rubah di selatan profile 346367

'Ketika semua ingin terlihat lebih, kami ingin lebih terasa.’

Rubah di Selatan adalah sebuah identitas untuk Mallinda, Gilang, Adnan, dan Ronie yang memainkan musik dengan bahan bakar tradisi, kebudayaan, serta kearifan lokal di Indonesia, yang tergabung dalam sebuah kelompok musik atau band. Terbentuk pada 20 Agustus 2015, Rubah di Selatan tak pernah berhenti memukau dari panggung ke panggung, terutama dengan senjata andalannya yang menggabungkan beberapa instrumen tradisi seperti Udupot, Didgeridoo, Karinding, Saluang, dan Fujara, dengan instrumen modern. Kini berbekal album baru berjudul Anthera, Rubah di Selatan semakin mantap untuk melanjutkan perjalanannya. Nah, P! berkesempatan untuk ngobrol dengan Ronie mengenai hal-hal seru yang terjadi dalam perjalan Rubah di Selatan. Langsung aja yuk simak!

P!: Selamat ya, akhirnya Rubah di Selatan pecah telur dengan merilis album perdana Anthera. Gimana perasannya melihat antusiasme para pecinta musik?

Ronie: Yang pertama, terima kasih banyak untuk semua yang sudah support, mendoakan, menunggu Rubah di Selatan untuk merilis album. Akhirnya kami sah menjadi musisi! Hahaha. Saya inget banget ketika tiga tahun yang lalu kami main di Bandung dan ketemu dengan teman-teman musisi, mereka pada tanya, "Album kalian mana nih? Udah main sampai di Bandung loh, acara besar lagi." Kami saat itu baru bisa jawab, "Oh iya yah baru proses nih." Terus ada musisi senior bilang, "Kalau kalian belum punya album, masih magang jadi musisi."

Itu jadi motivasi kami sih. Di luar itu kami nggak semata pengen disebut musisi atau seniman, tapi lebih karena tanggung jawab kami di sini untuk berkumpul membuat sesuatu yang bermanfaat. Jadi, album adalah tanggung jawab yang besar untuk kami. Kalau ekspektasi dan segala macam, itu sebenarnya hasil dari apa yang sudah kami kerjakan. Kalau sekarang penjualan dan responnya baik, ya kami berterima kasih kepada orang-orang yang sudah mengapresiasi, dan hal itu benar-benar di luar ekspektasi kami.

Ekspektasinya mungkin begini, album itu sebagai media agar kami bisa berkomunikasi dengan kawan-kawan yang jauh. Kedua, bagaimana album ini semoga bisa bermanfaat untuk semua orang. Lalu ketika kawan-kawan menerimanya dengan berbagai cara, itu sah-sah aja. Maksudnya, kami kan merilis album dengan berbagai media, mulai dari digital dan fisik, tapi orang mungkin ada juga yang download di YouTube atau apapun yang gratis dan itu juga kami hargai. Pastinya kami bersyukur banget karena akhirnya diberi kesempatan dan kekuatan untuk bisa menghasilkan karya dalam bentuk album.

P!: Album Anthera menceritakan tentang apa sih?

Ronie: Awalnya kami sempat bingung juga soal penamaan, apalagi album pertama kan. Jadi kami akhirnya bareng-bareng ngumpul, kami ingat-ingat lagi lagu awal yang kami buat. Nah, Anthera itu kami ambil dari salah satu single kami sekaligus lagu awal yang kami buat, yaitu "Leaving Anthera". Jadi makna dangkalnya, Anthera adalah awal dari proses kami ketika membuat lagu. Sedangkan, kalau dari filosofinya, Anthera itu melakukan proses, inspirasinya dari macapat. Kalau macapat di Jawa itu merupakan fase kehidupan orang Jawa dari lahir, kecil, dewasa, sampai remaja, tua, lalu meninggal. Nah, Anthera ini ibaratnya pucuk bunga Anthera, di mana pucuk itu lahir dari bibit yang kemudian tumbuh besar sampai akhirnya lepas dan terbang. Jadi, Anthera ini merupakan titik awal Rubah di Selatan dan sebagai bentuk fase perjalanan Rubah di Selatan.

P!: Ada hal spesial yang ditawarkan album Anthera untuk penikmat musik?

