whatsapp image 2019 07 01 at 15.06.02

Jadi begini...

Nama Umar Haen nggak pernah berhenti mencuri perhatian sejak merilis album "Gumam Sepertiga Malam". Liriknya yang sarat akan makna kemanusiaan dan gairah masa muda menjadi warna tersendiri bagi Umar Haen. Penasaran dengan apa yang terjadi di balik musik Umar Haen, P! pun berkesempatan untuk melakukan obrolan singkat bersama si empunya lagu "Di Jogja Kita Belajar". Langsung aja simak!

P!: Umar Haen lagi sibuk apa nih?

Sekarang saya tinggal di Temanggung, kesibukan utama berkebun sama lagi mau beternak ikan.

P!: Kegiatan bermusiknya?

Masih kok, tapi nggak setiap hari. Aku ini full time farmer, part time musician. Hahahaha. Sekarang emang lagi pengen tinggal di desa sih.

P!: Belum ada rencana rilis album baru?

Ada! Setelah album pertama saya rilis November 2018 lalu, sekarang aku mau rilis satu single dan karya-karya yang belum dirilis yang akan aku masukkan ke EP. Entah mana yang mau rilis duluan, pokoknya semua bakal rilis sebelum akhir tahun. EP itu nggak ada satu tema khusus karena isinya nomor-nomor yang nggak saya masukkin ke album karena beda cerita. Setelah ini aku juga mau tur di Jawa.

P!: Ceritain dong gimana akhirnya Umar Haen bisa nyemplung ke dunia musik?

Aku memang suka musik dan udah belajar gitar sejak SMP. Waktu SMA juga udah bikin lagu buat pacar dan temen, tapi kan nggak serius. Kuliah juga main musik, tapi belum kesampaian jadi musisi. Malah dulu jadi jurnalis musik. Aku dulu nilis buat Warning Magz. Nah, pas nulis itu aku kan jadi lebih sering nonton konser, terus aku merasa, "Kayaknya aku lebih seru di atas deh daripada aku motret dan nulis. Aku pengen manggung aja lah." Ya udah akhirnya aku rilis karya pertamaku di tahun 2016.

P!: Umar Haen lebih suka dibilang menganut genre apa?

Aku terserah sih kalau genre, bagiku genre tu bukan sebuah idealisme. Aku sebagai Umar Haen kan membuat karya, nah karyaku itu lebih sering berupa pesan yang aku bungkus dengan genre. Aku bisa aja main folk hari ini, mungkin bulan depan aku rilis EP yang bisa jadi lebih rock, atau setelah itu heavy metal, dangdut, dan lain-lain karena aku nggak membatasi genre. Yang penting aku menyampaikan pesan. Lagi-lagi genre itu cuma menjadi cara.

whatsapp image 2019 06 29 at 06.25.17
via Provoke!

P!: Ada resep khusus nggak untuk membuat resep lagu yang bagus?

Waduh, bikin lagu yang bagus sih nggak tahu. Gimana ya.. Laguku paling sering lahir karena kegelisahan. Dari situ aku endapkan dulu, nggak langsung jadi lagu. Jadi waktu mau nulis lagu tu udah cepet.

P!: Apa sih lagu favorit dari sekian banyak lagu yang pernah Umar Haen ciptakan?

Sebenernya nggak ada sih karena ibaratnya lagu itu lahir dari proses dan cerita masing-masing. Cuma, "Kisah Kampungku", yang aku buat karena aku hidup dan tumbuh di kampung, itu yang masih punya tempat tersendiri lah. Ibaratnya semua lagu itu anakku, nah "Kisah Kampungku" ini punya tempat tersendiri.

P!: Kalau lagu yang paling menantang?

Ini ada satu lagu baru yang belum dirilis judulnya "Ibu, Ku Takut Jakarta". Lagu ini cukup menantang karena sebenernya aku bikin lagu yang agak susah aku mainkan sendiri. Sering aku kayak gitu, bikin lagu sendiri, kesusahan sendiri.

P!: Penasaran, Umar Haen dulu belajar musiknya secara otodidak atau les?

Otodidak. Aku dulu belajar waktu SMP kan karena ada ujian sekolah. Aku pinjem gitar punya tetangga yang udah dibuang ke gudang. Gitarnya aku ambil dan aku ganti senar piramid 12 ribu. Latihan sendiri, paling cuma diajarin dasarnya sama temen. Ya gitu-gitu aja sih.

P!: Di era digital, Umar Haen punya strategi khusus nggak biar tetep bisa eksis berkarya dan mencuri perhatian?

Hari-hari ini aku masih main media sosial. Aku juga sering bercerita di medsos, aku membagikan foto dengan cerita. Itu aja yang ku lakukan. Aku pikir orang-orang suka dengan cerita.

P!: Ada pesan dan kesan untuk orang-orang yang baru merintis karier di dunia musik?

Kalau yakin lanjutkan. Ada macam-macam sih orang bermusik itu. Ada yang emang cuma seneng-seneng, ada juga yang mau serius pengen jadi jalan hidup. Kalau serius memang harus belajar dan itu sulit. Aku sendiri masih belajar sampai sekarang.

P!: Apa sih tujuan atau misi yang belum tercapai?

Misi jangka panjangku adalah menyampaikan pesan tentang ruralisasi. Aku ingin melawan urbanisasi. Ketika hari-hari ini orang desa selalu ingin ke kota, menjadi orang kota baru dan pulang ke desa setahun sekali, aku ingin mencoba memberi narasi lain bahwa, "Ayo di desa saja bisa kok!" Makanya saya saat ini di desa dan bermusik sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan itu. Aku ingin tinggal di desa dan semoga bisa menjadi inspirasi bahwa berkarya maupun bekerja itu nggak harus ke kota kok, bisa di mana saja.

photo header via Umar Haen

Komentar