dokumentasi tashoora official 3

Dari Yogyakarta yang siap menebar pesona.

Perlahan tapi pasti, Tashoora mulai mencuri hati para pecinta musik. Nyaris setiap panggungan di Yogyakarta mereka lahap. Saat lagunya diputar, orang-orang dengan cepat mengenali musik racikan Danang Joedodarmo (gitar, vokal), Dita Permatas (akordion, keyboard, vokal), Gusti Arirang (bass, vokal), Danu Wardhana (violin, vokal), Sasi Kirono (gitar, vokal), dan Mahesa Santoso (drum).

Tashoora kian ‘berbahaya’ setelah merilis album mini atau extended play (EP) bertajuk Ruang yang direkam secara live. Saking penasaran, P! pun langsung mengundang Tashoora ke kantor Provoke! untuk ngobrolin hal seru di balik perjalanan musik Tashoora. Simak langsung yuk!

P!: Ngomongin soal aliran musik, Tashoora lebih suka dikenal sebagai band bergenre apa sih dan kenapa memilih genre tersebut? Bagaimana cara kalian akhirnya menemukan ramuan musik itu?

Danu: Kalau ngomongin genre kami sendiri nggak akan mendefinisikan itu sebagai satu genre. Tapi untuk klasifikasi, kemarin waktu kami masukin ke Spotify kami masukinnya ke pop atau pop alternatif atau folk alternatif. Kalau dari kami sendiri sih sebenernya nggak menamai genrenya.

Untuk cara menemukan ramuan musiknya, kami dari awal bertemu nggak langsung menemukan identitas seperti ini dan melalui proses panjang. Kami dari awal juga nggak punya patokan mau main musik yang seperti apa, coba aja dulu, apalagi instrumennya kan termasuk nggak biasa ya, jadi kalau mau kami masukkin dalam satu klasifikasi musik tertentu kayaknya jadi nggak bebas dan malah membatasi kami. Kami lebih ke kayak bagusnya gimana dan nggak usah bingung ini genrenya apa. Awalnya 2016 konsep kami seperti itu, bahkan untuk beberapa lagu tertentu juga sebenernya awalnya nggak jadi seperti ini langsung, ada yang prosesnya panjang.

Bahkan ada lagu yang judulnya "Tatap" sampai ada 4 versi, itu dari awal sampai sekarang kalau didengerin udah beda banget karena kami akhirnya menemukan formula paling efektif, untuk biola gimana, untuk akordion gimana, untuk box seksion gimana, untuk perkusi gimana. Awalnya nggak kepikiran sama sekali mau seperti apa, tapi karena pemikiran dari banyak kepala ini jadinya seperti yang sekarang.

P!: Selama proses pembuatan lagu, proses kreatif Tashoora ini seperti apa? Bagaimana cara kalian meracik sebuah lagu? Lebih banyak jamming atau masing-masing punya materi lagu yang kemudian dirembuk bareng-bareng?

Dita: Jadi awalnya kebetulan kalau di Tashoora ini Danang dan Gusti biasanya yang bikin lirik di Tashoora. Kami melihat ada peristiwa apa sih. Lagu-lagu Tashoora tuh sebenernya merekam peristiwa yang ada.

Salah satu contoh lagu "Nista". Waktu itu di tahun 2017 ada peristiwa di Jakarta yang menimpa ibu Hindun dan Robaniah di mana saat itu mereka berdua meninggal kemudian tidak disolatkan oleh penduduk sekitar karena keluarga mereka dianggap sebagai pembela penista agama.

Dari situlah kami mendapatkan inspirasi untuk dijadikan lagu. Setelah liriknya jadi, kami aransemen musiknya bersama di studio. Rata-rata emang kami bikin lagu dari peristiwa-peristiwa yang ada.

P!: Tashoora kan dipengaruhi oleh musik dari kawasan Eropa Timur dan Mongol. Kalau untuk influence band kalian siapa aja sih dan seberapa besar pengaruhnya untuk Tashoora?

Gusti: Dulu awalnya memang kami memulai proyek ini dengan banyak referensi. Seperti yang disebutkan tadi kami terinspirasi musik Mongol dan Eropa Timur. Seberapa besar influence nya, kami nggak bisa menakar itu sejauh mana karena itu ada di bawah sadar kami. Tapi memang mungkin beberapa melodi atau referensi sound-nya ada yang kami terapkan di musiknya Tashoora.