Ronie: Kalau dari tagline yang kami junjung sih gini, 'Ketika semua ingin terlihat lebih, kami ingin lebih terasa.' Jadi, kami mengapresiasi banget kawan-kawan band lain yang merilis produk CD dengan gila-gilaan, mulai dari boxset, artwork-nya, lalu kemasannya yang beragam, itu keren-keren banget. Kami pun dulunya juga pengen banget kayak gitu, tapi terlepas dari faktor biaya, kalau nurutin nafsu nggak ada habisnya. Tapi di saat semua orang ingin terlihat lebih, sekarang kami malah lebih ingin supaya album kami lebih terasa, bagaimana kami bisa menjual di sisi rasanya, bukan kemewahannya. Mungkin sederhana, tapi itu bener-bener mewakili makna Anthera sebagai titik awal Rubah di Selatan.

Dari warna, kami melakukan rebranding, yang biasanya gelap, sekarang kami kembali ke putih, di mana putih merupakan fase awal yang bersih. Lalu, kalau ada hiasan warna lain di cover album, itu merupakan hiasan dari proses perjalanan. Rubah di Selatan ingin menyampaikan hal-hal yang menyangkut tradisi, yang sifatnya kearifan lokal, dan itu kami sampaikan secara fresh. Saat tradisi itu dilihat sebagai hal yang kaku, kami ingin memercikkan nilai-nilai itu, walaupun cuma sedikit tapi harapannya orang bisa tersetrum lagi. Misal kami menceritakan tentang Selokan Mataram, orang jadi lebih tahu dan mendapat informasi bahwa dulu Selokan Mataram tuh bukan sekadar tempat untuk lewatnya air dan sampah, tapi punya jasa yang besar yang membuat Jogja itu subur sampai sekarang.

rubah di selatan anthera

P!: Btw, kenapa album Anthera akhirnya baru rilis empat tahun setelah Rubah di Selatan terbentuk? Bagaimana proses pembuatannya?

Ronie: Hehehe lama ya? Sebenernya karena yang bikin karya bareng-bareng, terus yang memproduksi dan manajemen adalah player-nya juga, tapi itu proses belajar juga sih, kadang timeline lewat. Hehehe. Terlepas dari itu, kami sebenernya nahan album karena ada alasan juga. Saya pernah ngomong dengan mas Wendi Putranto, saya nanya gini, "Efektifnya band untuk merilis album tuh kapan sih timeline-nya?" Lalu dia bilang, "Ron, band rilis album itu harus ada dua hal yang harus lo lihat. Yang pertama, ketika lo rilis tapi belum punya pendengar, itu percuma bro. Lo cuma menghabiskan biaya dan sayang timeline-nya. Tapi, ketika lo sudah memiliki massa yang bagus sedikit saja, lalu lo lempar album, maka lo akan selalu bisa bikin campaign atau hal-hal yang berkelanjutan. Misal album, sekarang digital udah rame, terus kita bikin video klip, pasti akan ada yang mengikuti. Tapi kalau kita belum ada massa, misal band baru terbentuk 3 bulan, lalu bulan keempat bikin album, siapa yang mau tahu? Kedua, lo bikin album ya bikin album aja, nggak usah mikirin macem-macem, termasuk pasar dan biaya produksi, karena bikin album akan menghabiskan biaya yang nggak sedikit. Jadi sekarang kembali ke tujuan lo."

Dari situlah kami bareng-bareng memutuskan untuk menahan dulu. Kami jalan dulu ke Jogja dan luar Jogja, untuk latihan dan memperkenalkan Rubah di Selatan, dengan media YouTube dan performa di panggung. Senjatanya itu dulu sambil campaign segala macem. Bersyukurnya, di perjalanan itu kami dipertemukan di titik yang nggak kami duga. Kayak kemarin kami bisa tur ke Eropa, itu kan menjadi nilai plus untuk band, orang nengok lagi ke Rubah di Selatan. Kami juga kolaborasi dengan dalang. Itu hal-hal atau strategi yang nggak pernah kami bayangkan. Jadi kami memutuskan untuk membiarkan pendengar menyebar dulu, baru setelah itu kami rilis album. Ketika kami mengeluarkan album, secara produksi kami bisa tertolong. Kemudian secara karya juga bisa lebih sampai ke pendengar karena ada tanggung jawab untuk memberikan sesuatu pada orang-orang yang sudah menunggu kami.

P!: Departemen lirik terbilang unik karena mengangkat isu seperti kearifan lokal, petuah jaman dulu, nilai-nilai tradisi, dengan budaya masa kini. Kenapa memilih tema ini dan bagaimana proses kreatifnya?

