Setelah penantian yang berlangsung selama lebih dari dua tahun, Vampire Weekend akhirnya merilis album ketiga mereka juga bulan Mei lalu. Menurut personil Vampire Weekend sendiri sih, album yang berjudul Modern Vampires Of The City (MVOTC) ini merupakan album mereka yang paling ‘dark.’ Buat yang udah dengerin dua album Vampire Weekend terdahulu pasti bakal merasa agak skeptis, dan berpikir para V Dubs ini antara lebay atau cuma bercanda aja. Karena kayaknya rada gak mungkin band yang terkenal dengan gaya preppy dan lagu-lagunya yang catchy dan ngajak goyang bisa tiba-tiba berubah jadi sendu.


Tapi begitu mulai mendengar track pertama dari MVOTC, mulai deh kita ngerasain sendiri dark-nya album ini. Obvious Bicycle terdengar sendu, apalagi kalau lo benar-benar dengerin liriknya. Lagu ini bercerita tentang perjuangan generasi sekarang yang kesulitan untuk bisa sukses. Lagu di track kedua, Unbelievers, dan kesepuluh, Ya Hey, yang biarpun terdengar cheery dan tanpa disadari bikin lo mengangguk-anggukan kepala, sebenarnya adalah keluh kesah Ezra Koenig tentang agama, Tuhan, dan kepercayaan. Memang, lagu-lagu di dua album sebelumnya—Vampire Weekend dan Contra—juga banyak yang sebenarnya menyembunyikan lirik-lirik yang agak creepy dan psychotic dibalik happy tunes. Tapi, Obvious Bicycle dan Unbelievers diibaratkan sebagai pemanasan, sebelum akhirnya kita dibawa masuk ke dalam sudut yang lebih gelap. Lagu Step terdengar melankolis dan di sepanjang lagu ini, Ezra Koenig menyanyikan lirik-lirik seperti “I’m stronger now, I’m ready for the house” dan “Wisdom’s a gift, but you’d trade it for youth” yang intinya menyuarakan pikiran seseorang yang baru melalui proses pendewasaannya.


Setelah dibawa ke lorong gelap yang membuat kita merasa mellow, kita pun diajak istirahat sebentar dengan lagu Diane Young, yang cocok juga nih kayaknya buat dijadiin soundtrack senam aerobik. Lagu ini tadinya nyaris dinamai “Dying Young”, sebelum akhirnya diganti karena Ezra sadar orang-orang gak butuh lagu dengan judul se-obvious itu. Setelah semangat kita diangkat sampai ke klimaks oleh Diane Young, bagaikan lagi baca sebuah novel drama percintaan, kita pun dibawa turun ke antiklimaks oleh lagu selanjutnya, Don’t Lie. Lagu ini terdengar santai sehingga menjadikannya gampang didengar, dan enak juga untuk dinyanyikan keras-keras (walaupun, lo mungkin bakal bergidik begitu lo sadar kalau bait-bait yang lo nyanyikan sebenarnya mengungkit-ungkit perihal kematian). Buat yang sering galau, track keenam dan ketujuh, Hannah Hunt dan Everlasting Arms, wajib untuk dimasukkan ke playlist khusus.


MVOTC memang terasa berbeda, tapi masih ada sedikit unsur dari Vampire Weekend yang ‘dulu’ terasa di lagu Fingerback, yang memiliki tempo upbeat ala Cousins dan A-Punk. Mendengarkan MVOTC terasa seperti pergi ke kuliah atau ceramah singkat yang mengingatkan kita kalau hidup ini singkat dan bakal berakhir cepat atau lambat; semacam wake up call yang disampaikan lewat melodi yang cantik. Vampire Weekend kelihatannya sudah berkembang jauh dari masa-masa mereka menulis lagu tentang kehidupan kampus, atau signifikansi penggunaan tanda titik koma dalam suatu kalimat. Musik mereka pun sudah berevolusi dari nuansa afro/punk-rock yang menjadi ciri khas mereka di dua album terdahulu, menjadi terdengar lebih matang, dan sesuai dengan tema yang konstan terasa di sepanjang album; dewasa.

Komentar