P!: Tashoora kan punya latar belakang musik beragam pada masing-masing personel. Gimana sih cara kalian menentukan atau meleburkan arah, visi, maupun ego?

Mahesa: Sebenernya kalau menyatukan semua ini kuncinya di Tashoora adalah workshop, baik di studio maupun panggung. Jadi kami bener-bener, kayak tadi Mbak Dita bilang, ada satu peristiwa, Danang sama Gusti ngasih satu pemantik ke kami, ada ini loh, dari situ kami bener-bener workshop.

Di situ kami bener-bener mulai workshop, dari jamming untuk musiknya, terus Danu ngisi biola seperti apa, Gusti bassnya seperti apa, Danang, Sasi ngisinya seperti apa, gitarnya mbak Dita seperti apa, kami saling memberi feed back. Ini enaknya gini nih, kalau ada yang nggak nyaman kami komunikasikan, seperti itulah kami di studio.

Kalau di panggung kami rekam, jadi kami main lalu kami rekam secara live, kami dengerin lalu evaluasi. Oh ternyata kalau gini kurang enak, kalau gitu lebih enak. Bener-bener dari referensi kami yang beda-beda, kami satukan di studio terus kami praktekan di panggung, kami rekam, terus kami evaluasi.

tashoora dokumentasi provoke radit
via Provoke Magazine/Radit

P!: Selama ini Tashoora sangat memperhatikan penampilan dan memilih pakaian bergaya boho. Kenapa memilih tema pakaian ini dan apakah kalian punya tujuan/maksud tersendiri terkait soal busana panggung ini? Apakah Tashoora akan terus tampil dengan gaya ini atau ada kemungkinan untuk berganti di kemudian hari?

Gusti: Sebenernya awalnya kami nggak menentukan untuk pakai boho. Cuma memang pada saat itu, Danang lagi seneng bereksperimen pakai baju yang kami nggak tau apa style-nya. Terus ada satu temen yang bilang, "Gaya lo boho banget." Terus jadilah gaya itu dipakai ke band ini.

Cuma setelah dikulik, ternyata spiritnya bohemian itu mirip dengan Tashoora, kan anti kemapanan sosial, ada gebrakan di dalamnya. Jadi selain secara tampilan, filosofinya kami pakai juga.

Danang: Tapi kalau mau diperhatikan lebih dalam lagi, sebenernta baju yang kami pakai ini nggak cuma untuk di panggung, sehari-hari emang kami kayak gini.

P!: Tashoora adalah band yang sangat memperhatikan setiap detail penampilan, seperti logo, busana, posisi personel yg sejajar di panggung, instrumen berwarna merah. Apakah ini ada makna khusus dan seberapa penting sih penampilan visual di panggung bagi Tashoora?

Dita: Penampilan emang sehari-hari kami seperti ini. Terus kalau untuk penampilan di panggung, kami ngikutin aja, terkadang kami pengen eksplor juga, panggung ini bisa diapain sih. Ketika kami merasa nyaman main di panggung otomatis energi yang akan kami sampaikan ke penonton kami harap mereka bisa mendapat energi yang sama. Kalau kami bisa maksimal ketika bermusik di atas panggung, kami harap temen-temen bisa menangkap energi yang kami bawakan.

Pernah ada satu acara kami main ada posisi beberapa personel di atas panggung, sisanya di bawah, tujuannya biar bisa lebih dapet feel-nya. Kalau untuk alat musik, kebetulan jauh sebelum Tashoora terbentuk alat-alat kami nggak sengaja udah berwarna merah. Gusti punya bass yang warnanya merah, akordion saya sudah dari sananya berwarna merah, Danu juga punya biola yang warnanya merah, dia juga produksi biola sendiri dan suka ngecat biola sendiri, dan ternyata emang merah juga. Yaudah kebetulan kami punya preferensi yang sama dalam memilih instrumen jadi kami lanjutkan aja. Kami harapkan juga karena warna merah itu menyala, kami harap spiritnya tertular ke teman-teman supaya lebih membara.

P!: Bisa diceritakan gimana proses kalian bisa bekerja sama dengan Juni Records?

