olski foto 3637

Enjoy!

Bukan rahasia kalau Olski semakin mencuri hati para pecinta musik. Lagu-lagu yang ditawarkan Febrina Claudy (Vocal, Kazoo), Dicki Mahardika (Gitar, Gitalele, Ukulele), serta Shohih Febriansyah (Toy Keyboard, Glockenspiel, Pianika) memang punya daya pikat yang mewakili perasaan banyak orang. So, di momen yang menyenangkan, Provoke! pun berkesempatan untuk mengenal Olski secara lebih mendalam. Biar lo nggak penasaran, langsung aja yuk simak!

Halo Olski, sekarang lagi sibuk apa nih?

Dicki: Alhamdulillah kabar baik ya. Kemarin kami habis bikin secret gigs. Untuk terdekat paling manggung-manggung aja karena belum ada hal-hal yang kami persiapkan. Mungkin kami mempersiapkan album kedua untuk tahun depan. Sama mungkin kami mau rilis album live karena kemarin kami waktu bulan Februari habis bikin konser Olski sama orkestra, namanya Olskestra. Rencananya kami mau merilisnya sekitar bulan September pas cassette store day. Bisa jadi kami akan merilis dalam format kaset dan digital.

Sedikit flashback, boleh cerita awal terbentuknya Olski? Kenapa sih memilih pakai nama Olski?

Shohih: Dulu aku sama mas Dicki satu komunitas di salah satu kampus di Jogja. Kami ketemu di stand up comedy, sama vokalis yang lama juga. Tapi terus kami tertarik main musik dan bikin lagu. Awalnya sih cuma berdua, mas Dicki sama Oliv, vokalis yang lama. Main pertama grogi banget. Terus waktu manggung kedua kami di acara stand up comedy udah bertiga. Lalu pemilihan nama Olski karena akronim aja, Oliv Sobeh Dicki. Sesimpel itu aja, sama kayak musik kami.

Gimana sih proses kreatif dalam pembuatan album "In The Wood"?

Dicki: In The Wood sebenernya lebih banyak bercerita tentang hal-hal di sekitar sih, kami nggak ada treatment khusus untuk itu. Kebanyakan cerita-cerita dari teman terus saya translate jadi lagu. Kalau kata teman-teman, Olski itu secara lirik memang sederhana, tidak dilebih-lebihkan, tidak hiperbolis. Jadi memang kami mengambil kalimat, kata-kata, dan hal-hal yang ada di sekitar kami. Kalau proses kreatifnya, biasanya saya atau vokalis bikin lirik, atau kami bikin lirik bareng-bareng, terus cari nadanya, kami bawa ke studio, kami rembuk aransemen bareng. Baru kalau udah fix kami tentukan. Tapi biasanya kami panggungkan dulu sebelum kami rekam karena hal yang membuat kami lebih percaya diri dalam membuat album itu adalah respon teman-teman. Waktu itu juga kami bikin lagu pertama, ternyata respon teman-teman positif, begitu seterusnya. Terus ya kami coba bikin lagu demi lagu dan ternyata semakin banyak yang suka. Sebenernya tiga lagu pertama itu pakai Bahasa Inggris, tapi saat kami bikin lagu Berbahasa Indonesia, responnya lebih bagus. Jadi memang kami tidak membatasi apapun yang ada di dalam kami dan memberikan apapun yang kami mampu. Kami tidak akan berusaha menjadi orang lain. Saat responnya bagus, akhirnya tahun 2017 kami rilis single pertama.

Shohih: Waktu bikin lagu "Rindu" sama mas Dicki, kami awalnya ngerasa lagu itu nggak cocok buat Olski. Akhirnya setelah ganti vokalis bareng Dea, akhirnya kami coba di panggung dan ternyata responnya bagus banget. Padahal awalnya kami nggak percaya diri. Ini dirilis sendiri aja apa gimana?

Dea: Karena mungkin lagunya juga beda dari lagu Olski yang lain yang lebih ceria. Kalau "Rindu" kan agak mendayu.

Shohih: Ya akhirnya setelah kami tampilkan bareng Dea, lagu itu banyak yang suka, dan akhirnya kami masukkan ke album.

