dd435dff d81f 4716 86aa daeb5e60782f

Gas pol!

Sebuah harapan baru di sektor ganda campuran Indonesia ada di pundak Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti. Di tahun 2019 ini, Praveen/Melati sudah melakoni tiga partai final, mulai dari India Open 2019 Super 500, New Zealand Open 2019, dan yang teranyar Australia Open 2019.

Potensi besar jelas terlihat pada Praveen/Melati, hanya saja kini saatnya mereka untuk semakin membuktikan agar potensi itu tidak menguap begitu saja. Praveen/Melati harus lebih stabil demi meraih kemenangan demi kemenangan, bukan hanya sekadar masuk ke final.

Ini pula yang disoroti oleh Susy Susanti. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI itu menilai bahwa Praveen/Melati sudah punya banyak kemajuan. Di sisi lain, Susy menyayangkan keduanya belum bisa meraih juara. "Di perempat final dan semifinal, mereka tampil luar biasa, betul-betul luar biasa mainnya. Praveen/Melati ini sebetulnya salah satu pasangan yang ditakuti sama lawannya, tapi balik lagi ke kematangan mereka," kata Susy di laman resmi PBSI, Badmintonindonesia.org.

7b1129b6 bf5a 43d2 83b5 f45b25e2cc01

Susy melihat Praveen/Melati sudah stabil di babak-babak awal karena mereka minimal sanggup ke perempat final dan semifinal. "Kalau sebelumnya bisa kalah sama lawan yang tidak diunggulkan di babak awal, sekarang sudah bisa menunjukkan kelasnya. Praveen/Melati harus mempertahankan peringkatnya di delapan besar dunia, mereka harus tahu standard mereka di mana," kata Susy.

Praveen dinilai punya potensi, tapi kestabilannya masih naik turun walau sekarang adalah saatnya Praveen untuk mempertegas kualitasnya. "Melati cenderung lebih baru di level elit, dibanding Praveen. Jadi tugas Praveen untuk membimbing Melati untuk bisa menarik Melati ke atas supaya bisa jadi pasangan yang solid. Melati memang butuh kerja keras," tambah Susy.

ri piala sudirman 2019 praveen melati and all 16 of 19

Saat bertemu pasangan yang peringkatnya jauh di atas mereka, misalnya Wang Yilyu/Huang Dongping, Praveen/Melati harus bisa keluar dari tekanan demi tekanan untuk bisa mengembangkan permainan karena Wang/Huang punya permainan cepat dan kematangan strategi.

Praveen/Melati diharapkan bisa lebih cerdik lagi dalam menganalisa permainan lawan dan tidak boleh melakukan banyak kesalahan sendiri. Keduanya perlu meningkatkan fokus dan memperkuat pertahanan. Apalagi selama ini pasangan dari China dikenal pintar, terutama saat melawan Praveen karena mereka tidak pernah memberi bola atas yang akan menjadi makanan empuk bagi Praveen. "Program latihan dari pelatih mungkin bisa ditambahkan, bagaimana placing-nya Praveen bisa lebih halus, lalu jangan nafsu, nggak apa-apa main reli dulu, adu dulu, begitu ada kesempatan, baru serang. Jadi ini, antisipasi dan pancingan serangan ini yang mungkin bisa diterapkan sebagai variasi bagi Praveen/Melati," tutur Susy.

ri piala sudirman 2019 praveen melati and all 10 of 19

Susy tetap menyayangkan, di saat progresnya sudah ada, Praveen/Melati masih tak kunjung menjadi juara. Padahal, sekalinya bisa meraih juara, rasa percaya diri Praveen/Melati tentu akan semakin tinggi. Susy mengatakan bahwa Praveen/Melati kerap kesulitan saat bertemu lawan yang permainannya cepat. Melati hatus bisa lebih gesit, lincah, dan menguasai lapangan lebih baik agar saat diincar ia bisa keluar dari tekanan.

Praveen/Melati juga masih punya penyakit kambuhan, yaitu buang-buang poin sendiri. Pasangan ini diharapkan bisa saling mengingatkan di lapangan supaya jangan buru-buru dan terlalu nafsu ingin mematikan lawan. Keduanya harus main safe dulu, yang penting shuttlecock masuk. Di perempat final, di semifinal bisa, kok di final nggak bisa? Ini terjadi sudah tiga kali di final, harus tahu, kesalahannya di mana? Kami tetap kasih masukan dan mendampingi, tapi tetap semua harus ada kemauan dari atletnya, toh kalau juara kan juga untuk atlet," ucap Susy.

ri piala sudirman 2019 praveen melati and all 13 of 19

Susy kini akan bekerja sama dengan Kepala Pelatih Ganda Campuran PP PBSI, Richard Mainaky, terkait apa saja yang perlu ditingkatkan dari Praveen/Melati yang merupakan calon kandidat terkuat ke Olimpiade Tokyo 2020 bersama Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja. "Misalnya kami kasih masukan ke pelatih, perlu ada tambahan kelincahan di depan net, dan kalau pemain putri 'ketarik' ke belakang, ya harus siap juga. Nggak bisa hanya mengandalkan pemain putra, memang kalau di ganda campuran pasti pemain putra akan cover sebagian besar area lapangan belakang. Tapi jangan sampai porsinya 70-30, paling tidak minimal 65-35, atau kalau bisa 60-40, itu akan jauh lebih solid kerjasamanya," beber Susy.

Kini, Praveen/Melati bersama Hafiz/Gloria diharapkan bisa mempertahankan rangking di Top 8 agar bisa lolos ke Olimpiade Tokyo 2020. Setiap negara diperbolehkan mengirim maksimal dua wakil di nomor ganda yang berada di peringkat delapan besar dunia.

photo via PBSI/Badmintonindonesia.org

Komentar