvisualkan garis imajiner dengan nyata dalam salah satu teknologi digital serta mewujudkan imajinasi (imajiner) masyarakat menjadi nyata dengan adanya simbol di titik masing-masing sumbunya. Karya ini melibatkan tiga elemen yaitu patung, video, dan teknologi,” papar Liflatul Muhtarom.

artist talk bersama seniman patung jssp 3 2019 12 02 at 12.19.32 3

Lavatory ialah judul karya Mata Kayu (Albertho A.A. Wanma, Bara Masta). Lavatory mengusung konsep, seperti halnya ruang tamu, kamar tidur, dapur dan ruangan ruangan lain dalam sebuah bangunan atau rumah, toilet (lavatory) juga memiliki fungsi yang penting. Toilet adalah ruangan yang dikhususkan untuk aktivitas yang sangat privasi bagi setiap orang. Fungsi utamanya sebagai tempat membuang hajat, suatu rutinitas makhluk hidup (manusia) yang tidak bisa disepelekan. Pentingnya ruangan ini ]dapat dilihat dengan adanya penyediaan berbagai jenis dan bentuk toilet pada ruang publik yang secara tidak langsung dimaksudkan untuk mendukung aktivitas manusia.

“Kami merespons garis imajiner bukan secara fisik melainkankan ruang pameran. Tidak ada tendensi khusus terhadap garis. Muncul ide membuat suatu bentuk yang cukup interaktif dan kami memilih toilet. Kami mematungkan toilet dari ruang fungsional menjadi tidak fungsional, tapi tetap mempertahankan unsur bangunan toilet seperti dinding dan atap,” ujar Albertho.

artist talk bersama seniman patung jssp 3 2019 12 02 at 12.19.32 1

Soewardi menilai karya dari Mata Air relevan dengan pesatnya perkembangan teknologi di masa kini dan merupakan hal yang menarik mengombinasikan seni patung dengan perangkat gawai. Sedangkan karya dari Mata Kayu menurutnya merupakan suatu bentuk kritik/ protes bahwa toilet, dibeberapa tempat sering kali dikomersialkan. Tidak mengubah objek toilet mempertegas bentuk sebagai media kritik. Hal serupa juga diungkapkan oleh Dunadi salah seorang pematung senior. “Konsep toilet bisa berarti kritik atau edukasi kepada masyarakat bahwa buang air besar bukan persoalan jorok melainkan melibatkan keindahan juga,” ujarnya.

“Pemanfaatan teknologi dalam dunia seni patung menurut saya sangat wajar, apalagi ini diinisiasi oleh anak muda. Pengalaman menelusuri patung lewat google maps melibatkan kemampuan kognitif. Titik di utara dan selatan jika disambung melewati akan melewati berbagai tempat. Kaitannya dengan seni patung selain penanda fisik, konsep juga menjadi penting. Hal itu yang menonjol dari karya kelompok Mata Air,” ungkap Anuspati, pematung senior.

Komentar