foto jono terbakar rectangle 23242

Seru abish!

Jono Terbakar masih tetap bahagia, setidaknya itu yang bisa P! lihat dari auranya ketika melakukan check sound untuk acara Provoke! On Stage #3 di kantor Provoke! Yogyakarta. Emang yakin bener kalau Jono Terbakar lagi bahagia? Nih bukti otentiknya! Sebuah obrolan singkat, padat, dan nggak terlalu berbobot antara P! dan Jono Terbakar siap mengiringi hari-harimu yang penuh suka dan duka.

P!: Jono Terbakar lagi sibuk apa nih?

Ini lagi ada world tour dari Juli 2019 sampai Desember 2022, jadi tiga tahun agendanya. Kemarin dari Bandung, Jakarta, sampai Bali besok Desember. Selanjutnya tahun depan InsyaAllah bisa ke Singapura dan lain-lain. Lalu tahun depannya lagi ke Eropa dan Amerika. Tur ini dilakukan karena di Jogja jarang ngundang Jono Terbakar, jadi kami kalau nggak ada panggung ya bikin panggung sendiri.

P!: Ada rencana rilis album baru?

Sampai bulan Juni kemarin kami udah bikin lima belas album. Nah yang terdekat kami mau bikin album judulnya "English Language Learn Jono Terbakar", konsepnya nanti Bahasa Inggris semua, tapi dengan kearifan lokal. Jadi Bahasa Inggris yang harus belajar Jono Terbakar, bukan Jono Terbakar belajar Bahasa Inggris, itu rencananya jadi modal tur dunia. Ini udah mau masuk mulai studio minggu depan, paling minggu depannya lagi bakal dirilis karena proses rekaman Jono Terbakar tu nggak pernah lama.

P!: Gimana asal usul terbentuknya Jono Terbakar?

Awal mulanya tu aku punya band namanya Koala, itu band kayak MALIQ & D'Essentials, mainnya pop jazz. Terus banyak laguku yang nggak bisa masuk ke Koala, karena tema, melodi, dan lain-lainnya nggak cocok, akhirnya aku bikin proyek sendiri namanya Jono Terbakar. Nama Jono Terbakar itu sebenernya nama aliasku di Friendster yang aku pakai sampai sekarang.

P!: Jono Terbakar ini boleh dibilang mengusung genre apa sih?

Happy Mental. Ini ada ceritanya juga. Aku dari dulu terbiasa main genre. Band ku Koala tu nggak bisa main metal karena itu band pop jazz. Aku juga pernah punya band metal tapi nggak pernah bisa main dangdut karena malu. Jono Terbakar ini mencoba menantang stereotip genre. Misalnya mas Eross Candra itu kan punya Sheila On 7, tapi dia juga punya proyek lain kayak Jagostu dan lain-lain. Itu untuk mewakili egonya membuat karya dengan genre atau topik yang beragam. Nah kalau di Jono Terbakar dijadikan satu brand aja. Jadi kalau aku lagi pengen instrumental ya bikin instrumental, kalau pengen metal ya bikin metal, ada beberapa karya juga yang reggae. Jadi dalam 15 album ini macem-macem biar akunya happy, daripada aku harus terkungkung dengan satu genre lalu aku bikin proyek lain kan.

P!: Btw, kenapa 15 album tadi nggak dimasukkin ke Spotify semua?

Itu sebenernya udah masuk semua, ada sekitar 13 album yang masuk. Tapi salah satu pertimbangannya adalah orang-orang baru tuh pasti bingung kalau dengerin Jono Terbakar, sebenernya ini main lagu apa, mainin musik yang kayak gimana. Kalau sudah tiga kali denger mungkin orang baru bisa memutuskan akan suka dengan Jono Terbakar atau enggak. Akhirnya kemarin aku take down di Spotify dan tinggal menyisakan tiga album karena yang lain tuh Happy Mental alias sesukaku sendiri. Nah orang lain tuh biasanya nggak suka beberapa album, sampai ibuku juga nggak suka album yang terakhir-terakhir ini, "Kamu udah nggak niat main musik ya?"

P!: Kenapa gitu?

Karena waktu itu aku lagi seneng seni rupa murni yang abstrak dan lain-lain. Jadi ketika itu dituangkan ke lagu kan orang nggak paham, tapi aku seneng.

whatsapp image 2019 06 28 at 21.12.41
via Provoke!

P!: Jono Terbakar punya resep khusus nggak buat bikin lagu yang enak?

Kalau lagu yang bagus nggak ada resep. Proses pembuatan lagu di Jono Terbakar tu biasanya lirik tu ada di studio, setidaknya itu terjadi dalam tiga tahun terakhir. Jadi ketika aku udah berhadapan dengan mic itu, mau nggak mau kan aku harus nyanyi, kan udah bayar studio mosok aku nggak nyanyi? Tapi di album-album awal sekitar tahun 2013 sampai 2015 itu lagunya terfermentasi. Proses untuk menuju sebuah lagu direkam itu sebenernya sekitar lima tahun, antara lirik dibongkar pasang lagi, melodinya diganti-ganti, itu menghasilkan lagu-lagu yang sampai sekarang kalau orang nonton tuh pengen dengerin lagu itu lagi. Kalau yang sekarang ini sebenernya kebanyakan lebih ke eksperimen, beberapa nyantol ke orang, beberapa malah membuat orang itu takut juga.

P!: Kok bisa bikin takut?