Danang: September 2018 kami bikin timeline sambil mencicil recording. Waktu itu udah rekaman satu lagu. Ternyata memang yang kami rasakan kami mau merilis EP Live jadi rekaman secara live. Terkait dengan kerja sama dengan label, Juni Records bukan satu-satunya yang datang waktu itu. Cuma, sampai di acara "Ruang Pertama Tatap Muka" tanggal 2 Oktober, hanya Juni Records yang datang. Tapi ya kami bikin acara itu dengan rencana akan merilis sendiri semuanya.

Jadi justru ketika kami bikin acara, temen-temen yang pernah ngajak kami ngobrol, itu kami undang semua, kebetulan cuma Juni Records yang dateng. Yaudah, kira-kira dua minggu setelah acara, dengan posisi kami lagi mixing mastering album yang rencananya kami rilis sendiri itu, ada tawaran dari Juni Records untuk kerja sama. Jadi sebutannya itu Co-Release, bukan kami di bawah mereka langsung.

Makanya di album itu ada Degup Detak Records dan Juni Records yang bekerja sama. Kebetulan aja sebenernya. Kalau mau dilihat lagi, sejak bulan September 2018, kami udah punya rencana 2019 akan gimana sih, jadi tanpa adanya Juni Records atau siapapun yang membantu kami, sebenernya sudah ada rencana. Kebetulan di acara Ruang Pertama Tatap Muka, Juni Records datang dan mereka tertarik untuk bekerja sama.

P!: Ngomongin soal musik, tentu nggak bisa lepas dari pendengar dan fans. Gimana pandangan Tashoora terhadap para penikmat musik kalian? Bagaimana cara kalian untuk menjalin relasi dengan fans?

Sasi: Bagi kami, fans adalah satu bagian yang terpenting bagi kami karena kami nggak akan bisa apa-apa, kami nggak akan mendapat bantuan tanpa fans atau teman-teman Tashoora. Kalau bentuk interaksi yang kami lakukan, sampai saat ini kami selalu update apa yang akan Tashoora kerjakan kepada teman-teman lewat media sosial, chatting, segala macam. Misalkan, besok kami mau main di sini, kami selalu mengabarkan ke temen-temen yang memang intens dukung kami dan menikmati musik Tashoora.

P!: Apa cita-cita atau keinginan terbesar yang pengen banget diwujudkan bersama Tashoora?

Danu: Yang pertama pasti kami pengen karya kami didenger sebanyak-banyaknya orang, seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia, itu yang paling penting. Kalau kami manggung itu sebenernya jadi pengalaman pribadi yang nggak bisa dilupakan, mau main di manapun, ratingnya besar atau kecil, itu bukti nyata kalau kami bisa menyampaikan musik kami secara langsung.

Kalau lewat portal digital kan kami nggak tau siapa yang dengerin. Kalau manggung kan misinya jadi terlihat, jadi Tashoora nggak sekadar main musik. Tapi lewat lirik, penampilan, tata panggung, itu ada sesuatu yang bisa kami sampaikan ke penonton dan kalau bisa seluas-luasnya. Karena kalau manggung itu kan kami nggak terbatas oleh ruang dan waktu, lebih universal semua orang bisa menikmati.

Dita: Yang paling penting juga pesan yang kami bawa dari lagu kami, kami pengen sebanyak-banyaknya orang bisa sama-sama mendengarkan, karena pesan-pesan dari lagu-lagu yang kami bawa itu sebenarnya peristiwa yang ada di depan mata tapi mungkin tabu untuk dibicarakan atau banyak orang yang sebenarnya tahu tapi pura-pura tidak tahu, atau pura-pura tidak mau denger, atau pura-pura tidak mau peduli sama isu yang ada. Dari sini kami berharap yuk kami sama-sama buka mata. Semoga bisa banyak yang denger dari sini.

P!: Di tahun 2019 Tashoora bakal ngerjain apa atau bakal merilis LP?

Gusti: Pastinya EP Ruang bakal ada kelanjutannya di tahun 2019, tunggu yah. Kami harap juga bisa ketemu temen-temen di luar Pulau Jawa biar kesentuh langsung jadi lebih mantep.

P!: Ada pesan-pesan buat temen-temen yang merintis karier di dunia musik?

Danang: Hajar Terus.

photo header via Tashoora

Komentar