Dicki: Apalagi setelah "Rindu" kami rilis sebagai single ketiga, ternyata sampai sekarang lagu itu jadi lagu yang paling banyak di-play di Spotify. Jadi, memang kami nggak menyangka. Hal-hal yang terjadi di Olski itu beyond the expectation, dan itu membuat kami bertahan untuk terus berkarya, pasti akan ada hal menarik lainnya yang bisa kami dapatkan lagi.

49933704 617253435401070 2613442040928179843 n
via firdaus.akmal.50

Mana sih yang lebih susah, bikin lagu pakai Bahasa Inggris atau pakai Bahasa Indonesia?

Dicki: Kalau saya, setelah mencoba-coba ternyata memang lebih susah Bahasa Inggris.

Dea: Kebetulan lagu-lagu Olski yang Bahasa Inggris itu yang menciptakan adalah vokalis Olski yang pertama dan memang jurusannya Sastra Inggris. Jadi perbendaharaan katanya lebih banyak.

Dicki: Sebenernya ada beberapa lagu Bahasa Inggris yang saya buat juga, tapi saya nggak percaya diri. Tapi apapun yang dibuat kami diskusi dulu.

Yang terbaru, Olski merilis single berjudul "Terang", ceritain dong inspirasinya dari mana?

Dicki: "Terang" itu kebetulan saya yang bikin. Kalau inspirasinya dari orang tua karena waktu itu saya merasakan di usia saya yang sekarang ini, 32 tahun, saya merasa kangen sama orang tua. Jadi biasanya kalau waktu kecil kan kita sering malu kalau diejek 'anak mama', jadi kita kayak mencoba untuk mandiri. Cuma, saya ini semakin bertambah dewasa kok saya malah nggak pengen jauh dari orang tua. Saya juga kan anak rantau nih, jadi pengen ketemu orang tua. Apalagi waktu akan terus berlalu, kita nggak akan selamanya bersama dengan orang tua. Jadi bagi saya, lagu itu adalah ungkapan terima kasih kami kepada orang tua kami yang selama ini sudah merawat kami sampai kami menjadi seperti ini.

Dea: Dan selama kalian masih punya waktu, jangan lupa buat menghabiskan waktu sama orang tua.

Dicki: Beberapa teman yang mendengarkan lagu "Terang" juga kayak terwakili. "Terang" juga termasuk lagu yang responnya di luar dugaan. Ada beberapa yang katanya nangis waktu denger lagu itu, ada juga yang jadi inget orang tua. Jadi itu yang membuat kami senang karena bisa mewakili mereka.

Dari sekian banyak lagu yang udah dibuat, mana sih yang paling favorit?

Dicki: Sebenernya saya suka "Titik Dua & Bintang", tapi saat kemarin bikin "Terang", saya jadi suka "Terang" karena sisi mellow saya terwakili.

Dea: Kalau yang paling berkesan sebenernya ada satu lagu baru, belum pernah kami rilis. Jadi waktu itu pas lagunya dibawa ke studio, terus pas Mas Dicki main gitarnya, baru nyanyiin lirik pertama aku udah nangis. Lagunya tentang orang tua, kalau judulnya masih rahasia. Terus kalau lagu yang paling aku suka, pas pertama kali aku diajak jadi vokali Olski, didengerin semua lagu Olski, selain lagu "Titik Dua & Bintang", lagu yang paling aku suka adalah "Dragonflies Under My Feet". Ini belum jadi single tapi lagu ini menurutku lagunya enak didengerin, langsung terbayang, tergambar gitu.

Shohih: Kalau yang paling bagus memang "Dragonflies Under My Feet", maksudnya dari aransemen, perjuangannya yang sampai jam 2 dinihari utak-atik cello. Lagu itu pun jadi yang paling powerful karena dinamiknya enak banget. Tapi kalau yang mewakili sih, "Datang Bulan" karena relate dan karena saya bekerja di siang dan malam hari.

60772399 652230895290610 4475978496472550950 n
via olskitty

Apa sih lagu yang paling menantang buat dibawain live?

