56734947 157759355229654 1459035052316390077 n

Fresh!

Musisi Yogyakarta tak pernah berhenti menebar kekaguman. Kali ini, sebuah band penuh talenta bernama Honest Pineapple hadir menyapa pencinta musik Indonesia. Honest Pineapple memiliki empat personel yang terdiri dari Karunia Agus Saputra Hidayat (vokal dan gitar), Muhammad Ananda Alifiarry (gitar), Fuad Rahardyan (drum), dan Reynaldo Daniel Silalahi atau Batak (bass). Tanpa berlama-lama, langsung aja kita kenalan sama Honest Pineapple!

P!: Ceritain dong soal awal mula terbentuknya Honest Pineapple?

Agus: Awal terbentuknya itu sekitar tahun 2017. Waktu itu aku ngajak Muhammad Ananda Alifiarry (Nanda), gitaris kami juga, untuk gabung ngeband. Lalu kami mencari drummer dan bassist, sampai akhirnya ketemu seorang bassist (sebelum Batak) dan drummernya, Fuad. Kami kemudian rutin melakukan latihan dan workshop, tapi waktu itu namanya belum Honest Pineapple. Lalu kami sempat merekam dua lagu di pertengahan tahun 2018. Cuma, setelah rekaman ada sedikit problem, yang membuat bassist kami yang sebelumnya itu tidak bisa lanjut di Honest Pineapple. Kebetulan Nanda lagi ada pertukaran pelajar dari kampusnya selama enam bulan. Akhirnya kami sempat hiatus, nggak ada produksi dan kegiatan. Nah, setelah Nanda balik di awal tahun 2019, kami lanjut gas lagi dan cari bassist, sampai kemudian bertemu yang sekarang ini, namanya Batak. Kami workshop lagi mulai Januari 2019. Sejak itu, berbekal dua lagu sebelumnya dan tambahan tiga lagu baru, kalau ditotal sampai sekarang kami sudah punya tabungan sebanyak lima lagu.

P!: Kenapa memilih nama Honest Pineapple?

Agus: Nama Honest Pineapple baru dicetuskan tahun 2019. Formasi kami yang berempat sekarang ini kan punya background yang beragam, mulai dari selera musik, gaya main musik, dan berbagai selera sosial lainnya. Tapi kami sebisa mungkin tetap jujur di sini, dalam artian ketika kami merangkum atau membuat suatu lagu pada saat workshop ya kami sejujur mungkin. Nanda yang senang dengan blues, aku yang senang pop rock, Batak yang suka fushion, Fuad suka pop jazz. Walau memang kami banyak cekcok saat workshop, tapi sebisa mungkin kami menemukan batas, untuk membuat suatu lagu dengan beragam masukan dari para personel yang memiliki berbagai background. Kenapa Pineapple? Karena menurut kami, nanas mempunyai rasa yang bermacam-macam, yang merepresentasikan kami. Pada akhirnya ketika orang menikmati nanas maka mereka akan merasakan gizi dan manfaatnya. Bisa dibilang, Honest Pineapple adalah sebuah band jujur seperti nanas.

P!: Gimana sih proses kreatif kalian dalam menciptakan lagu? Ada resep khusus nggak?

Agus: Biasanya di Honest Pineapple, ketika latihan atau workshop, pertama yang paling sering menyumbang riff awal adalah Nanda, selebihnya impromptu aja. Fuad masuk dengan beat-nya, Batak masuk dengan riff-nya. Tapi untuk lirik sebagian besar aku yang bikin, walau kadang ada pengaturan-pengaturan juga kalau menurut personel lain ada yang nggak pas. Di situlah proses penyesuaiannya. Kadang saat kami berusaha jujur dan beda pendapat itu memang nggak enak dan bikin bete, tapi besoknya kami bisa menemukan jalan tengahnya.

P!: Memang di situ letak keseruannya ya.

Agus: Penuh dengan konflik sebenernya ya. Hahaha. Tapi mau gimana lagi ya, maksudnya kami juga nggak ada music director yang satu pakem. Jadi kami semua benar-benar ikut campur di situ dan setiap personel mengeluarkan pendapatnya. Itulah yang aku pengen karena aku nggak membatasi setiap personel untuk mengeluarkan pendapatnya.

