foto hagai batara oleh indra haryandika

Karya baru Hagai Batara

 

Satu tahun yang lalu, Hagai Batara merilis single pertamanya, The Bird’s Song. Dengan rilisnya single tersebut, Hagai memulai meniti karir bermusiknya sedikit demi sedikit. Dalam rangka satu tahun peluncuran single pertamanya, Hagai kembali merilis single terbarunya, I Was Alone.

Lagu I Was Alone yang akan diluncurkan tanggal 20 Mei 2019 merupakan single kelima Hagai. Proses produksi single ini dimulai sejak Februari 2019. Ketika itu Hagai mulai merilis lirik yang akhirnya Ia rekam satu bulan setelahnya.

Proses rekaman pun Ia lakukan sendiri di kamar kos miliknya. Untuk proses mixing dan mastering, Hagai dibantu Johanes Abiyoso. Johanes Abiyoso sendiri sudah beberapa kali terlibat dalam proses mixing dan mastering lagu-lagu Hagai.

Ada yang unik dari proses perancangan artwork single I Was Alone. Artwork yang biasanya dikerjakan oleh Mario Pegas, kali ini dikerjakan sendiri oleh Hagai. Ia mendapat inspirasi dari kawannya yang mengidap sinestesia (fenomena neurologis di mana otak menimbulkan beberapa persepsi berupa penglihatan, suara, ataupun rasa dari suatu respon indera). Hagai memodifikasi visualisasi yang muncul dari kawannya saat mendengarkan lagu I Was Alone

“Lagu ini ceritanya tentang gua kira gua sendirian tapi ternyata masih ada orang yang mau sama-sama bareng jalan sama gua buat berbagi beban yang gua tanggung,” jelas Hagai mengenai makna lagu I Was Alone

Lagu I Was Alone memberikan warna yang sedikit berbeda dari lagu-lagu sebelumnya. Dua lapis suara gitar dan tempo yang lebih cepat dari biasanya membawa pendengar melihat sisi lain dari Hagai Batara. Tanpa meninggalkan ciri khasnya, Hagai coba memberi variasi warna pada lagunya kali ini.

Rencananya, single ini akan jadi rilisan terakhir Hagai di tahun 2019 ini. Setelah ini, Hagai akan mulai menyiapkan mini album yang akan dirilis segera.“I Was Alone” dapat didengarkan di Spotify, Apple Music, Dezeer, dan layanan streaming digital lainnya, atau bisa didengar di bawah ini: 

 

Foto: Indra Haryandika

Komentar