Selebrasi TAA

Kenapa susah menang meyakinkan?

Liverpool baru saja menang dari rival satu kota, Everton di pekan ke-14 Liga Inggris, Senin (3/12/2018) dini hari WIB. Pertandingan ini sebenarnya nyaris berakhir imbang, sebelum Divock Origi mencetak gol kemenangan di menit 90+6 yang membuat skor menjadi 1-0 untuk The Reds Liverpool. Pertandingan ini sebenarnya berlangsung alot. Kedua tim melakukan jual beli serangan yang membuat masing-masing kiper, Alisson dan Pickford bekerja keras.

Di pertandingan ini, pelatih Liverpool Jürgen Klopp benar-benar diuji. Saat timnya buntu dan tak kunjung membobol gawang Everton, ia mulai melakukan pergantian pemain. Keputusan Klopp memasukkan Daniel Sturridge dan Divock Origi terbukti tepat. Sebelum mencetak gol saja, Origi seharusnya bisa menceploskan bola andai sepakannya tak menemui mistar gawang. Gol kemenangan di laga ini pun tak bisa lepas dari keberuntungan saat bola tendangan Virgil Van Dijk yang melambung tinggi jutru mengenai mistar gawang Pickford dan memantul kembali ke arah Origi. Pickford yang tidak siap dengan bola liar ini kaget karena Origi berdiri bebas dan dengan mudah mencetak gol kemenangan.

MENANG LAWAN EVERTON

Cuma nih, apa iya sih Liverpool mau terus-terusan bergantung pada dewi fortuna? Ke mana aja sih para pemain andalan yang biasanya berhasil menciptakan peluang mematikan baik dalam skema menyerang yang tersusun rapi maupun serangan balik? Mari kita bedah satu per satu pekerjaan rumah alias PR yang harus dituntaskan segera.

Pertama, Liverpool masih punya beban harus menang, kalo bisa dengan skor telak, saat melawan Napoli di pertandingan terakhir fase grup Liga Champions. Apa fokus James Milner dan kawan-kawan sudah terlalu jauh ke laga yang akan digelar tanggal 12 Desember tersebut? Seharusnya sih Liverpool bisa menjaga fokus dan konsisten dengan lawan yang ada di depan mata. Rugi loh kalo The Reds nggak bisa mempertahankan performa apiknya. Apalagi di Liga Inggris, Liverpool sudah bisa bersaing ketat dan berada di peringkat kedua untuk menempel ketat pemuncak klasemen, Manchester City.

ORIGI JOSSS

Faktor selanjutnya, Liverpool sebenarnya tampil menggigit di awal musim ini. Kehadiran Naby Keïta memberikan banyak opsi di lini tengah The Reds. Hanya saja, setelah Keita mengalami cedera, ia masih sulit kembali ke skuat utama. Mestinya, Keita sudah mulai dimainkan lagi. Klopp nggak perlu takut-takut buat memainkan Keita, Fabinho, dan Wijnaldum secara bersamaan, karena ketiga pemain ini punya karakter permainan yang berbeda. Fabinho bisa mematikan serangan lawan, Wijnaldum bertugas menjaga kestabilan di lini tengah, dan Keita sanggup mengobrak-abrik permainan lawan dengan kemampuan individual dan umpan terobosan yang mengejutkan.

Saat pertandingan melawan Everton, Liverpool kehilangan kaptennya Henderson. Ia absen karena mendapat kartu merah saat timnya menang 3-0 melawan Watford. Permainan sang kapten yang masih belum stabil pun memengaruhi lini tengah Liverpool. Di satu sisi Klopp membutuhkan kepemimpinannya, di sisi lain permainan Hendo tak kunjung meyakinkan. Ada apa dengan Hendo?

KLOPP MRINGIS

Terakhir adalah soal rotasi dan ketajaman tim. Klopp seperti kebingungan untuk menentukan para pemain yang harus turun sejak awal pertandingan. Fokus utama tertuju pada lini tengah yang sepertinya belum menemukan pakem untuk tampil lebih ganas. Permainan Liverpool cenderung berputar-putar dari kiri ke kanan, yang berujung dengan umpan lambung dari sisi sayap untuk diarahkan ke lini depan. Jarang sekali kita bisa melihat kombinasi apik yang dihasilkan lewat serangan balik atau skema umpan-umpan terobosan dan satu-dua yang biasa dimainkan trio Mane-Salah, Firmino. Apakah trio ini sudah kelelahan dan mulai terbaca pergerakannya?

Setelah ini, The Reds masih harus menerima tantangan Burnley dan Bournemouth. Di atas kertas, dua lawan ini tak terlalu berat bila dibandingkan dengan dua pertandingan berikutnya saat menjamu Napoli dan Manchester United. Sanggupkah Liverpool menyelesaikan pekerjaan rumah mereka untuk tampil lebih ciamik?

photo via liverpool fc

Komentar