P!: Apa nih genre yang ingin diusung Honest Pineapple?

Agus: Di luar latihan, kami melakukan rapat untuk membahas segala macam hal, termasuk soal genre. Sampai akhirnya, band kami memutuskan untuk mengusung genre Indonesian Indie Rock. Pada saat rapat itu, kami saling berpendapat, kira-kira Honest Pineapple maunya seperti apa nih, referensinya apa? Kami sebutin mulai dari Barasuara, Efek Rumah Kaca, The Strokes, sampai akhirnya kami rangkum dan ketemu band rujukan kami. Dari referensi itu, akhirnya menjelaskan kalau Honest Pineapple setuju dengan Indonesian Indie Rock.

P!: Dari sekian banyak lagu yang udah dibikin, apa sih lagu favorit kalian?

Agus: Kalau aku suka lagu "Solace" karena dari lirik temanya sebenernya absurd, tapi tentang kehidupan sehari-hari. Tentang bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari yang penuh lika-liku, kadang kita nggak bisa membedakan mana yang mimpi dan kenyataan.

Nanda: "Solace" sendiri artinya pelipur lara.

Agus: "Dari" proses penciptaannya pun lagu Solace ini terbilang unik, bener-bener impromptu banget. Maksudnya, tiba-tiba semua personel masuk dan nggak ada adjustment lebih. Dari awal sampai akhir nggak ada perdebatan yang sampai panjang banget.

Nanda: Jadi proses awalnya tuh aku sempet kepikiran riff gitarnya, iseng main di studio. Tiba-tiba si Fuad masuk, lalu bass dan gitar juga masuk. Aku nggak ekpektasi lagunya bakal kayak gimana, bahkan dari riff awalnya yang katakanlah A jadi E, jadi jauh banget sebenernya. Nah, kalau lagu yang paling lama dibuat itu judulnya "Simulakra" karena dibuat hampir satu tahun, dari 2018 awal sampai 2019 awal.

P!: Apakah kalian punya strategi khusus untuk terus eksis di dunia musik?

Agus: Kalau dari segi produksi kami punya aset dan peralatan rekaman sendiri untuk menyiasati proses produksi. Kalau dari segi media, sekarang ini Spotify, iTunes, Deezer, dan YouTube sangat berperan penting. Kalau dulu kan ibaratnya konsumen yang mencari, sedangkan sekarang pelaku musiknya yang harus mencari pasarnya.

Nanda: Kalau aku sih memandang Spotify, iTunes, maupun Deezer itu memudahkan musisi untuk melakukan promosi. Jujur, pengalamanku dengan berkecimpung di dunia digital music platform itu sebenernya pendapatannya nggak seberapa, tapi itu bagus untuk promosi. Sekarang toko CD juga udah terbatas dan rilisan fisik cenderung menjadi barang koleksi untuk beberapa penggemar saja. Jadi kami tetep lebih banyak membutuhkan gigs.

Agus: Plus minus sih sebenernya. Sekarang memang promosinya mudah, tapi tantangannya adalah bagaimana kami mem-branding band ini agar bisa menarik minat pendengar, bagimana kami mengemas produk lagu yang bakal dirilis. Saat ini mungkin kami belum banyak strategi, tapi kami lebih menekankan penampilan kami saat off air, mulai dari aransemen, busana, kerapihan main, dan berbagai printilan kecil.

Nanda: Secara nggak langsung kami tuh sama-sama sibuk dengan gear kami masing-masing, dan itu menjadi salah satu keunikan yang dimiliki Honest Pineapple. Kami sebagai band pemula selalu mengutamakan peralatan kami masing-masing.

P!: Apa misi Honest Pineapple ke depan?

Agus: Kami bakal merilis single di bulan Oktober. Mini album di tahun depan. Kami juga memperbanyak konser, istilahnya cari panggung untuk mempromosikan band kami, sembari memperbaiki media sosial.

photo header via Instagram/simulakra.hp

Komentar