thumb feast2019

"Ini kami tulis bukan hanya sebagai sebuah kritik terhadap keadaan secara umum, namun juga kepada diri kami sendiri."

Rasa takut atas perubahan iklim dan asap polutan yang kian hari tidak bersahabat dengan kesehatan, membuat kelompok musik asal Jakarta .Feast kembali ‘bersuara’ nih dengan single terbarunya.

Berjudul “Tarian Penghancur Raya”, lagu ini membahas hubungan antara manusia dengan alam, budaya dan segala sesuatu yang dilahirkan oleh pertiwi jauh sebelum masyarakat menapaki bumi.

.Feast juga mencoba mengungkapkan kekecewaan terhadap usaha-usaha masyarakat yang gagal dalam menanggapi perubahan lingkungan (baik alam dan budaya) secara bijak, juga kekecewaan terhadap diri sendiri yang hiprokrit dalam menjadi konsumen budaya dan produk.

“Berkaca ke banyaknya berita-berita tidak mengenakkan perihal kerusakan lingkungan dan ancaman kelangsungan untuk berbagai warisan budaya Indonesia belakangan ini, rasanya ‘Tarian Penghancur Raya’ menjadi sebuah lagu yang relevan untuk dirilis sekarang. Ini kami tulis bukan hanya sebagai sebuah kritik terhadap keadaan secara umum, namun juga kepada diri kami sendiri. Kita berlomba-lomba merusak seluruhnya yang asli dan asri, entah demi apa,” ujar Baskara Putra.

Mendengarkan “Tarian Penghancur Raya” kalian akan mendengarkan nih suara gamelan yang terdapat di awal lagu, seakan-akan .Feast mengajak pendengarnya untuk merespon keadaan lingkungan belakangan ini. Ciri khas .Feast seperti sound gitar yang terdengar bluesy juga masih dipertahankan.

Dalam pengerjaannya, .Feast dibantu oleh Wisnu Ikhsantama Wicaksana yang dipercaya untuk proses mixing. Sedangkan proses mastering dikerjakan oleh Marcel James. Di beberapa bagian gitar, di lagu ini melibatkan Rayhan Noor. Untuk artwork-nya sendiri, dikerjakan oleh Mikael Aldo dari Sun Eater Studio.

Bagi yang penasaran dengan lagu “Tarian Penghancur Raya”, langsung aja deh kalian dengerin di berbagai platform musik digital favorit kalian. Bagi yang ingin mengetahui video liriknya, langsung aja simak di bawah ini:

(Foto: dok. Sun Eater)

Komentar