Ichitan Photo Competition

thumb indonesia bangkitkan lagu anak

Wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap lagu anak Indonesia.

Sebagai salah satu wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap hilangnya lagu anak Indonesia, sekelompok mahasiswa STIKOM The London School of Public Relations (LSPR) Jakarta membuat  sebuah kampanye berjudul "Indonesia Bangkitkan Lagu Anak". Sebagai bentuk solidaritas, mahasiswa yang tumbuh di era 90-an ini memiliki misi untuk membangkitkan kembali lagu - lagu anak Indonesia yang kini hilang dari perkembangan zaman.

Dalam kampanye ini, Tim Indonesia Bangkitkan Lagu Anak juga mendatangi TK Strada Dewi Sartika II, Cengkareng (Jum'at, 16/12) sebagai upaya nyata untuk mengenalkan dan mengingatkan kembali lagu anak terhadap siswa/i disana yang turut didukung oleh para orangtua dan juga guru.

Acara yang telah dilakukan antara lain: mengajak anak-anak untuk menyanyi lagu anak dan menari bersama, games menebak lagu anak, serta melakukan permainan dan diakhiri dengan foto bersama.

"Sebagai generasi muda, kami berharap lagu anak Indonesia dapat terlahir lagi, dapat mengikuti perkembangan zaman sehingga dapat kembali bangkit. Kampanye ini sebagai salah satu cara yang bisa kami lakukan untuk terus membangkitkan lagu anak Indonesia, kami juga ingin supaya para orang tua turut berperan serta dalam menyaring informasi, hiburan serta musik yang baik untuk anak-anak. Kami juga berharap agar kampanye ini bisa mendapatkan dukungan dari masyarakat", ungkap salah satu perwakilan Tim Indonesia Bangkitkan Lagu Anak.

Seperti yang kita ketahui, gadget kini bisa dimainkan dengan mudah oleh anak-anak dan mudah mengakses hiburan sendiri termasuk musik yang mereka sukai. Jika kita lihat perkembangan anak usia playgroup, mereka sudah mengerti lagu yang bahkan belum sesuai dengan usianya, padahal usia anak – anak tersebut merupakan usia emas (golden age) yang artinya pada umur itu, anak – anak dapat menyerap lebih banyak pengetahuan dari apa yang mereka liat dan mereka dengar serta menirukan hal-hal yang baru saja mereka pelajari.

Ketika anak –anak mendengarkan atau melihat sesuatu yang tidak pantas dengan usianya, dapat menggangu moral dan kepribadian mereka seiring mereka bertumbuh besar. Maka dari itu, perlu peran orang tua terutama serta masyarakat untuk membantu anak-anak mendapat hiburan yang layak dengan mengarahkan serta mengontrol tayangan yang dilihat anak-anak.

(Foto: STIKOM LSPR)

Komentar