Misalnya gini, aku punya beberapa penggemar yang emang suka banget sama aku sampai semua rilisan dan merchandise dibeli. Kemarin pas ketemu di Jakarta, dia langsung protes, "Kenapa sih mas bikin album ini?" Salah satu album tu ada yang judulnya "Sederhana". Itu isinya sembilan lagu, cuma ada satu lagu yang ada vokalnya. Dari sembilan lagu ini ada yang pop punk, ada yang pop, ada yang reggae, dan itu aku nggak main di situ. Aku cuma nyanyi dan nyuruh temen-temenku, "Main lagu kayak Ungu mau nggak?" Tiba-tiba direkam dan jadi album. Nah, ini berhubungan dengan seni kontemporer, misal ada orang dateng ke Art Jog, di sana kan kita nggak paham dan harus diskusi sama yang bikin karya: Maksudnya apa sih bikin kayak gini? Nah Indonesia tu kayaknya belum siap dengan Jono Terbakar. Makanya aku pengen tur ke Eropa dan Amerika tu untuk membuktikan bahwa sebenernya: Mungkin kalau aku lahir 30 tahun lagi di Indonesia, semua orang akan kayak gini. Jadi bikin karya nggak cuma yang 'Aku Cinta Kamu'. Semua orang paham itu, tapi kalau aku ngomong pakai Bahasa China kan belum tentu orang paham. Kenapa aku bikin dengan Bahasa China? Kan pertanyaannya gitu.

P!: Apa sih lagu favorit dari sekian banyak lagu yang pernah dibuat Jono Terbakar?

Kalau yang aku suka, tapi penonton nggak suka tu judulnya "Love Is Cinta". Lagunya cuma dua menit dan diulang-ulang, itu kesukaanku, istriku, dan anak-anakku. Orang lain cenderung nggak suka dengan lagu itu karena bagi orang lain lagu itu seperti nggak niat. Buat aku pribadi sih itu masterpiece karena aku bisa bikin lagu yang nggak jelas dan diulang-ulang aja.

P!: Ada nggak lagu yang paling menantang saat dibawakan?

Judulnya "Ziarah". Itu lagu yang aku rekam secara tidak sengaja. Saat rekaman pakai efek, aku bilang gini, "Tolong bikin supaya aku rekaman kayak di gua, jadi isinya pantulan-pantulan." Nah ketika live kan aku nggak punya efek dan cuma punya gitar aja. Emang sengaja aku bikin gitu, jadi sederhana. Untuk membuat sensasi live yang sama dengan rekaman tu sangat sulit, makanya jarang aku bawakan, karena ekspektasi orang jadi beda. Sebagai seniman tu aku pengen mendidik penonton supaya pasrah, jadi kalau mau nonton silakan, mau dengerin silakan, mau pergi silakan, mau ngobrol silakan. Aku cuma mau menawarkan ini, rekamanku beda dengan aku keseharian. Rekaman itu bisa dipoles, sedangkan di panggung tu kita nggak bisa mengulang kesalahan.

P!: Di era digital, Jono Terbakar punya siasat khusus nggak agar bisa eksis berkarya?

Aku sebenernya meminimalisir budget rekaman dan semuanya. Jono Terbakar kan mulai Juni 2019 ini udah jadi solo project, band hanya sebagai pendukung aja kalau ada yang ngundang. Itu untuk mempermudah aku supaya kalau rekaman studio bisa murah sehingga aku bisa bikin banyak karya. Ketika aku manggung juga banyak yang bisa ngundang daripada harus pakai band yang cukup mahal. Strategi ku itu mengambil teori startup yang sekarang populer, namanya MVP atau Minimum Viable Product. Jadi aku cuma butuh gitar, vokal, dan lagu-laguku. Nanti ketika berkembang, itu soal proses aja. Dengan cara ini pun aku udah bisa jalan ke studio dan tur ke mana-mana.

P!: Ada nggak pesan untuk musisi yang sedang merintis karier?

Rilislah karya secepat mungkin. Ini kritikku untuk semua musisi yang biasanya takut atau malu merilis sesuatu karena merasa belum sempurna. Padahal karya itu sebenernya bibit. Misal ini aku punya hp yang aku keluarkan dari kantong, lalu aku merasa, "Wah kok hp ku jelek, hp mu bagus?" Kan ada feedback, kita bisa tahu sebenernya karya ini bisa diapakan lagi. Beda kalau kita simpan dan cuma bilang, "Aku tu punya karya lho." Lha tapi mana? Toh karya kalau sukses ya Alhamdulillah, kalau itu gagal juga bisa jadi modal untuk sukses di kemudian hari. Orang biasanya terlalu takut, kebanyakan mikir.

P!: Gimana pendapat Jono Terbakar kalau lihat orang yang suka cover lagu?

Kalau itu sih selalu aku marahin. Kalau aku ketemu orang yang cover itu antara aku benci dan ejek. Apa to susahnya bikin lagu sendiri? Kalau kamu merasa lagumu jelek, toh belum tentu orang lain merasakan hal yang sama.

P!: Ada nggak sih harapan Jono Terbakar yang belum kesampaian?

Aku kan udah punya dua anak. Album terakhirku judulnya "Warisan". Harapanku tu karyaku ini bisa jadi warisan untuk anak-anak. Karena sampai sejauh ini aku kan nggak bisa mewariskan rumah, hal-hal duniawi. Aku cuma bisa mewariskan lagu, ada pesan, makna, dan pelajarannya di dalam lagu itu buat anak dan cucuku. Plus, harapanku sebenernya lima tahun lagi aku bisa berhenti manggung. Dengan berhenti manggung tu pendapatan Jono Terbakar sudah masuk dari merchandise, streaming, dan lain-lain. Aku tidak mau mengejar karier panggung yang lelah ini, pengen di rumah aja tapi duitnya banyak. Pengangguran berpenghasilan tinggi, itu ada di lagu yang judulnya "Yakin".

photo header via Jono Terbakar

Komentar