“Waktu itu cuma saya sendiri (toys photographer). Makanya saya dianggap orang setengah gila,” begitu pengakuan Fauzie Helmy saat pertama kali menggeluti toys photography 4 tahun lalu.
 
Di acara peluncuran buku toy’s photography pertamanya yang berjudul “Dunia Tanpa Nyawa” Kamis (07/11) lalu, P! dapet kesempatan buat ngobrol-ngobrol sama Fauzie Helmy. Simak yuk!
 
Ceritain dong, awalnya bisa menggeluti bidang ini?
Pertama kali terjun ke toys photography ini, ketika saya mendapat project dari sebuah restoran di Kanada. Waktu itu mereka minta dibuatkan desain logo. Begitu saya menyentuh desain grafisnya, mereka baru tahu kalo saya seorang toys photographer. Akhirnya mereka pun minta saya untuk memotret toys karakter mereka biar kelihatan “hidup”. Karena akan mereka pakai buat iklan. Setelah itu, setahun kemudian saya mulai aktif memotret dengan para toys designer seluruh dunia.
 
Wih, toys designer dari mana aja tuh?
Ada beberapa negara. Tapi yang paling berkesan, saya pernah menerima toys yang aneh banget dari seorang toys designer asal Jerman. Dia menciptakan mainan yang aneh itu khusus untuk saya dan hanya satu-satunya di dunia. Saya juga pernah digandeng sama toys designer sekaligus seniman terkemuka asal Italia. Dia minta saya memotret toys paper-nya dan ternyata hasil fotonya diliput di majalah sana. Bener-bener nggak pernah nyangka.
 
 
Terus, siapa aja nih yang terlibat di buku pertama ini?
Perbandingannya ada 70:30 buat toys designer (negara) luar dan Indonesia. Yang unik sih, saya justru mengenal toys designer Indonesia ketika saya bekerjasama dengan para toys designer luar. Jadi, mereka itu lebih banyak dikenal di sana daripada di sini. Bahkan mendapat pengakuan yang luar biasa juga di negara luar.
 
Terakhir, apa aja yang perlu diketahui pembaca P! tentang Toys Photography?
Dalam toys photography kita mempelajari 3 hal yang utama, yakni komposisi, pencahayaan, dan seni peran. Ibaratnya mereka (toys) aktris, sedangkan kita (fotografer) sebagai sutradara. Jadi, kita harus mengenal si karakter toys itu. Mulai dari sisi warnanya, wajahnya, dan ekspresinya. Tapi yang paling penting buat temen-temen yang mau mencoba (toys photography), yang pertama adalah harus berpikir out of the box.
 
Oh ya, buat lokasi motretnya, Helmy milih tempat-tempat bersejarah nan indah di Indonesia lho. Tujuannya, biar kultur budaya Indonesia makin dikenal dong pastinya. Nggak percaya? Beli aja bukunya. 
 

Komentar