Dicki: Paling menantang sih "Kancilen". Lagu "Kancilen" itu hampir sama kayak "Dragonflies Under My Feet", jadi lagunya itu mellow. Lagu itu paling lama bagi saya untuk take karena memang saya ini kan tidak ada basic musisi, jadi main gitar juga seadanya. Jadi mungkin itu yang mendasari Olski adalah band sederhana. "Kancilen" itu kami main petikan dan kami harus bawain emosi. Kami coba membayangkan apa yang ingin diceritakan di lagu itu untuk take. Liriknya juga lama dibikinnya, tapi seru sih.

Dari perjalanan awal sampai sekarang, Olski pernah nggak sih sampai berantem gitu?

Shohih: Berantem sih sering karena kami juga ganti vokalis sampai empat kali, itu pasti ada perselisihan. Hahahaha.

Dicki: Cuma kami sudah tahu porsi kami masing-masing, siapa yang harus seperti ini. Mungkin saya yang terlalu tegas, lalu Sobeh yang mendinginkan. Biasanya kami juga ada momen untuk ngobrol bareng, jadi kayak kami makan pizza bareng, ini gimana, ke depannya gimana. Karena pada akhirnya kami tidak hanya bertiga. Sobeh udah berkeluarga, yang bantuin kami juga banyak banget.

Dea: Bahkan sampai saat ini pun masih berhubungan baik sama vokalis-vokalis yang lama.

Dicki: Kami juga kemarin waktu secret gigs juga masih kolaborasi bareng mereka. Jadi memang mungkin ada ego, tapi apa-apapun kami harus diobrolin di depan. Karena kami juga udah mulai berpikir gimana caranya ini tidak sekadar senang-senang tapi bisa menguntungkan untuk banyak orang.

Apa siasat khusus dari Olski supaya tetap bisa eksis dan menarik perhatian?

Dicki: Kami bikin hal-hal yang awalnya tidak mungkin dilakukan, tapi akhirnya ternyata kami coba untuk melewati batas itu. Kayak kemarin kami memadukan antara Olski dan orkestra, terus kami bikin secret gigs. Jadi kami mencoba merealisasikan ide kami yang masuk akal. Ke depannya mungkin kami akan membuat konser yang beda lagi dari yang biasanya.

Shohih: Sebenernya continue sih dan kami mencoba beda juga. Isu itu beredar sangat banyak, media sosial itu juga kan gede banget. Kami berkelanjutan bikin orkestra, tiba-tiba dua bulan selanjutnya kami bikin show lagi. Nah kayak gitu sebenernya terobosan yang harus dibuat sebuah band agar tetap eksis, minimal dilihat lah. Sekarang ini kami bikin isu baru, misalnya kami akan merilis orkestra dalam bentuk digital. Nah itu sebenernya itu isu yang harus dibuat sebuah band supaya tetap kelihatan. Contoh Kunto Aji lah, dia bikin "Rehat" dalam berbagai isu.

Dicki: Seru-seruan aja sih, yang terpenting adalah bagaimana caranya supaya semua yang kami lakukan bisa bikin kami tetep senang.

Ada nggak pesan buat teman-teman musisi supaya bisa awet dan semangat berkarya?

Dicki: Kalau dari saya sih, terus berjuang dan hargai karyamu sendiri. Karena saat kamu bisa menghargai karyamu maka orang lain pun juga akan menghargainya. Itulah yang kami lakukan, kami mencoba sugesti bahwa lagu kami bagus, dan ternyata banyak apresiasi yang muncul.

Dea: Buatlah apa yang kalian suka, apa yang membuat kalian bahagia. Jadi, do what you love.

Shohih: Kalau aku yang penting sih menggodok isu. Kita harus lebih aware karena opini yang kita buat di masyarakat akan berimbas banyak sampai waktu yang berkelanjutan. Contoh orkestra itu sampai sekarang ada beberapa yang masih ngobrolin, mungkin secret gigs tiga bulan ke depan masih ada yang ngobrolin. Itu yang harus kami jaga terus untuk membuat kami tetap ada sampai kapanpun.

photo header via Olski

Komentar