whatsapp image 2019 12 08 at 10.42.35 1

Penuh keunikan luar biasa.

“Semoga JSSP #3 berdampak luas dan masyarakat bisa merespons, memahami, dan berkomunikasi dengan hasil karya yang dipamerkan di tempat terbuka. Dinas kebudayaan mengucapkan terima kasih kepada pelaku seni yang telah berproses dan karyanya bisa menyatu dengan masyarakat,” ucap Drs. Diah Tutuko Suryandaru perwakilan Dinas Kebudayaan D.I Yogyakarta dalam sambutannya.

Jogja Street Sclupture Project #3 (JSSP #3) menyelenggarakan seminar bertajuk “Representasi dan Reinterpretasi Atas Garis Imajiner dan Sumbu Filosofis Yogyakarta”, di Pendhapa Art Space yang diikuti sekitar 150 peserta. Dr. Ir. Yustinus Suranto, M.P (Dosen Fakultas Kehutanan UGM), Drs. Anuspati, M. FA (Seniman JSSP #3 dan Dosen FSR ISI), Dr. Kris Budiman, M.Hum, dan Drs. Soewardi, M.Sn. (Kurator), bertindak sebagai pemateri seminar, (7-12-2019).

whatsapp image 2019 12 08 at 10.42.35

Yustinus Suranto mengungkapkan bahwa kreativitas seniman yang terlibat dalam JSSP #3 memiliki keunikan luar biasa dan memberi pembelajaran baru jika dilihat dari kacamata kayu budaya, istilah yang dikenalkan oleh Yustinus. Menurutnya istilah kekayon yang berarti tetumbuhan sangat dekat dengan tema Pasir Bawono Wukir. Beberapa patung yang memanfaatkan kayu sebagai sumber daya mengandung makna simbolik di dalamnya, rambu-rambu semiotika dalam pengembangan dan pembentukan karakter manusia.

“Garis imajiner dapat direntangkan menjadi sumbu filosofis. Garis imajiner dengan gunung dan laut membentuk poros linear. Hal tersebut juga terdapat di kerajaan lain khususnya di Jawa. Misalnya kesultanan Banten, kerajaan Singosari, dan Bali. Di luar Jawa, misalnya kesultanan Pontianak. Cara pengaturan terhadap ruang dan sistem sosial menjadi pandangan dunia bagi suatu kerajaan. Berdasarkan hal ini Yogyakarta jadi unik sekaligus tidak unik sebab ditemukan dalam kesultanan lain. Keunikannya, pola spasial hingga kini masih bertahan utuh dan menjadi orientasi di keraton Yogyakarta. Orientasi ruang bisa bertranformasi menjadi orientasi nilai. Karya-karya seniman sangat ikonik karena merepresentasi tiga elemen penting yaitu laut, kota, dan gunung. Proses representasi dan reinterpretasi berdasar pada dua hal, yaitu data dan argumen,” papar Kris Budiman.

whatsapp image 2019 12 08 at 10.42.32

Kurator memberikan kesempatan pada seniman untuk menafsirkan makna dan kebebasan memilih lokasi, tema, dan bentuk gagasan yang akan diambil dalam berekspresi dan membikin karya. “Material diakomodir agar titik temu antara ide seniman dan realitas ruang melahirkan karya yang harmonis dan layak untuk dipamerkan. Pematung Malaysia merespons ruang di Yogyakarta dengan perbandingan yang terjadi di Malaysia dan Indonesia,” ungkap Soewardi.

Anusapati selaku seniman patung dari kelompok Pring Project dengan karya berjudul Tonggak Samudera mengungkapkan menafsir tema Pasir Bawono Wukir lumayan sulit. Mereka memilih Gumuk Pasir sebagai lokasi menempatkan karya karena mudah dan netral. Pring Project menggunakan material bambu karena ramah lingkungan, pertumbuhannya cepat, harga murah, bahan berlimpah, dan punya potensi kekuatan yang luar biasa.

Setelah seminar, Pendhapa Art Space dan JSSP #3 kedatangan kunjungan dari 150 mahasiswa Universitas Negeri Semarang jurusan Seni Rupa. “Kegitan JSSP #3 sangat bagus sebab mendukung seniman patung dalam berkreativitas serta turut menunjang kunjungan wisatawan di objek wisata yang ada patungnya,” ujar mahasiswi bernama Nur Khomariah.

Gunadi selaku dosen mengatakan kegiatan JSSP #3 sangat luar biasa dan perlu dicontoh oleh daerah-daerah lain. Acara seperti JSSP bisa memberi wadah bagi seniman patung unutk berkreativitas dan memberikan wacana pendidikan kepada masyarakat lewat seni patung.

Komentar