Sering liat sirkus kan? Pasti pernah juga liat ada pemain sirkus jalan di atas kabel “wire” baja ujung satu titik ke titik lainya. 
 
Nah, itu kan cuma jalan doang dan bawa alat penyeimbang. Ada yang lebih ekstrim lagi bro, yup Slacklining namanya. Apaan tuh? Mungkin beberapa dari kalian ada yang sudah tau, tapi gak sedikit juga yang masih asing sama olah raga ekstrim satu ini. Kali ini Provoke! bakal nunjukin sama kalian sekumpulan anak muda Bandung yang sangat tergila – gila sama oleh raga ini.
 
Slackline sendiri merupakan salah satu olah raga ekstrim asal Amerika yang udah ada sejak 82 tahun yang silam. Waktu itu, mereka masih menggunakan “wire” baja. Slackline modern sendiri baru populer di tahun 2009 dan masuk ke Indonesia pada 2012 silam. Pada dasarnya Slackline adalah sebuah olah raga yang menjaga keseimbangan di atas sebuah tali sama dengan Highline. Tapi bedanya kalau Highline sendiri hanya berjalan diatas seutas tali kaya sirkus yang kita bahas tadi, tapi dengan ketinggian yang ekstrim. Nah, kalo untuk Slackline ini sendiri selain berjalan diatas seutas tali mereka nambahain aksi mereka dengan berbagai macam atraksi yang tricky dengan tingkat kesuliatan yang beragam. Tentunya butuh keahlian khusus dan konsentrasi yang tinggi untuk dapat melakukanya.
 
“Slackline, itu olah raga asal Amerika yang udah ada sekitar tahun 82-an, tapi banyak versi –lah tentang tahunya, itu untuk Slackline yang model lama yang pake wire baja. Tapi memang tergolong baru di Indonesia, karena Slackline modern sendiri baru populer pada tahun 2009, dan masuk ke Indonesia pada 2012 kemarin,” menurut Kang Dadeng, salah seorang trickliners yang tergabung dalam Pushing Panda.
 
Banyak trik yang bisa dilakukan diatas seutas tali ini, diantaranya ada butt bounce, chest bounce, mojo, track stand, 360 (Three Sixty), bahkan sampai front flip dan back flip lho. Nah, gak kurang cadas apa coba? O iya, tali yang biasa dipake dalam olah raga ini biasa disebut Trickline Weebing mirip sama tali yang biasa digunakan untuk panjat tebing, tapi tingkat elastisitasnya lebih lentur, jadi kaya main trampoline di atas seutas tali.
 
Ternyata untuk talinya pun ada berbagai jenis, tergantung kebutuhannya. Sebagai contoh, buat yang masih pemula, jenis tali yang digunakan tingkat elastisitasnya lebih rendah dibanding tali yang dipakai untuk nge-trick atau standar kompetisi, karena meminimalisir pantulan agar tidak terlalu liar. Hal itu bertujuan untuk meminimalisir para pemula yang baru belajar dari cidera. Gak lupa, ada matras untuk alas di bawahnya itu juga meredam benturan ketika jatuh karena hilang keseimbangan.
 
Pushing Panda adalah salah satu komunitas Slackline yang terdiri dari anak – anak muda di kota Bandung yang menggemari olah raga ekstrim. Selain Slackline, mereka juga merupakan penggiat olahraga climbing, dan rope jump. Komunitas ini jadi satu – satunya komunitas Slackline di Indonesia yang di endorse oleh produsen perlengkapan Slackline asal Jerman yaitu Gibbon. Pada perkembangannya sekarang, olahraga ini gak cuma eksis di Bandung dan Jakarta aja, tapi juga kota – kota seperti Purwokerto, Semarang dan Yogyakarta juga banyak terdapat komunitas Slackline.
 
Kalo dilihat minat dari kota – kota lainya, bukan gak mungkin bakal ada kompetisinya di tahun – tahun ke depan. Kang Dadeng uga sempat bilang “Dengan melihat animo yang makin besar, saya berharap Pushing Panda bisa menginisiasi kompetisi Slackline pertama di Indonesia biar oleh raga ini makin dikenal lagi.” Nah, buat yang masih penasaran dengan Slackline ini atau malah pengen ikut latihan kalian bisa berkunjung ke halaman facebooknya Pushing Panda. Dan kalau kalian pingin lihat trik – trik gila yang mereka lakukan silahkan cari di youtube, dijamin bakal bikin kalian melongo untuk beberapa menit.
 
 
 
 
 

Komentar