58453707 138409150551526 1431451996862713505 n

Goks!

WLA merupakan sebuah project duo dari Paulus Neo (keyboardist) dan Natasha Christalia atau Sasha (drummer) yang merupakan bagian dari komunitas Jazz Mben Senen. Nama WLA perlahan mulai mencuri perhatian setelah meluncurkan album pertama pada tanggal 9 Juli 2018 yang di dalamnya terdapat 8 karya yang dibuat berdasarkan jejak rekam pengalaman awal bermusik. Saat bertandang ke kantor P!, Neo pun langsung kami ajak untuk berbincang. Langsung aja yuk simak obrolan serunya di sini!

P!: WLA lagi sibuk apa nih?

Jadi, WLA itu sebenernya proyek berdua, aku sama Sasha. WLA itu adanya cuma sekali dalam satu tahun karena Sasha masih sibuk kuliah di Australia. Setiap setahun sekali, kami bikin sesuatu. Kami juga masih jarang main. Paling, Sasha punya waktu untuk pulang selama sebulan. Nah, selama satu bulan itu kami manfaatkan waktunya semaksimal mungkin untuk bikin karya. Di akhir bulan, kami mengadakan launching album sebagai rasa syukur karena masih bisa berkarya. Kebetulan ini diundang Provoke! juga, jadi kita main sekalian di sini.

P!: WLA udah merilis berapa album sih?

Tahun 2018, kami sudah merilis album "Susur Alur". Nah sebentar lagi kami juga mau launching album kedua.

wla whatsapp image 2019 07 01 at 12.31.12
via Provoke!

P!: Gimana sih asal usul terbentuknya WLA?

Awalnya kebetulan aku sama Sasha sering main musik bareng. Nah menjelang keberangkatan Sasha ke Australia, aku bilang ke Sasha supaya sebelum meninggalkan Jogja, minimal dia harus punya karya. Setelah itu, selama satu bulan kami proses bikin album. Soal nama WLA, itu sebenarnya nggak ada artinya karena langsung tercetus begitu saja.

P!: Apa genre yang diusung WLA?

Ngomongin genre, WLA itu memainkan musik apapun, jadi nggak terpatok oleh satu genre. Tahun lalu, kami bikin lagu yang genre-nya ballad jazz, ada juga yang renaissance. Kami juga sekarang bikin lagu yang lebih metal, ada juga yang lebih disco. Nggak ada pengotakan, cuma koridornya, aku sama Sasha belajar musik jazz. Pastinya warna musik kami sangat beragam.

P!: Kalian punya resep nggak untuk bikin lagu yang bagus?

Kami biasanya ngomongin garis besar lagunya, ini mau bikin suasana lagu yang kayak gimana, mau menyampaikan isi hati yang kayak gimana. Nah itu paling cuma 20 persen dari kami. Lalu kami ajak personel lain untuk berkolaborasi yang sesuai dengan kebutuhan kami. Ini kami lakukan supaya pihak yang kami ajak kolaborasi punya rasa memiliki terhadap lagu yang tercipta dan energinya juga jadi lebih terasa.

whatsapp image 2019 06 29 at 06.25.17 1
via Provoke!

P!: Dari sekian banyak lagu yang pernah dibuat, kalian punya lagu favorit nggak?

Semuanya favorit!

P!: Kalau yang paling menantang waktu dibawain atau waktu rekaman?

Kalau secara materi nggak ada, tapi lebih secara teknis dan mood karena Sasha di sini nggak ada drum, terus kami latihan juga harus pinjam alat. Jadi kami cuma punya ide dan keberanian untuk bikin karya. Kalau secara materi nggak ada kesulitan karena kami percaya dengan kualitas semua orang yang kami ajak bermain musik.

P!: Di era digital ini, gimana cara WLA agar tetap bisa eksis berkarya dan mencuri perhatian?

Tujuan awal WLA dibentuk itu sebenernya begini, kami bikin karya minimal untuk peninggalan untuk anak kami, kami punya cerita untuk anak kami. Kalau soal eksis, kami belum kepikiran sampai situ, karena kami juga bermusik masih sekali dalam satu tahun. Mungkin besok setelah Sasha selesai kuliahnya, karya-karya yang udah kami bikin akan kami push. Sekarang nabung dulu aja.

P!: Ada nggak misi lain WLA yang mungkin belum tercapai?

Pastinya, kami pengen orang bisa menerima dan menikmati karya kami, tapi dari sini kami menentukan dua tujuan. Sebagai composer, mungkin aku akan menciptakan lagu pop untuk diberikan ke orang lain. Satu lagi, aku bikin karya untuk menunjukkan jatidiri WLA, perkara orang mau suka atau enggak ya itu nggak masalah. Yang penting kami niatnya berkarya aja.

P!: Ada pesan dan kesan untuk mereka yang baru merintis karier sebagai musisi?

Jangan takut berkarya karena karya sama seperti anak kita sendiri. Setiap lagu kan punya nasibnya masing-masing, jadi nggak usah mikir yang aneh-aneh. Wah ini jelek, ini nggak bakal laku. Udah deh coba aja berkarya dulu. Musisi yang nggak berkarya sama aja percuma, minimal punya peninggalan untuk anak cucu di masa depan.

photo header via Instagram/paulus_neo

Komentar