music mental health

Dan hanya 19% menyatakan industri musik menyediakan kondisi kerja yang sehat

 

Sebuah penelitian baru saja dilakukan oleh Record Union, sebuah platform distribusi digital Swedia, menyatakan bahwa sekitar 73% musisi mengalami masalah kesehatan mental. Dan hanya 19% musisi merasa bahwa industri musik menyediakan kondisi kerja yang sehat.

Platform ini melakukan survei kepada sekitar 1.500 musisi di awal tahun ini. Survei ini juga menemukan bahwa kurang dari 40% musisi mencari perawatan profesional, lebih dari 50% menyatakan mereka mencari jalan keluar seperti alkohol dan penggunaan narkoba untuk mengatasi masalah kesehatan mental ini.

Survei ini mencatat depresi dan kecemasan berada di urutan pertama sebagai masalah kesehatan mental yang dialami para peserta survei. Selain itu, panic attack juga menjadi salah satu masalah kesehatan mental yang banyak disebut oleh peserta.

"Studi kami memberitahu bahwa ada sesuatu yang perlu diubah," ujar Johan Svanberg, CEO Record Union.

"Sudah waktunya untuk menempatkan kondisi kesehatan mental artis kita dalam agenda, sebelum arus dan kesuksesan komersial. Kita sebagai industri harus sadar dan bertanya pada diri sendiri: 'Apa tanggung jawab kita dalam hal ini dan apa yang dapat kita lakukan untuk menciptakan iklim musik yang lebih sehat?'," tambahnya.

Isu kesehatan mental menjadi salah satu isu penting belakangan ini. Beberapa catatan di masa lampau seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua untuk menyadari dan memperbaiki kondisi industri terkait hal ini. Seperti misalnya kematian dari Chris Cornell dari Soundgarden, Avicii, Chester Bennington dari Linkin Park, Keith Flint dari The Prodigy's, dan masih banyak lagi.

Di sisi lain, ada beberapa musisi yang membicarakan hal ini secara terbuka. Seperti yang dilakukan oleh Shirley Manson, vokalis Garbage dan James Blake. Keduanya bicara secara terbuka bahwa mereka tengah berupaya melawan dan menyembuhkan penyakit mental serta pikiran untuk bunuh diri. Ariana Grande pun menggunakan ketenarannya untuk mendorong penggemarnya mencari perawatan profesional untuk kesehatan mental yang dialami.

Lalu bagaimana dengan musisi Indonesia?

Isu kesehatan mental pun saat ini mulai menjadi perhatian para musisi. Banyak musisi mulai banyak berbicara soal kesehatan mental mereka melalui karya yang mereka buat.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Kunto Aji lewat album keduanya yang bertajuk "Mantra Mantra". Secara terang-terangan, Aji menceritakan proses pembuatan lagu ini yang melalui proses panjang hingga menemui psikolog serta memasukkan frekuensi 396Hz dalam lagu "Rehat".

"Ini salah satu bagian dari riset saya sih tentang solfeggio frequencies yang sering dipake sama teman-teman di ESQ yang fungsinya banyak terutama buat kesehatan mental, dan saya coba masukin di sebuah lagu pop. Ini mungkin baru ya buat sedikit orang. Buat saya ini penting banget." (Dikutip dari wawancara Provoke! dengan Kunto Aji untuk Majalah edisi 143)

Dengarkan "Mantra Mantra" di bawah ini:

Kunto Aji bukanlah satu-satunya yang memulai hal ini. Hindia, proyek solo Baskara Putra (vokalis .feast). Pada single terbarunya yang berjudul "Secukupnya", Hindia pun menggarisbawahi perihal kegagalan dan emosi negatif yang dialami adalah lumrah terjadi. Semua terjadi untuk dirasa, memikirkannya tidak akan memberikan jalan keluar. "Jika sedih maka menangislah, namun beri tenggat waktu untuk diri kamu sendiri," tulisanya.

Dengarkan "Secukupnya" di bawah ini:

Musik mungkin menjadi salah satu cara menyebarkan pemahaman terkait isu kesehatan mental ini. Melalui karya mampu menarik perhatian pendengar untuk mulai mencari tahu dan kemudian turut andil peduli. Karena isu kesehatan mental ini pun menjadi tanggung jawab bersama.

 

via Consequence of Sound, Header: Brott Music Festival

Komentar