Media sosial penyebab depresi?

Sebuah studi dari "Journal of Applied Biobehavioral Research" baru aja dipublikasikan minggu ini. Studi tersebut mengungkapkan bahwa ada beberapa aktivitas di media sosial yang berkaitan dengan major depressive disorder (MDD) di kaum millennials.

MDD adalah diagnosis klinis gangguan mood yang meliputi gejala kesedihan yang berkepanjangan, keputusasaan, kemarahan atau sifat mudah marah dan biasanya didiagnosis oleh penyedia layanan kesehatan.

Berikut tiga perilaku di media sosial yang berkaitan dengan depresi


Engagement tinggi punya kemungkinan depresi lebih rendah

Orang-orang yang mengunggah fotonya bersama orang-orang lain punya kemungkinan memiliki kriteria depresi yang lebih rendah. Hal yang sama juga berlaku pada orang-orang yang mengikuti lebih dari 300 orang di Twitter. Studi tersebut juga menunjukan bahwa orang-orang yang mengidap depresi cenderung memiliki pengikut yang rendah di Instagram.


Alasan lo menggunakan sosial media berpengaruh

Banyak pengidap depresi menggunakan media sosial untuk membagikan meme atau GIF. Pengidap depresi juga punya kemungkinan tinggi menggunakan media sosial karena ajakan orang lain alih-alih mendaftarkan diri secara proaktif.


Perilaku ketika mem-post sesuatu juga berpengaruh

Pengidap depresi juga cenderung menghindari mem-post sesuatu karena takut penilaian dari orang lain.


Kalo lo merasa mengidap depresi, konsultasikan diri lo atau hubungi Yayasan Pulih.

Komentar