Ronie: Rubah Di Selatan secara market mungkin segmented, tapi kami nggak pernah berpikir untuk mengeksklusifkan band ini. Pada akhirnya, kembali lagi ke apa yang coba kami jalankan karena mengangkat tema-tema itu (kearifan lokal, tradisi) penting banget. Saya background-nya etnomusikologi, dan dari kecil juga hidup di wilayah yang kental tradisi, cuma semakin ke sini, untuk nguri-nguri (melestarikan) budaya itu kayak bener-bener berkurang banget. Meskipun saya pribadi juga bukan musisi yang tradisional banget, tapi apa yang kami coba informasikan itu bisa membuat kami belajar bareng-bareng. Apalagi sekarang orang nonton wayang itu susah banget untuk anak muda, termasuk saya. Jadi bagaimana supaya ada poin penting, misalnya dari cerita di wayang, yang bisa kami masukkan di karya kami.

Efeknya sih, walaupun belum banyak, minimal ya sudah lumayan. Jadi orang merasa lebih mencintai dan memiliki tradisinya lagi, walaupun dengan cara yang instan dan kekinian. Tapi paling enggak itu adalah upaya yang bagus, daripada enggak sama sekali. Proses kreatifnya, karya kan timbul dari kegelisahan senimannya. Misal salah satu personel ingin mengangkat isu tertentu, terinspirasi dari satu hal, yaudah kami duduk bareng. Jadi kami menyatukan persepsi kami masing-masing. Ada juga yang riset, seperti lagu Merapi Tak Pernah Ingkar Janji, sampai kami melakukan wawancara ke adiknya Mbah Marijan.

P!: Kalau soal musik, bagaimana proses kreatifnya?

Ronie: Kadang macem-macem, ada yang inspirasinya lirik dulu, ada yang nada dulu. Kalau yang inspirasinya nada dulu, misal ada nada ini nih, ooh ini mengarahnya ke nada Sunda atau Jawa, kadang liriknya ada yang punya makna dan ada nggak punya makna. Ada juga yang prosesnya timbul ketika check sound, ada juga yang bener-bener dikonsep. Jadi nggak ada rumusan pastinya, nggak bisa ditebak gitu, yang pasti ketika ada inspirasi, yuk kumpul yuk keburu ilang, dicatet dulu atau direkam dulu nadanya di handphone. Jadi pas ngumpul digarap bareng-bareng, sistemnya jamming juga, nyarinya bareng-bareng enaknya gimana.

rubah di selatan profile

P!: Lebih susah bikin lagu dengan lirik Bahasa Indonesia atau Inggris?

Ronie: Sebenernya konsen liriknya lebih banyak di vokalisnya kan. Kalau anak-anak kayaknya lebih mudah di Inggris, karena kalau Indonesia kan sastranya harus bener-bener kena. Tapi sekarang malah kepikiran, tantangan juga sih, di mana kami sekarang harusnya lebih memperbanyak lirik Bahasa Indonesia, karena ketika bisa didengar sampai internasional, itu menjadi kebanggaan yang luar biasa. Orang di mancanegara akhirnya bisa mengerti Bahasa Indonesia lewat lagu kami.

P!: Rubah di Selatan lebih suka dibilang mengusung genre apa?

Ronie: Setiap personel punya background musikal yang berbeda-beda dan perjalanan karya yang berbeda-beda, jadi kami justru nggak mematok genrenya. Karena kalau kita dengerin album Rubah di Selatan, walaupun katakanlah etnik atau folk, sebenernya banyak eksperimennya juga, sedikit ada progresifnya, jadi banyak banget. Kalau ditanya, ya kami akan jawab genrenya adalah Rubah di Selatan. Lalu, ketika orang punya penilaian tersendiri untuk Rubah di Selatan ya silakan aja, kami nggak pernah menyalahkan karena masing-masing punya referensi. Selama tujuannya baik untuk musik Indonesia sih nggak masalah.

P!: Apa sih lagu favorit kalian di album Anthera?

Ronie: Mungkin anak-anak sepakat "Leaving Anthera". Itu juga yang menjadi nama album kami, sekaligus tombaknya.

P!: Kalau lagu yang paling seru dan menantang saat dibawakan?

Ronie: Lagu yang paling seru dan menantang sebenarnya "Istana Duka Ria", karena di situ hampir semua personel punya porsi yang sama. Saya ada banyak porsi vokal India, main perkusi, didgeridoo, udu, dan musiknya lebih atraktif. Adnan juga main vokal eksploratif. Gilang main vokal juga. Temponya Mallinda juga susah.

