Ketika berantem hebat dengan Ryan Ulsh, mantan drummernya, di atas panggung Barcelona Primavera Sound Fest 2009, sebagian orang mungkin mengganggap Wavves sudah diambang kehancuran. Well, gak perlu waktu lama bukan ngebuktiin kalo itu salah. Lewat formasi terbarunya, Nathan Williams berhasil menelurkan album keren bertajuk King of the Beach di tahun 2010 lalu.

Masalah gak selese di situ. Dicap ugal-ugalan dan direcokin sama labelnya sendiri pas lagi ngerekam album, bikin Nathan dkk. muak dan cabut dari label Fat Possum. Hasil dari berantem ini? Mereka ngerilis album EP sendiri, Life Sux, di tahun 2011. Album yang nampilin kolaborasi bareng Best Coast dan Fucked Up sukses bikin mereka masuk Billboard’s Heatseekers chart di posisi #11. Jelas, mereka bukan band begajulan biasa kan?

2 tahun berlalu, lewat label barunya, Mom + Pop (yang juga adalah anak perusahaan Sony Music Ent.) Nathan Williams bersama partner in crime-nya Stephen Pope serta drummer baru, Jacob Cooper,  kembali hadir dengan Afraid of Heights. Masih tetep ngebawain musik surf rock campur pop punk, di album ini Wavves menggandeng nama besar yang mungkin bisa bikin dahi mengkerut kalo ngeliat track record-nya. Yap, produser album ini, John Hill, merupakan nama dibalik beberapa lagu tenar milik Christina Aguilera, Shakira, Pink, dan Rihanna.

Seperti biasa, Wavves masih nampilin musik upbeat enerjik yang menyenangkan (selama lo gak baca liriknya. Kenapa? Terus aja baca). Dibuka dengan Sail to the Sun,  imaji musim panas yang cerah ceria di pinggir pantai langsung kebayang jelas. Lagu eskapis ini nampilin bassline super catchy serta raungan gitar yang bikin kita gak sabar buat jejingkrakan. Begitu juga dengan Demon to Lean On, yang ngingetin kita sama lagu-lagu milik Nirvana.  Di album ini sendiri, Wavves kedengeran makin pede dengan nampilin beberapa lagu dengan tempo agak pelan yang berbeda sama lagu-lagu di album sebelum. Contohnya kaya Cop, yang dihiasi gitar akustik dan juga siulan.  Kehadiran John Hill berpengaruh banyak dalam kualitas audio di album ini. Sebagai sebuah band lo-fi, Afraid of Heights, malah terasa jadi lebih pol pas didengar lewat headphone.

Lirik jadi satu bagian yang menarik di album ini. Yap, walaupun mengusung musik yang identik dengan pantai dan musik panas, Nathan Williams menghadirkan lirik-lirik yang suicidal dan depresif luar biasa di setiap lagunya. Di beberapa lagu, Nathan bahkan gak tega buat mengajak pendengarnya sedikit rileks sebelum dihantam abis-abisan semangatnya di bagian reff atau akhir lagu. Simak saja lirik Sail to the Sun yang  dibuka dengan kalimat

“I don’t wanna, get left behind.

So I tell you what I’m gonna do to get by,

i’m gonna pick you up in my arms,

give you all of my love”

sebelum ditutup di akhir lagu dengan,

“And sail to the sun, chances are none,

Oh, but we’ll all die, that’s just the way we live…

in a grave”

Lagu penutup di album ini, I Can’t Dream, bahkan ngegambarin suatu keadaan yang begitu muram lewat lirik, “I can finally sleep, but i can’t dream…” dan “i don’t want to remember anything”

Setelah perlahan mengubah image mereka dari urakan jadi band yang produktif nyiptain karya, album Afraid of Heights ini juga jadi pembuktian dari Nathan Williams dkk. kalo mereka juga bisa  berkembang jadi makin matang tanpa harus kehilangan unsur-unsur “kasar” yang bikin kita jatuh cinta di awal karirnya dulu. Masa depan tampaknya makin cerah buat mereka.

Komentar