P!: Ada tantangan tersendiri dalam pembuatan album Anthera?

Ronie: Bicara soal komitmen, pasti waktu sih yang jadi tantangan. Tapi kami akhirnya belajar, kalau mau bikin album, ya fokus ke album. Posisinya ini juga album pertama. Lalu, sebelum album ini lahir, kami berusaha supaya pendengar kami bukan cuma di Jogja, jadi paling tidak sudah ada satu atau dua kota lain yang tahu Rubah di Selatan juga, misalnya di Malang, atau kota-kota di Sulawesi dan Kalimantan. Tapi itu menjadi hal yang seru karena album pertama penuh dengan dinamika, kadang serba khawatir, nanti kalau udah rilis gimana. Mungkin di album kedua atau ketiga udah lebih lepas lagi.

P!: Apa aja sih hal-hal yang memengaruhi atau menjadi influence untuk album Anthera?

Ronie: Kita nggak ada influence yang terlalu mempengaruhi album ini karena itu sudah melalui proses yang panjang. Influence masing-masing personel beda, jadi menurutku ini menjadi khazanah yang menarik di album. Misal si Gilang dengan musik metal, saya lebih ke musik yang eksploratif dan bukan pop culture, Mallinda dulu pernah jadi vokalis scream, Adnan yang dangdut dan segala macem. Itu akhirnya jadi bumbu yang memengaruhi musisi dalam berkarya. Kami sebenernya lebih condong ke bagaimana album ini lahir seperti putih, murni, dan packaging-nya pun inspirasinya nggak ada dari band lain.

Influence-nya mungkin lebih ke bahan ya. Hahaha. Jadi kami ngumpulin CD banyak banget, misal nih punya Mocca kok bagus, bahannya apa ya. Kalau pakai fiber ternyata gini ya. Tapi kalau kayak branding kami nggak terpengaruh siapa-siapa, karena kami pengen album ini bener-bener beda.

P!: Di era digital, masyarakat udah bisa bebas menikmati musik dan punya pilihan beragam. Ada siasat khusus agar Rubah di Selatan tetap eksis dan menarik perhatian?

Ronie: Saya masih percaya dengan perform yah, stage to stage. Saya dapet ilmu ini sebenernya dari Mas Adam Sheila On 7. Saat ketemu sama Billy Sheehan (bassistnya Mr. Big), Mas Adam menanyakan hal yang sama, "Saya punya band di Indonesia, gimana ya supaya band saya bisa membuat orang terkesan?" Billy kemudian jawab, "Ya harus dengan cara panggung ke panggung, nggak ada yang lain." Percakapan itu terjadi jauh sebelum era digital, jadi masih era kaset. Tapi Mr.Big sudah memprediksi, apapun yang terjadi di industri musik ke depan, tetap panggung ke panggung, nggak bisa kita virtual-kan. Makanya, penting banget ketika mau lihat kualitas band tuh ya di panggung. Jadi kalau kita bicara panggung pasti ada konsep pertunjukannya, bagaimana aksi panggungnya, musikalitasnya. Karena kalau ngomongin rekaman, dulu musisi sebisa mungkin menghindari kesalahan karena bisa-bisa menghabiskan banyak pita, mengeluarkan biaya produksi yang banyak, dan capek. Kalau sekarang, sekali rekaman aja, nanti tinggal edit-edit dikit, dinaikkin pakai auto tune.

P!: Di majalah Provoke! edisi 149, kami mengangkat tema Love Is War, menurut Rubah di Selatan, hal apa yang layak diperjuangkan dalam hidup dan gimana cara memperjuangkannya?

Ronie: Kalau saya sih kemerdekaan. Merdeka itu kebebasan yang diakui. Seperti kemerdekaan berkarya, berpikir, menyuarakan apa yang kita suarakan, apa yang sedang kita kawal. Jadi kemerdekaan penting banget. Aku nggak bisa membayangkan ketika berkesenian di era sebelumnya, di mana orang harus bersembunyi saat membuat puisi, kadang sampai dipenjara. Makanya penting banget untuk memperjuangkan kemerdekaan. Caranya dengan apa yang kalian yakini, misal saya meyakini musik bisa membawa kemerdekaan, maka bagaimana caranya kita membawa musik ini sebagai roda atau jalan untuk menuju kemerdekaan, dan itu berlaku di semua bidang.

foto-foto: Dokumentasi Rubah di Selatan

Komentar